Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Krisis Sampah di Jogja Adalah Cara Pemerintah Memupuk Semangat Warga Jogja agar Do It Yourself, Terima Kasih Banget loh!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
5 Agustus 2023
A A
Adakah Dana Istimewa untuk Sampah yang Tidak Istimewa? TPST Piyungan, ASEAN Tourism Forum, Jogja krisis sampah di jogja bantargebang

Adakah Dana Istimewa untuk Sampah yang Tidak Istimewa? (Hariyanto Surbakti via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Krisis sampah di Jogja adalah cara Pemerintah agar Warga Jogja satset, nggak kakean nuntut, dan mandiri. Ngeri tenan, Bolo!

Orang Jawa itu dikenal selalu bersyukur. Bahkan ketika kecelakaan dan cacat permanen, masih saja bilang “untung nggak mati.” Apalagi orang Jogja, jagonya bersyukur di dunia. Pokoknya narimo ing pandum dalam ketimpangan. Dan sebagai orang Jogja dan Jawa tulen, saya juga ingin bersyukur. Terutama atas gagalnya pemerintah Jogja menanggulangi sampah. Tanpa kegagalan yang menyedihkan ini, mungkin warga Jogja tidak akan makin kreatif.

Jadi bersama dengan artikel ini, saya berterima kasih pada pemerintah Jogja, baik tingkat provinsi maupun daerah. Ternyata krisis sampah di Jogja ini adalah jalan bagi kami untuk terus kreatif, dan mampu menjalankan semangat DIY yaitu Do It Yourself. Alias tandangi dewe, kabeh beres diurus cah-cah.

Krisis sampah di Jogja yang tak kelar-kelar

Krisis sampah di Jogja memang kebangetan. Bayangkan, sampah masyarakat tidak bisa dibuang ke TPST Piyungan selama sebulan lebih. Meski sekarang mulai dibuka terbatas, tapi krisis belum selesai. Mau gimana lagi, setiap hari rumah tangga menghasilkan sampah. Sayangnya, sampah ini tidak bisa diromantisasi jadi sejenis Kjokkenmoddinger. Yang ada merusak keindahan dan mencemari lingkungan.

Tidak hanya itu, destinasi wisata juga kena dampaknya. Gunungan sampah bahkan muncul di Alun-alun Selatan. Memang tega betul, halaman Raja kok dikotori. Bukankah sebaiknya dibuat perda yang meminta wisatawan melakukan pemilahan sampah? Sehingga wisatawan bisa membawa sampah anorganik ke bank sampah, dan sampah organik ke Piyungan.

Solusi penampungan sementara terus digaungkan. Tapi tanpa kesepakatan warga sekitar lokasi. Akhirnya kisruh lagi dan lagi. Pokoknya ruwet sih kali ini. Dan seperti saya bilang, sampah tidak bisa menunggu barang satu hari saja. Apalagi lebih dari sebulan.

Dengan situasi ini, bagaimana warga Jogja menyikapi? Dengan satset dasdes tentunya!

Do It Yourself meskipun kepekso

Baru beberapa hari sampah mulai menumpuk, warga Jogja mulai ambil alih tanggung jawab Pemda ini. Jugangan alias lubang sampah mulai muncul di beberapa rumah warga. Tentu bukan di rumah subsidi minim halaman. Asap hitam mulai mengepul, hasil dari membakar sampah. Beberapa saling share info penampung sampah plastik. Sisanya tidak punya pilihan, dan tetap memenuhi tempat pembuangan sampah seperti game tetris.

Baca Juga:

Sisi Gelap Tinggal di Tengah Kota Jogja: Sebuah Wilayah yang Dikepung Sampah

Retribusi Sampah Jogja: Solusi Jangka Pendek yang Bagus, Tinggal Menunggu Solusi Jangka Panjangnya

Tapi tumpukan sampah tetap tampak di berbagai sudut. Terutama di dekat lokasi wisata. Tidak kurang akal, beberapa warga melukis kantong sampah itu. Minimal ketika dilihat wisatawan, sampah tadi dikira seni instalasi.

Ketika TPST Piyungan dibuka kembali dengan terbatas, warga makin kreatif. Ketika truk sampah lewat, mereka jadi atlit lempar sampah. Berusaha melempar kantong sampah ke dalam bak truk yang terus melaju. Mungkin ini bisa jadi daya tarik wisata baru. Tinggal kemas sampah dengan kantong yang dilukis, lalu dilempar sembari pakai baju adat. Perkara value, bisa diromantisasi!

Beruntung bagi daerah yang punya cukup kapital, kemauan, dan aparat yang bisa mikir. Seperti di Desa Panggungharjo yang sukses mengolah sampah secara independen. Sayang, tidak semua daerah mampu. Jangankan mau mengumpulkan sampah di satu lokasi, lahannya saja mahal!

Jangan salahkan solusi do it yourself tadi. Apalagi sok usul perkara bikin pupuk atau pembangkit listrik tenaga sampah. Yo jelas nggak mampu bosku. Apalagi bagi kampung padat penduduk yang jelas kekurangan ruang publik. Mau main voli saja susah, apalagi bikin pengolahan sampah. Tapi setidaknya warga Jogja terbiasa memutar otak mencari solusi yang mudah diakses.

Apa-apa bisa mandiri

Sudah berkali-kali warga Jogja membuktikan diri mampu untuk mengurus diri sendiri. Waktu pandemi menggila, muncul gerakan solidaritas pangan. Ketika klitih merajalela, muncul gerakan vigilante pemburu klitih. Waktu jalan berlubang tidak kunjung diperbaiki, muncul gerakan tambal jalan serta penanda lubang dengan cat semprot.

Sebentar. Lalu mana peran pemerintah?

Mungkin ini cara pemerintah Jogja mendidik rakyat. Melakukan pembiaran sehingga rakyat bisa independen dalam banyak hal. Seperti menjalankan semangat DIY alias do it yourself. Siapa tahu, tiba-tiba rakyat Jogja makin kreatif menghadapi pembiaran ini. Bisa bikin perumahan rakyat sendiri, bikin jaminan sosial sendiri, bahkan menaikkan UMR sendiri. Jangan-jangan nanti warga Jogja bisa bikin kraton sendiri. Pokoke opo-opo tandangi dewe! Istimewa og!

Dan siapa tahu, besok pemerintahan Jogja bakal diurusi cah-cah dewe. Daripada patah hati terus menanti aksi satset pemerintah. Toh sudah dilatih mandiri dan do it yourself!

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA TPST Piyungan Ditutup Lagi, Kapan Jogja akan Benar-benar Menemukan Solusi untuk Sampah yang Makin Melimpah?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2023 oleh

Tags: krisissampah jogjaTPST piyungan
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Harapan untuk 'Gubernur Baru' Jogja yang Akan Dilantik pemilihan gubernur jogja

Harapan untuk ‘Gubernur Baru’ Jogja yang Akan Dilantik

22 Mei 2022
Adakah Dana Istimewa untuk Sampah yang Tidak Istimewa? TPST Piyungan, ASEAN Tourism Forum, Jogja krisis sampah di jogja bantargebang

Adakah Dana Istimewa untuk Sampah yang Tidak Istimewa?

14 Mei 2022
Adakah Dana Istimewa untuk Sampah yang Tidak Istimewa? TPST Piyungan, ASEAN Tourism Forum, Jogja krisis sampah di jogja bantargebang

TPST Piyungan, Tempat Terbaik untuk Membuka ASEAN Tourism Forum 2023

13 Januari 2023
Sisi Gelap Alun-Alun Kidul Jogja yang Selama Ini Tidak Terdeteksi (Foto milik penulis)

Sisi Gelap Alun-Alun Kidul Jogja: Tumpukan Sampah di Tengah Ringin Kembar yang Luput dari Pandangan dan Merusak Estetika Tempat Wisata

9 Juni 2024
Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi? kill the DJ

Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi?

10 Mei 2022
Adakah Dana Istimewa untuk Sampah yang Tidak Istimewa? TPST Piyungan, ASEAN Tourism Forum, Jogja krisis sampah di jogja bantargebang

Buat Piyungan, kalo Mau Jadi Wisata Gunung Pertama di Dunia, Lewati Dulu Bantargebang

16 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
Jatiwaringin Bekasi, Daerah Seribu Galian yang Nggak Tahu Kapan Kelarnya. Warga di Sini Punya Kesabaran Tingkat Tinggi bekasi jogja

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

6 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.