Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kulon Progo Nggak Cuma Punya Bandara YIA dan Pantai Glagah, tapi Juga Kopi Menoreh, Kopi yang Mengajarkan Perlawanan

Nur Anisa Budi Utami oleh Nur Anisa Budi Utami
11 Oktober 2025
A A
Kulon Progo Nggak Cuma Punya Bandara YIA dan Pantai Glagah, tapi Juga Kopi Menoreh, Kopi yang Mengajarkan Perlawanan

Kulon Progo Nggak Cuma Punya Bandara YIA dan Pantai Glagah, tapi Juga Kopi Menoreh, Kopi yang Mengajarkan Perlawanan

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau bicara tentang Kulon Progo, biasanya orang akan ingat pada Bandara YIA dan Pantai Glagah. Ya, nggak salah sih. Aku percaya setiap daerah punya caranya sendiri buat bicara. Ada yang lewat musik, ada yang lewat wisata, ada yang lewat sejarah. Tapi Kulon Progo? Ia memilih bicara lewat kopi—lebih tepatnya kopi Menoreh.

Kopi ini lahir dari tanah yang keras, dari petani yang tidak banyak gaya, dari lereng yang dingin tapi tidak penakut. Kopi yang tidak berisik mempromosikan diri, tapi pelan-pelan bikin orang bertanya: “Ini kopi dari mana? Kok karakternya berani?”

Menoreh: lereng yang menumbuhkan watak, bukan sekadar biji

Ada dua jagoan besar dari Menoreh: Robusta Menoreh dari Girimulyo & Samigaluh dan Arabika Menoreh dari Suroloyo. Kalau kamu mengira robusta selalu identik dengan pahit dan getir, kamu belum kenal Menoreh. Robusta Menoreh tubuhnya tebal, tapi tidak brutal. Ada aftertaste cokelat gelap, kadang nutty, kadang herbal, dan bersih di tenggorokan. Sementara arabika Suroloyo tidak sok-sok floral seperti kopi dataran tinggi lain yang suka memaksa jadi wangi. Karakternya dewasa: acidity lembut, aroma kayu dan rempah, tenang tapi berkesan.

Dan ini tidak muncul tiba-tiba. Menoreh memberi “madrasah” bagi kopinya: tanah kaya mineral, kabut pagi yang sering turun, pohon penaung yang menjaga kelembapan, dan kebun-kebun yang tersebar di lereng yang bikin dengkul gemetar kalau naik sedikit saja. Kopi di sini tidak tumbuh di kemudahan, tapi justru di kesabaran.

Enaknya, tapi kenapa jarang ditemukan di kafe?

Kita tahu, Yogyakarta dan kopi tidak bisa dipisahkan. Tanpa coffee shop, pemuda Sleman bisa gila, kata Prabu. Tapi, hampir jarang kita temukan kopi Menoreh di coffee shop di Jogja. Pertanyaan yang sering mampir ke kepala banyak orang: “Kalau kopi Menoreh enak, kenapa jarang ada di menu kafe-kafe Jogja?”

Jawabannya bukan soal rasa. Masalahnya ada di rantai produksi.

Dalam satu obrolan kopi bersama pelaku kopi lokal seperti Mas Fajar (Inspicoffee), Mas Ai (petani & prosesor), Mas Taufik (Toska Kahve), dan Mas Alfian Basith (home brewer/Kawan Ngopi), mereka sepakat: Kopi Menoreh kalah bukan karena rasa—tapi karena produktivitas dan konsistensi.

Masalah hulunya serius: panen merah (red cherry) masih belum jadi budaya wajib, tenaga pascapanen terbatas, fasilitas pengolahan belum merata, produksi kadang naik turun tergantung musim, kualitas belum stabil untuk memenuhi pasar besar

Baca Juga:

Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Jadi kalau kamu jarang menemukan tulisan “Menoreh beans available” di papan kafe, bukan karena peminatnya tidak ada. Tapi, karena kopinya memang belum cukup kuat diproduksi massal. Ironis? Iya. Tapi justru itu yang bikin kopi Menoreh menarik: dia belum jadi komoditas. Dia masih jadi perjuangan.

Kopi Menoreh adalah perjalanan panjang. Dimulai dari kebun yang akses jalannya kadang lebih layak disebut pendakian ringan daripada “jalan desa”. Setelah dipetik, butuh proses yang teliti: pulping, fermentasi, washing, drying, roasting, dan akhirnya diseduh.

Tapi rantainya tidak berhenti di situ. Kopi hanya bisa hidup kalau ada budaya yang menopang. Dan Menoreh—meski senyap—punya itu. Ada yang turun ke hulu mendampingi petani, ada yang membangun roastery, ada yang menjaga edukasi brewing, ada yang sekadar ngopi sambil cerita, tapi justru menciptakan ruang pertemuan. Dari situlah ekosistem kopi Menoreh tumbuh.

Anak muda dan Kopi Menoreh: perlawanan yang rasional

Kopi Menoreh hari ini mungkin belum menang di pasar nasional, tapi ia menang di hal lain: hati anak-anak mudanya. Orang mungkin menganggap tren home brewing cuma gaya-gayaan. Tapi dari sanalah muncul kesadaran baru: bahwa kopi bukan sekadar minuman, tapi kebudayaan kerja.

Dari energi anak muda lokal yang bikin acara kopi, kelas seduh, sampai bincang soal pascapanen—kopi Menoreh jadi tema yang serius tapi tetap cair. Obrolan tentang varietas, fermentasi, atau roast profile bisa dibahas sambil tetap bercanda soal kehidupan. Begitulah kopi bekerja: menghubungkan yang hulu dengan yang hilir, yang serius dengan yang santai, yang idealis dengan yang realistis.

PR Kopi Menoreh masih banyak

Tapi perjalanan kopi Menoreh belum selesai. Justru di balik semua pencapaian, masih ada pekerjaan rumah yang menunggu dijinjing bareng-bareng. Hilirisasi, misalnya, masih terseok di tengah jalan. Banyak petani yang sudah bisa menyangrai kopi, tapi berhenti di situ karena tak tahu bagaimana memasarkan produknya. Branding juga masih jadi PR. Kemasan kopi kadang masih tampak seadanya, kalah ngegas dibanding kopi-kopi kota yang modal tipografinya saja sudah bikin dompet merinding ingin belanja.

Dan soal pasar, ini lebih pelik lagi. Potensi besar, iya. Tapi konsistensi distribusi dan akses promosi masih jadi tembok yang harus ditembus pelan-pelan.

Orang kota mungkin sibuk ribut soal origin Ethiopia, Guatemala, atau Colombia. Tapi aku percaya, loyalitas rasa lahir dari kedekatan cerita. Dan kopi Menoreh punya itu. Ia tidak kompleks berlebihan, ia punya identitas.

Suatu hari, mungkin kopi Menoreh akan hadir di lebih banyak kafe di luar Jogja. Mungkin ia akan masuk pasar nasional. Mungkin ia akan ikut kompetisi kopi. Tapi buatku, hal paling penting dari kopi Menoreh bukan masa depannya—melainkan cara ia bertahan hari ini.

Karena setiap kali aku meneguk kopi dari lereng Menoreh, selalu ada rasa yang sama: sederhana, jujur, tapi penuh perlawanan. Kopi ini tidak mengejar sensasi. Ia cukup jadi dirinya sendiri. Dan itulah yang membuatnya layak dihormati.

Jadi lain kali kalau kamu ke Kulon Progo, jangan cuma cari pantai. Duduklah sebentar di kedai kecil yang menyeduh kopi Menoreh. Hirup aromanya. Seruput pelan. Dan kamu akan paham, tanah ini tidak hanya menumbuhkan kopi. Ia, tanpa sadar, menumbuhkan harapan.

Penulis: Nur Anisa Budi Utami
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kulon Progo Sepi, tapi Punya Pesona Tersendiri

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Oktober 2025 oleh

Tags: Bandara YIAbukit menorehkopi menorehkulon progoproduksi kopi di kulon progo
Nur Anisa Budi Utami

Nur Anisa Budi Utami

Guru TK yang tinggal di Kulon Progo. Suka menulis, ngopi, dan jalan-jalan.

ArtikelTerkait

Bus Efisiensi Penyelamat Warga Purwokerto yang Ingin “Terbang” dari Bandara YIA Mojok.co

Bus Efisiensi Penyelamat Warga Purwokerto yang Ingin “Terbang” dari Bandara YIA

9 Januari 2026
7 Rekomendasi Tempat Wisata Terbaik di Jogja yang Sayang Dilewatkan  

7 Rekomendasi Tempat Wisata Terbaik di Jogja yang Sayang Dilewatkan  

7 Oktober 2024
Tomira, Minimarket Milik Rakyat di Kulon Progo, Culture Shock di Tengah Perjalanan Kebumen-Jogja

Tomira, Minimarket Milik Rakyat di Kulon Progo, Culture Shock di Tengah Perjalanan Kebumen-Jogja

22 November 2024
Jalan Godean Tembus Kulon Progo- Rute Anak Tiri (Unsplash.com)

Jalan Godean Tembus Kulon Progo: Rute Anak Tiri

25 Agustus 2022
4 Rekomendasi Kuliner Kulon Progo yang Wajib Diketahui Wisatawan

4 Rekomendasi Kuliner Kulon Progo yang Wajib Diketahui Wisatawan

20 Juli 2025
7 Kelebihan dan Kekurangan Kereta Bandara YIA yang Perlu Diketahui Calon Penumpang

7 Kelebihan dan Kekurangan Kereta Bandara YIA yang Perlu Diketahui Calon Penumpang

23 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PO Bus 27 Trans, PO Bus Rute Jakarta-Malang dengan Armada Ternyaman

Punggung dan Bokong Sakit Itu Fana Kalau Sudah Merasakan Kursi Empuknya President Class 27 Trans

24 Januari 2026
Jogja Nggak Berubah Itu Bullshit! Cuma Omong Kosong Belaka! (Unsplash)

Ironi Remaja Kota Jogja: Fasih Misuh dengan Bahasa Jawa, tapi Sulit Bicara Pakai Bahasa Jawa Krama

25 Januari 2026
Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

26 Januari 2026
Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

27 Januari 2026
7 Kasta Varian FreshCare dari yang Wanginya Estetik sampai yang Baunya Paling Kuno

7 Kasta Varian FreshCare dari yang Wanginya Estetik sampai yang Baunya Paling Kuno

24 Januari 2026
4 Alasan Freezer Nugget Lebih Membingungkan daripada Kulkas Minuman di Indomaret

4 Alasan Freezer Nugget Lebih Membingungkan daripada Kulkas Minuman di Indomaret

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Album “Pamitan” Megadeth Jadi Eulogi Manis dan Tetap Agresif, Meskipun Agak Cringe
  • Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup
  • Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa
  • Sebagai “Alumni” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 
  • Memfitnah Es Gabus Berbahaya adalah Bentuk Kenikmatan Kekuasaan yang Cabul
  • Waste to Energy (WtE): Senjata Baru Danantara Melawan Darurat Sampah di Perkotaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.