Halo, saya seorang mahasiswa S1 Manajemen Bisnis yang baru saja menginjak semester dua. Jika ditanya bagaimana kesan pertama saya menjadi mahasiswa di semester satu kemarin, jawaban jujur saya adalah: kaget dan kelelahan. Bukan karena materi kuliah yang sulit dipahami, tapi karena tuntutan kampus yang menurut saya terlalu ambisius dan belum waktunya diberikan kepada kami. Salah satu yang paling mengganjal adalah keharusan mahasiswa semester awal untuk melakukan riset dan menulis jurnal ilmiah.
Sebagai mahasiswa baru yang baru saja melepas seragam putih-abu-abu, bayangan saya di semester awal adalah membangun fondasi. Saya pikir saya akan fokus belajar dasar-dasar manajemen, pengantar bisnis, atau cara kerja organisasi. Kita ini baru saja melepas seragam SMA, masih beradaptasi dengan cara belajar di kelas besar, cara dosen mengajar, hingga cara mengelola jadwal sendiri.
Tapi, secara mendadak, kita dihadapkan pada tugas yang memakan waktu dan energi luar biasa: membuat jurnal ilmiah.
Fenomena “ghosting” dan beban yang tidak proporsional
Program menulis jurnal ini, dalam hemat saya, lebih banyak menjadi beban administratif daripada sarana pengembangan ilmu. Dampaknya sangat nyata di lapangan, terutama saat kerja kelompok. Sering kali, ketika sesi pengerjaan jurnal dimulai, banyak teman yang tiba-tiba “menghilang” atau ghosting. Susah dihubungi, tidak membalas grup WhatsApp, atau mendadak punya seribu alasan untuk absen.
Awalnya saya kesal, tapi jika dipikir lagi, mereka bukan malas, mereka hanya kewalahan. Kami dihadapkan pada rutinitas yang sangat padat: tugas harian yang menumpuk, ujian yang menuntut nilai tinggi agar IP tidak anjlok, hingga kesibukan organisasi yang sering kali dianggap wajib untuk “branding” diri. Ketika tugas jurnal yang rumit itu dipaksakan masuk ke jadwal yang sudah penuh sesak, mahasiswa akhirnya memilih mana yang harus dikorbankan.
Sayangnya, yang dikorbankan sering kali adalah komitmen kelompok, yang akhirnya menyusahkan mahasiswa lain yang mencoba tetap bertahan.
Demi marketing dan angka di atas kertas?
Ada desas-desus yang cukup santer terdengar di kalangan mahasiswa bahwa kewajiban jurnal ini sebenarnya adalah strategi marketing kampus. Dengan banyaknya publikasi mahasiswa—meskipun hanya di tingkat Sinta 6—kampus bisa “pamer” prestasi dan menaikkan nilai akreditasi. Kita, para mahasiswa, seolah dijadikan mesin produksi jurnal massal untuk mempercantik brosur penerimaan mahasiswa baru.
Selain itu, tugas jurnal ini sering kali dijadikan “tiket emas” untuk mendapatkan nilai A secara instan. Memang terdengar menggiurkan bagi mahasiswa yang mengejar IP tinggi, tapi apakah ini sehat secara akademis? Ketika nilai A diberikan hanya karena kita berhasil mempublikasikan tulisan (yang mungkin dikerjakan dengan terburu-buru atau sekadar copy-paste format), maka esensi dari belajar itu sendiri hilang. Kita tidak lagi mengejar pemahaman ilmu, melainkan hanya mengejar transaksi. Ibaratnya, “Saya kasih jurnal, tolong kasih saya nilai A.”
Jurnal harusnya menjadi pilihan, bukan paksaan administratif
Inilah yang saya sebut sebagai paksaan administratif. Menulis jurnal tidak lagi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu ilmiahnya, melainkan hanya sekadar citra positif. Fokusnya bergeser dari “apa yang dipelajari” menjadi “mana bukti publikasinya.”
Padahal, setiap mahasiswa punya minat yang berbeda. Ada mahasiswa manajemen yang memang ingin jadi akademisi atau peneliti, maka silakan mereka difasilitasi. Namun, banyak juga mahasiswa yang lebih tertarik pada praktik bisnis lapangan, kewirausahaan, atau pengembangan soft skill/hard skill manajerial.
Memaksa semua orang untuk masuk ke jalur riset di semester satu adalah kebijakan yang kaku dan tidak efisien. Riset itu berat dan butuh dedikasi tinggi. Jika dijadikan kewajiban massal bagi mahasiswa baru yang dasar ilmunya saja belum matang, hasil jurnalnya pun hanya akan menjadi sampah digital yang tidak memberikan kontribusi nyata bagi dunia ilmu pengetahuan.
Biarkan kami beradaptasi
Sebagai mahasiswa manajemen bisnis, saya diajarkan untuk melihat sesuatu dari sisi efisiensi dan skala prioritas. Menurut saya pribadi, menyuruh mahasiswa semester satu mengerjakan riset dan jurnal adalah langkah yang tidak efisien. Program ini mungkin niatnya baik agar mahasiswa kenal dunia penelitian sedini mungkin. Tapi pelaksanaannya menutup mata terhadap kondisi asli mahasiswa di lapangan.
Harapan saya, kampus bisa lebih bijak melihat beban mahasiswanya. Biarkan kami yang baru masuk ini bernapas dan beradaptasi dulu dengan dunia kampus yang sudah cukup kompleks ini. Biarkan kami menguasai dasar-dasar ilmu yang kami ambil dengan tenang tanpa dihantui tagihan jurnal ilmiah.
Menulis jurnal dan melakukan riset tentu penting. Tapi tolong berikan di waktu yang pas dan kepada mereka yang memang berminat. Jangan jadikan riset sebagai beban yang justru membuat mahasiswa kehilangan semangat belajar, bahkan sebelum mereka benar-benar memulai perjalanan akademiknya.
Penulis: Hazel Venansius Kemal
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
