Mendengar sebutan “Kota Hujan” yang disandang Kota Bogor membuat saya yang sehari-harinya berkawan dengan hawa panas Surabaya semangat mengunjunginya. Bagi saya, Bogor bisa menjadi pilihan bijak untuk liburan tipis setelah urusan di Jakarta beres. Pikir saya, daripada menghabiskan waktu di Jakarta, lebih baik menepi ke Kota Bogor mencari hawa dingin.
Terakhir saya ke Bogor, saya ingat jalannya penuh dengan angkot. Tapi itu belasan tahun yang lalu, saya positif thinking kalau Kota Bogor sudah semakin tertata, sama halnya dengan Kota Surabaya. Tujuan wisata ke Bogor sederhana saja, sampai di Bogor malam langsung menyeruput kopi di sebuah coffee shop estetik, besok paginya makan durian di Ciapus sambil memandangi Gunung Salak, jalan-jalan sebentar ke Kebun Raya Bogor, lalu lanjut wisata kuliner sampai siang sebelum sorenya kembali ke Jakarta menuju Stasiun Gambir.
Sayangnya, liburan tipis menepi ke Kota Bogor jauh dari ekspektasi. Kota Bogor yang adem ternyata tidak senyaman bayangan saya.
Jalanan Kota Bogor menguji kesabaran
Kalau Malang menjadi tujuan berakhir pekan orang Surabaya, Bogor adalah sasaran orang Jakarta untuk berakhir pekan. Sebagai orang Surabaya yang sering ke Malang, saya sudah bersiap dengan kepadatan Kota Bogor, tapi ternyata macetnya Kota Malang saat weekend tak ada apa-apanya dibandingkan Bogor.
Mau bagaimana lagi, kesempatan mengunjungi Bogor hanya di akhir pekan. Apalagi saat itu adalah minggu terakhir sebelum bulan puasa. Saya yakin bukan saya saja yang memanfaatkan long weekend sebaik-baiknya.
Perjalanan hari Minggu pagi ke Ciapus cukup lancar, karena mungkin masih pagi. Hanya butuh waktu 45 menit menuju Ciapus yang letaknya di wilayah selatan Bogor, dekat kaki Gunung Salak. Durian yang lezat dan hawa dingin di Ciapus jadi tidak berkesan gara-gara perjalanan pulang menuju kota hampir 3 jam. Wisata kuliner di kota gagal, mau mampir ke Kebun Raya Bogor kesulitan cari parkir, dan akhirnya hanya mampir beli Asinan Bogor di Jalan Siliwangi. Saking ruwetnya Kota Bogor, saya sampai tidak bisa membedakan mana yang mobil parkir, mana yang mobil antre di kemacetan.
Saya sadar kalau Bogor bukan metropolitan yang punya jalan lebar, membandingkan lebar jalan di Bogor dan Surabaya itu tidak apple to apple. Surabaya juga tidak tertib-tertib amat, tapi setidaknya ada petugas yang mengatur atau ada pengalihan jalur saat penumpukan kendaraan sudah tidak masuk akal.
Yang menjadi masalah, “sabar” bukan nama tengah orang Surabaya, rata-rata orang Surabaya sumbunya segera memendek setiap bertemu kemacetan, dan saya adalah satunya. Di Surabaya, lampu lalu lintas masih berwarna kuning saja bunyi klakson sudah ramai, apalagi berkendara dengan kecepatan kura-kura di Kota Bogor. Alih-alih menikmati liburan, yang ada malah menambah stres.
Pusat tanaman hias tapi kotanya tidak pandai berhias
Letak Bogor yang berada di kaki Gunung Salak dan Gede Pangrango membuat suhu udara dan tanah vulkanisnya sangat pas untuk pertanian, ini juga jadi alasan mengapa Institut Pertanian terbesar di Indonesia berdiri di sana. Setahu saya, tanaman hias juga menjadi andalan Bogor. Saya tahu nggak asal tahu, karena sejak pandemi saya semakin menggilai tanaman hias dan saya sering belanja online tanaman hias dari Bogor.
Selain kualitasnya bagus, harga tanaman hias di Bogor juga relatif lebih murah dibandingkan di Batu, Malang. Sayangnya gara-gara terjebak macet, saya gagal belanja ke sentra tanaman hias di Regional Ring Road.
Saya membayangkan pohon dan tanaman hias berjajar rapi, dengan bunga warna-warni menghiasi setiap jalur hijau di Kota Bogor, dan ternyata ekspektasi saya salah. Saya tidak melihat ada jalur hijau yang tanamannya tertata rapi, apalagi estetik. Jalur hijau di bawah fly over terlihat amburadul. Tanamannya ada tapi tidak terawat, dan sampah plastik bertebaran di antara tanaman yang sekarat. Sayang sekali padahal jalur hijau di bawah fly over bisa dimanfaatkan menjadi kosmetik Kota Bogor.
BACA JUGA: Hidup di Bogor Itu Nggak Seindah yang Ada di Bayanganmu, Udah Panas, Macet, Chaos!
Ekspektasi sederhana sebenarnya, tapi…
Ekspektasi saya sebenarnya tidak muluk-muluk dan sangat masuk akal. Seperti saya bilang tadi, tanaman hias sangat mudah didapatkan di Bogor, apalagi suhu Bogor bersahabat dengan tanaman hias. Kota Bogor sungguh aneh, katanya pusat tanaman hias tapi kotanya tidak pandai berhias.
Terbiasa melihat tanaman berwarna-warni yang terawat dan tumbuh rapi di jalur hijau Kota Surabaya membuat mata saya jadi pedih melihat jalur hijau di jalanan Kota Bogor. Sudah terjebak macet, tak ada pemandangan indah pula. Surabaya boleh kalah soal adem, tapi soal menata tanaman hias di jalanan, Bogor kalah jauh dengan Surabaya.
Saran saya buat orang Surabaya yang belum pernah ke Kota Bogor, hindari akhir pekan, mengeksplor Kota Bogor lebih nyaman di hari kerja. Yang lebih penting, latih dulu kesabaran kalian sebelum berangkat.
Penulis: Rina Widowati
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
