Tidak semua dari kita punya privilese bisa kuliah di kampus-kampus ternama. Beberapa dari kita berakhir kuliah di kampus-kampus kurang terkenal seperti Universitas Siliwangi di Tasikmalaya. Saya yakin, ketika menyebut kampus ini, kalian akan bertanya-tanya, “di mana itu?”
Padahal, di balik keberadaannya yang jarang dibicarakan, kuliah di kampus kurang terkenal seperti ini punya beberapa kenikmatan yang mungkin sulit didapat di kampus-kampus ternama di kota-kota besar.
Biaya lebih terjangkau
Uang yang kelua untuk kuliah tidak melulu UKT yang dibayarkan. Biaya kuliah juga mencakup biaya hidup sehari-hari mahasiswa. Di kampus elit kota-kota besar, tidak hanya UKT yang kadang memberatkan, tapi juga biaya sehari-hari. Ada banyak faktor, selain biaya hidup di kota besa memang rata-rata lebih tinggi, gaya hidup mahasiswa jadi alasan lainnya.
Mahasiswa kampus elit di kota besar memungkinkan adu outfit dari ujung kaki hingga ujung kepala. Memungkinkan pula untuk mengunjungi kafe atau tempat-tempat lain yang menguras dompet. Semua itu bisa dilakukan karena aksesnya dekat dan mudah.
Berbeda ketika kuliah di Universitas Siliwangi. Tasikmalaya memang tidak pelosok-pelosok amat, tapi akses ke berbagai macam hiburan jelas berbeda dengan kota-kota besar.
Itu mengapa, tekanan untuk tampil mewah di kalangan mahasiswa minim banget. Kita nggak perlu pura-pura kaya atau adu validasi. Kalau akhir bulan uang saku menipis, ngaku bokek dan makan mi instan campur nasi itu bukan sebuah aib, melainkan wujud solidaritas. Semuanya melebur dalam kesederhanaan yang hakiki.
Mahasiswa Universitas Siliwangi Tasikmalaya mendapat banyak pelajaran tidak langsung
Selain lebih ramah di kantong, ritme hidup di Tasikmalaya memungkinkan mahasiswa untuk bernapas dan berpikir jernih.
Buat saya yang sering menghabiskan waktu berjam-jam tenggelam di depan laptop, suasana kota dan kampus ini mendukung banget. Sehari-hari tidak bising dan tidak macer. Stres lebih bisa ditekan. ketenangan ini jelas hal yang langka di kota-kota besar.
Dilihat dari fasilitas kampus atau jejaring alumni, Universitas Siliwangi jelas kalah daripada kampus-kampus besar yang menjanjikan. Namun, kalau mau mengambil sisi positifnya, sebagai mahasiswa saya malah tertantang untuk lebih semangat berjuang dan membangun jaringan sendiri.
Mahasiswa Universitas Siliwangi Tasikmalaya sadar, kampusnya sulit membuat para HRD otomatis terpesona. Alhasil mahasiswanyanya jadi lebih ulet untuk mengasah berbagai macam keahlian selain belajar di ruang-ruang kelas.
Pada akhirnya, lembar ijazah memang penting. Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana mahasiswa, di mana pun mereka berada, bisa terus bertahan hidup dan memaknai setiap prosesnya. Itulah bekal sejati untuk dunia kerja kelak.
Penulis: Zain Ahdan
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
