Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali (unsplash.com)

Berkunjung ke Semarang tanpa mampir ke Lawang Sewu itu bak makan Lumpia nggak pakai rebung. Ada yang kurang. Bangunan cagar budaya yang berdiri di jantung kota ini selalu punya daya pikat magis. Terlebih bagi siapa saja yang baru pertama kali menghirup polusi di Kota Atlas. 

Anehnya, ada sebuah perasaan unik yang biasanya terjadi tepat setelah kaki melewati gerbang keluar. Semacam ada rasa cukup yang membuat hasrat untuk balik lagi mendadak lenyap. Lawang Sewu memang elok. Tapi, bagi sebagian orang, destinasi tersebut adalah tipe tempat yang cukup dikunjungi sekali dalam seumur hidup. 

#1 Paradoks seribu pintu yang monoton

Nama Lawang Sewu yang berarti seribu pintu sangat mudah bikin penasaran. Orang-orang biasanya langsung bertanya-tanya, benarkah jumlah pintu di gedung lawas itu mencapai seribu? 

Kenyataannya, jumlah pintu di gedung itu tidak mencapai ribuan. Sialnya, sensasi bosan yang menghinggapi bisa terasa seolah-olah sudah melewati sepuluh ribu pintu. Perlu diakui, setiap jengkal lorong dan sudut ruangan memang cantik untuk dipotret.

Namun, setelah beberapa puluh menit, pemandangan yang didapat hanyalah itu-itu saja. Repetisinya luar biasa bikin jenuh. Kalau nggak punya kecintaan mendalam terhadap arsitektur kolonial, menelusuri Lawang Sewu akan terasa seperti terjebak di dalam labirin menjemukan yang nggak berujung.

Baca juga Semarang Itu Luas, tetapi yang Enak Ditinggali Cuma Banyumanik dan Tembalang, Lainnya Tidak!  

#2 Mafia parkir Lawang Sewu Semarang bikin emosi

Bagi yang baru pertama kali ke sini dengan membawa mobil, sangat disarankan untuk langsung menyerah dan memilih parkir di mal terdekat saja. Meski harus jalan kaki sedikit, tarifnya jelas karena pakai sistem per jam. Ditambah, nggak perlu adu urat. Sebab, mencoba peruntungan parkir di sekitaran Lawang Sewu adalah jalan tol menuju emosi jiwa.

Lahan parkir sangat terbatas. Kalau lagi apes, pengunjung dengan kendaraan roda empat dipaksa masuk ke gang-gang sempit di pinggir kali yang lebarnya pas-pasan. Di sinilah keajaiban dimulai. Tanpa karcis resmi dan hanya bermodal peluit, tarif parkir bisa mendadak melambung jadi Rp 15.000 sekali berhenti.

Bahkan, dalam beberapa kasus, nominalnya melonjak gila-gilaan hingga Rp25.000 dengan dalih sumbangan buat karang taruna atau uang keamanan kampung setempat. Selama urusan parkir masih dipegang preman lokal dengan aturan rimba seperti itu, rasanya mengurungkan kembali ke Lawang Sewu adalah keputusan paling bijak ketimbang kena palak.

#3 Hilangnya sensasi mistis yang dulu jadi daya jual utama Lawang Sewu

Dulu, Lawang Sewu adalah salah satu kiblat wisata horor yang paling populer. Namun, setelah renovasi besar-besaran yang membuatnya jadi rapi, bersih, dan terang benderang, nuansa angker itu menguap tanpa jejak.

Segala sudut kini terasa terlalu berkesan museum dan sangat formal. Nggak buruk dan masih artistik, memang. Hanya saja seperti terasa identitas Lawang Sewu yang sejati telah direnggut paksa atas nama pemeliharaan warisan sejarah.

Baca juga 4 Hal yang Membuat Orang Solo seperti Saya Kaget ketika Mampir ke Semarang.

#4 Ritual terjebak macet di lingkaran setan Tugu Muda Semarang

Akses menuju Lawang Sewu juga merupakan ujian kesabaran bagi wisatawan. Berdiri di titik pertemuan arus kendaraan paling sibuk di Semarang, Tugu Muda hampir nggak pernah sepi dari kemacetan yang mengular. 

Menghabiskan waktu berlama-lama hanya untuk memutar bundaran demi menuju pintu masuk adalah sebuah harga mahal yang harus dibayar pengunjung. Terlebih, pada saat akhir pekan atau masa liburan. Rasa lelah karena kepungan asap knalpot dan raungan klakson kendaraan sering kali sudah meluluhkan semangat sebelum berpetualang.

#5 Wisata hanya untuk kamera

Bermula dari citra sebuah tempat angker legendaris nan bernilai sejarah, Lawang Sewu kini beralih peran menjadi sekadar latar belakang foto untuk memperindah akun media sosial. Titik paling klasik seperti kaca patri dan lorong panjang. Spot itu sudah terlalu sering muncul di banyak akun warganet yang pernah ke sana. 

Saat ini, mengunjungi Lawang Sewu sama halnya dengan melakukan ritual wajib untuk membuktikan pernah ke Semarang. Begitu satu foto bagus didapat dan diunggah, misi dianggap selesai. Rasanya nggak ada keinginan untuk mengulang proses yang melelahkan tadi di kemudian hari.

Secara visual, Lawang Sewu memang memesona dan fotogenik. Namun, saat dijalani, ternyata bikin hati hampa. Nggak salah kalau beberapa orang berpendapat cukup sekali saja ke Lawang Sewu untuk menggugurkan kewajiban sebagai turis di Kota Lumpia. Selebihnya, biarkan potret diri di Lawang Sewu jadi foto profil saja.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Orang Semarang Malas Main ke Lawang Sewu, Lebih Milih ke Bandungan yang Jelas Adem.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version