Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu (unsplash.com)

“Kuliah kok di Jakarta, yang lain saja pengen ke daerah, kamu malah ke Jakarta”,

Itu adalah salah satu ledekan kawan yang sering ditujukan pada saya, yang memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Yah, bagi mayoritas mahasiswa daerah, Jakarta adalah kota untuk mengumpulkan cuan, bukan menimba ilmu pengetahuan.

Ada semacam kesepakatan tak tertulis di kalangan perantau, kalau mau kuliah yang benar-benar kuliah dalam artian menikmati romantisme kampus dan biaya hidup murah, pasti pilihannya kalau bukan Jogja, Malang, Jember, ya Bandung.

Jakarta? sebuah pilihan bagi orang-orang ambisius yang sudah siap tipes demi karier, bukan buat mereka ingin slow living.

Namun, di sinilah saya, memilih Jakarta untuk menempuh jenjang S2. Di saat teman-teman saya memamerkan foto kopi jos atau pemandangan gunung di sela-sela perkuliahan, saya justru memotret kemacetan dari jendela lantai atas kampus.

Saya adalah sebuah anomali, seorang perantau yang memilih berkawan dengan ibu kota lebih awal daripada yang lain. Dan ternyata, Jakarta tidak seburuk ketakutan orang-orang daerah.

Melawan romantisme palsu Kota Pelajar

Jujur saja, kuliah di daerah memang asyik buat kantong, tapi Jakarta punya level keasyikan yang berbeda.

Di Jogja atau Malang, kita bisa merasa menjadi intelektual hanya dengan duduk di angkringan sampai subuh. Di Jakarta, intelektualitas diuji oleh efisiensi. Kuliah di sini mengajarkan bahwa kecepatan adalah kunci.

Kita tidak punya waktu untuk galau berlebihan karena skripsi atau tesis, suara klakson dan desakan penumpang LRT akan memaksa untuk segera menyelesaikan urusan dan lanjut ke agenda berikutnya.

Dinamika perkuliahan di daerah sering kali terlalu santai hingga membuat terlena. Suasananya begitu mendukung untuk menunda-nunda. Sementara di Jakarta, penuh dengan kompetisi.

Kita tidak sedang dipersiapkan untuk menjadi pemimpi yang hobi melamun di pinggir sawah, tapi menjadi petarung yang tahu caranya bertahan di bawah tekanan tenggat waktu dan hiruk-pikuk ibu kota yang tak kenal ampun.

Jakarta sebagai magnet kekuasaan dan ekonomi

Banyak yang mengasihani saya karena harus berhadapan dengan polusi dan harga kos-kosan Jakarta yang tidak masuk akal jika dibandingkan dengan Jember atau Malang.

Tapi mereka lupa, Jakarta adalah magnet. Kuliah di sini memberikan akses terhadap realitas yang tidak tersedia di kota-kota nyaman tersebut. Di kelas pascasarjana, teman diskusi saya bukan lagi sesama mahasiswa yang sekadar membaca teori dari buku-buku kuno.

Teman sebangku saya bisa jadi adalah CEO yang paginya rapat di SCBD, pengambil kebijakan di kementerian, atau pengusaha yang sedang banting tulang di tengah ketidakpastian ekonomi.

Obrolan di sela-sela kelas bukan lagi soal di mana tempat makan yang bisa bayar pakai QRIS, tapi soal bagaimana pergerakan pasar atau kebijakan pemerintah pusat yang gedungnya cuma sejauh lemparan batu dari kampus. Inilah serunya kuliah di Jakarta, pembelajarannya langsung berdenyut bersama pusat kekuasaan dan ekonomi.

BACA JUGA: 5 Kampus Swasta Terbaik di Jakarta: Panduan untuk Anak Muda yang Masih Bingung Mau Kuliah di Mana

Kuliah di Jakarta artinya menjadi penyintas sebelum terjun ke dunia kerja

Pada akhirnya, kuliah di Jakarta bagi orang daerah adalah latihan singkat menjadi manusia tangguh. Jika di Malang bakal dimanjakan oleh udara sejuk, di Jakarta kita dipaksa bersahabat dengan asap bajaj.

Namun, ketangguhan mental inilah yang tidak akan didapatkan di kota-kota yang terlalu ramah. Mahasiswa Jakarta sudah selesai dengan urusan adaptasi kerasnya hidup bahkan sebelum mereka memegang ijazah.

Jadi, biarlah mereka tetap memuja Jogja dengan segala kenangannya atau Malang dengan kesejukannya. Saya lebih memilih menjadi anomali dengan kuliah di Jakarta. Sebab di balik kemacetan dan kepenatannya, Jakarta menawarkan kedewasaan yang nggak pernah bohong

Menjadi mahasiswa di sini berarti setuju untuk ditempa oleh realitas, bukan sekadar dibuai oleh romantisme kota pelajar yang kadang membuat kita lupa bahwa dunia luar itu sebenarnya liar.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jakarta Tak Segelap yang Ada di Pikiran Kalian, dan Jakarta Adalah Tempat Terbaik untuk Kuliah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version