Lamun Sumelang: Film Pendek Soal Bunuh Diri di Gunungkidul

Lamun Sumelang: Film Pendek Soal Bunuh Diri di Gunung Kidul terminal mojok.co

Di Gunungkidul terdapat sebuah mitos mengenai “pulung gantung”, yakni sebuah bola api terbang berwarna merah yang akan melintas di daerah warga. Hal ini disinyalir merupakan tanda bahwa akan ada orang yang melakukan bunuh diri di daerah tersebut. 

Per Juli 2021, Gunungkidul mencatatkan angka kematian bunuh diri sebesar 32 kali, lebih banyak dari tahun sebelumnya yang berjumlah 29 kali. Dari 2001 sampai 2017 saja, sudah ada sekitar 459 kejadian bunuh diri di Gunungkidul. Saking banyaknya, pemerintahan setempat sampai membentuk Satuan Tugas (Satgas) Berani Hidup untuk mengurangi kasus bunuh diri di daerah tersebut. 

Maraknya fenomena bunuh diri di Gunungkidul ini dipercaya oleh warga disebabkan oleh pulung gantung tadi. Lamun Sumelang (2019) garapan Ravacana Films mencoba menggambarkan realitas itu melalui film pendeknya. Disutradarai oleh Ludy Oja Prastama, film ini berhasil menyabet penghargaan Piala Maya 2019 untuk Film Cerita Pendek Terpilih. Kamu bisa menonton film pendek berdurasi 18 menit ini lewat channel YouTube Ravacana Films.

Film ini berkisah tentang Agus (Freddy Rotterdam) yang berusaha menyembuhkan anaknya yang sudah lama sakit dengan cara mencari tujuh orang tumbal, sesuai perintah dukun. Untuk mencari tumbal-tumbal tersebut, Agus kerap diam di hutan sambil menatap langit malam. Ia menunggu pulung gantung melintas. Ia menunggu mangsanya. Setelah melihat lintasan bola api itu, Agus melancarkan aksinya. Agus juga punya kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan roh, termasuk roh orang-orang yang telah dibunuhnya.

Meski “penggerak” film ini merupakan cerita mistis lokal pulung gantung tadi, Lamun Sumelang tak lupa menggambarkan bagaimana realitas masyarakat yang sebetulnya. Bahwa kemiskinan, kohesi sosial yang kurang rekat, hingga kesehatan mental, lebih berperan besar dalam menciptakan keinginan untuk bunuh diri. Korban-korban yang dijadikan Agus sebagai tumbal pun semuanya merupakan orang tua yang hidup sendirian dan kesepian. Ia telah ditinggalkan pasangan dan anak mereka.

Agus sendiri tinggal di sebuah gubuk dengan kondisi ekonomi serba kekurangan. Dalam salah satu adegan, seorang roh bertanya kenapa belalang yang ia kumpulkan tak kunjung terjual. Sementara itu, anaknya, Ningsih, menginginkan nasi untuk makan, tapi Agus tak mampu membelinya. Minimnya akses terhadap ilmu pengetahuan juga membuat Agus dan istrinya, Marni, percaya-percaya saja bahwa anak mereka akan sembuh jika syarat tujuh tumbal tersebut terpenuhi. Kegetiran sekaligus kepahitan hidup itu terasa lewat karakter Agus, Marni, dan roh-roh yang dibunuhnya.

Selain aspek cerita, kekuatan film pendek ini juga terletak pada elemen visual dan dialognya. Dengan tone muram khas film mistis, make up para rohnya yang enak dilihat, dan dialog Jawa antar karakter yang sangat membumi. Dialognya renyah dengan porsi yang pas. Apalagi ketika roh-roh tersebut saling bertengkar dan berkelakar. Ini membuat Lamun Sumelang tidak melulu menggambarkan kemuraman. Film ini juga menghibur dengan dialog soal “kehidupan dan kematian” dari para roh tersebut. 

Singkatnya, film ini berhasil memadukan cerita mistis lokal dengan isu sosial di baliknya dengan baik. Melalui film ini, saya kira kita dapat mengerti lebih dalam lagi betapa kemiskinan bisa membuat orang-orang melakukan hal-hal yang di berada di luar nalar. Ini mengingatkan saya pada abad pertengahan di mana penyakit medis justru sering dianggap bisa disembuhkan dengan cara-cara non medis. Keduanya punya persoalan yang sama: tidak adanya akses pada pendidikan dan ekonomi.

Sumber Gambar: Akun Instagram Ravacana Films

Editor: Audian Laili

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version