Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman

Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman Mojok.co

Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman (unsplash.com)

Belakangan ini saya terus menerus melihat satu pertanyaan yang serupa di aplikasi Threads. Banyak orang bertanya rekomendasi tempat yang enak untuk nongkrong di rumput atau bawa anak main di Jogja.

Ketika saya baca komentar, kebanyakan jawabannya adalah tempat-tempat yang berada di luar Kota Jogja, seperti Wisdom Park UGM, Ledok Sambi, dan Lapangan Denggung di Kabupaten Sleman; Laguna Depok dan Potrobayan River Camp di Bantul; serta Taman Bambu Air Waduk Sermo di Kulon Progo.

Alun-alun Kidul menjadi rekomendasi satu-satunya dari Kota Jogja, yang bahkan lebih cocok dibilang berpasir dibandingkan berumput. Dan, tempat ini nggak bisa dibilang sebagai tempat healing, melainkan tempat jajan atau pacaran.

Sebelum pulang ke Jogja, saya tinggal di sebuah kota kecil di Turki. Meskipun kota yang saya tinggali berkali-kali lipat lebih kecil dibandingkan Jogja, ruang terbuka hijau (RTH)-nya melimpah. Bahkan asrama saya saja dikelilingi taman yang berbeda-beda di keempat sisinya. Ada taman berupa rumput dan pohon tertata, ada pula yang dilengkapi playground dan alat-alat olahraga outdoor, juga kursi-kursi taman.

Saya sering menghabiskan waktu duduk di atas rumput di taman sambil baca buku atau sekadar mendengarkan musik. Rasanya tenteram sekali karena bisa berganti-ganti suasana saat baca buku, bukan sekadar di dalam kamar atau perpustakaan. Lokasi taman-taman ini juga nggak jauh. Tinggal jalan dikit, nggak sampai 5 menit sudah sampai ke taman.

Jogja minim ruang terbuka hijau

Akan tetapi, ketika sampai di Jogja, saya mengalami reverse culture shock. Alasannya pun tampak sepele, saya kebingungan mencari tempat untuk baca buku di atas rumput. Tempat nongkrong berumput yang paling dekat dengan rumah saya adalah Wisdom Park UGM, yang mana butuh waktu 20 menit naik motor.

Ketersediaan RTH di Jogja memang masih jauh dari kata cukup. Standar minimal RTH itu sebenarnya sudah diregulasi secara resmi lewat Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Rinciannya adalah RTH untuk wilayah perkotaan minimal 30 persen dari total luas wilayah.

Dari hasil penelitian, RTH di Kota Jogja baru punya luasan 18,6 persen dari luas keseluruhan kota ini. Detailnya, RTH pekarangan di Jogja seluas 14,33 persen; RTH taman dan hutan kota seluas 1,24 persen; RTH sepanjang jalan seluas 1,54 persen; dan RTH dengan fungsi tertentu seluas 1,59 persen.

Dari angka ini kita bisa ambil kesimpulan bahwa Jogja kekurangan RTH. Persentasenya masih jauh di bawah standar. Pantas saja kita kesulitan cari tempat nongkrong dan harus melipir ke kabupaten lain. Kita nggak bisa jalan kaki untuk mampir ke RTH terdekat karena memang nggak sangat sedikit RTH di kanan-kiri tempat tinggal kita.

Harapan warga

Jujur saya sedih karena fasilitas publik berupa green space di Jogja belum memadai. Kita sebagai warga Jogja kesulitan mencari sepetak rumput yang asri tanpa harus berebut tempat di tengah lautan beton. Harapan saya tentu saja Pemerintah Kota Yogyakarta bisa membenahi permasalahan ini.

Saya nggak muluk-muluk meminta pemerintah bikin alun-alun raksasa baru. Toh, itu hampir mustahil terwujud. Pemerintah bisa memanfaatkan lahan-lahan sisa yang mangkrak di tengah perkampungan padat untuk disulap jadi taman kecil yang nyaman pun saya sudah senang. Nggak harus besar, seukuran dua atau tiga petak rumah sudah cukup, asalkan tersebar merata di setiap RW atau kelurahan.

Luas wilayah Kota Jogja yang sudah kecil dan makin menyempit karena lahannya dimanfaatkan untuk mendirikan bangunan memang bakal jadi tantangan buat pemerintah. Tapi, ini bukan hal yang mustahil, asalkan ada kemauan dari pemerintah untuk memprioritaskan warganya. Asal kreatif pasti jadi, kok.

Keresahan ini sepertinya sudah ditangkap pemerintahan maupun instansi setempat, mengutip berbagai pemberitaan, Kota Jogja memang sedang gencar menambah RTH baru sejak awal tahun ini. Namun, sepertinya, dampaknya belum benar-benar terasa. 

Semoga berbagai upaya demi kenyamanan ini dampaknya bisa  dirasakan warlok segera ya. 

Penulis:  Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version