Nggak Perlu Kaget kalau KRL Jogja-Solo Penuh Sesak, yang Paham Transportasi Umum Bukan Cuma Orang Jakarta!

Nggak Perlu Kaget kalau KRL Jogja-Solo Penuh Sesak, yang Paham Transportasi Umum Bukan Cuma Orang Jakarta!

Nggak Perlu Kaget kalau KRL Jogja-Solo Penuh Sesak, yang Paham Transportasi Umum Bukan Cuma Orang Jakarta! (Pixabay.com)

Saat kereta yang saya naiki hendak memasuki Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, seorang teman kaget dengan keramaian dan penuhnya penumpang di setiap gerbong KRL Jogja-Solo yang kami lihat melalui jendela. Teman saya ini kaget melihat keramaian tersebut karena menurutnya, keramaian naik transportasi umum hanya ia lihat di Jakarta. 

“Sama aja, ya berarti kayak di Jakarta. Kukira kalau di Jogja itu santai dan nggak penuh sesak gitu”. Hesh, cah kulonan ki pancen nggumunan.

Yogyakarta dan Solo memang punya stigma tersendiri. Selain dikenal sebagai daerah yang romantis dan syahdu, Yogyakarta dan Solo juga dikenal sebagai daerah dengan vibes slow living. Padahal ya nggak juga. Banyak orang Yogyakarta atau Solo yang menjalani hidup hustle culture.

Wong UMR-nya kecil, masak nggak hustle, wqwqwq.

Sebagai orang yang beberapa kali mengunjungi Solo dan Yogyakarta, saya perlu kasih tahu kalau kalian nggak perlu kaget KRL Joga-Solo itu ramai. Dan inilah alasannya.

Jadwal KRL Jogja-Solo sedikit

Jadwal perjalanan KRL Jogja-Solo terhitung sedikit apalagi saat malam hari. Untuk rute Yogyakarta-Solo Balapan hanya tersedia 12 jadwal keberangkatan. Dengan keberangkatan paling malam pukul 22.35 WIB. Jarak tiap jadwalnya pun kurang lebih selisih satu jam. 

Padahal, minat penumpang menggunakan KRL naik drastis. Pada 2022 lalu, PT. Kereta Api Commuter Indonesia mencatat 18.000 penumpang perhari dibanding awal peresmian yang hanya 2.000 penumpang. Belum lagi, kereta berwarna merah ini telah menjadi pilihan transportasi bagi banyak pekerja. 

Segmen penumpangnya luas

Seringkali perbincangan KRL di Jakarta identik dengan penumpang yang rebutan masuk gerbong agar tidak terlambat hingga agar segera beristirahat di rumah atau kosan. Padahal, KRL tidak hanya bisa dinaiki oleh mereka yang berstatus pekerja atau dengan tujuan bekerja. Ada yang naik KRL untuk berangkat ke kampus, atau sekedar gabut menghempas pikiran dengan naik KRL.

Untuk daerah Jogja-Solo sendiri, selain terkenal sebagai daerah dengan pusat ekonomi, kedua daerah ini juga dikenal dengan banyaknya kampus top, ragam kebudayaan hingga banyaknya tempat wisata. Penumpang KRL Jogja-Solo tidak hanya pekerja, ada juga mahasiswa, dan wisatawan. Luasnya segmentasi penumpang ini membuat KRL menjadi transportasi andalan untuk mempermudah tujuan destinasi hingga mengurai kemacetan. 

Baca halaman selanjutnya

“Menjahit” Solo dan Jogja

KRL Jogja-Solo menghubungkan dua daerah sentral

Walaupun berbeda provinsi, kedekatan hubungan antara Solo dan Yogyakarta sangatlah erat. Selain keterhubungan ekonomi, dua daerah ini juga terkenal dengan kebudayaan dan destinasi wisatanya. Saat weekend, penampakan gerbong KRL penuh sesak menjadi hal yang biasa. Banyak penumpang dari Solo yang hendak healing ke Jogja dan sebaliknya.

Kebanggaan warga Kabupaten Klaten

Dengan adanya KRL Joga-Solo yang melewati Kabupaten Klaten, banyak warga Klaten yang tak lagi merasa insecure karena daerah yang diapit dua kota besar. Banyak warga Klaten yang akhirnya mendapat spotlight dengan adanya transportasi umum yang memudahkan akses transportasi warganya. 

Seringkali, Klaten sendiri dianggap menjadi bagian dari Provinsi DIY Yogyakarta. Padahal Kabupaten Klaten masuk dalam wilayah teritorial Provinsi Jawa Tengah. Apalagi banyak warga Klaten yang bekerja di Yogyakarta juga Solo. 

Ramainya penumpang KRL di wilayah Yogyakarta-Solo ini adalah bukti tingginya minat penggunaan transportasi umum terutama di daerah-daerah. Ya semoga kita semua bisa merasakan kemudahan akses dan fasilitas transportasi yang nyaman dan aman, siapa pun wali kota, gubernur, ataupun presidennya, hehehe.

Sumber gambar: Akun Instagram Commuter Line

Penulis: Anisah Meidayanti
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Teruntuk Penumpang KRL Jogja-Solo yang Pura-pura Tidur, Mbok ya Nuraninya Lho

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version