Bagi pasangan muda yang baru menikah, urusan tempat tinggal sering kali menjadi keputusan besar pertama yang harus diambil bersama. Di satu sisi ada opsi kos berdua, yang praktis dan tak ribet. Di sisi lain, kontrak rumah menawarkan ruang lebih luas dan rasa “punya rumah sendiri”.
Keduanya punya kelebihan dan kekurangan, tergantung kondisi finansial, gaya hidup, dan prioritas masing-masing pasangan.
Nah, untuk melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih jelas, saya menanyai beberapa pasangan yang sudah menikah dan menjalani dua pilihan berbeda tersebut.
Pasangan yang memilih kos: murah, praktis, dan lebih terkontrol
“Kami secara nggak langsung bisa lebih hemat sebab tak banyak godaan beli barang,” tutur Rizky (27) & Aulia (25) yang menikah sudah 1,5 tahun. Rizky dan Aulia memilih tinggal di kos pasutri sejak awal menikah. Bagi mereka, keputusan itu bukan karena terpaksa, tapi justru pilihan bijak.
“Kalau dihitung-hitung, ngekos itu lebih murah. Kami tinggal di kos yang udah ada AC, WiFi, air, listrik, bahkan dapur bersama,” kata Rizky.
Menurutnya, dengan biaya kos sekitar Rp1,3 juta per bulan, mereka sudah tidak perlu memikirkan biaya tambahan seperti pasang internet, iuran sampah atau air PAM. Semua sudah termasuk dalam satu harga.
Aulia menambahkan bahwa ruang terbatas membuat mereka lebih bijak belanja. Kalau kontrak rumah, pasti kepikiran beli sofa, lemari gede, meja makan, rak ini itu. Di kos, mau beli barang mikir dua kali karena ruangnya terbatas. Jadi gak impulsif,” ujarnya.
Bagi Aulia, ruang kecil justru membantu mereka fokus pada kebutuhan utama, bukan memenuhi keinginan. Lemari secukupnya, kasur, meja kerja kecil. Sudah lebih dari cukup.
BACA JUGA: Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran
Cocok buat pasangan baru yang masih adaptasi
Dimas (29) dan Rani (26), yang sudah menjalani pernikahan selama 8 bulan, sepakat bahwa masa awal pernikahan adalah masa adaptasi, bukan masa pamer kenyamanan. “Kami sadar penghasilan belum stabil. Jadi daripada maksa ngontrak rumah tapi keuangan keteteran, mending ngekos dulu,” kata Dimas.
Rani mengaku awalnya ragu karena stigma kos pasutri sering dianggap “kurang mapan”. Namun setelah dijalani, justru terasa ringan. “Capek kerja, pulang kos udah dingin karena AC, WiFi kenceng, air lancar. Kami tinggal berdua, bersihinnya juga gampang,” ujarnya sambil tertawa.
Menurut mereka, kos cocok untuk pasangan yang baru menikah, masih menabung, fokus menata keuangan, dan belum punya banyak perabot. “Buat kami, kos itu tempat transit menuju tahap berikutnya,” tambah Dimas.
Pasangan yang memilih kontrak rumah: lebih luas, lebih bebas
Berbeda dengan pasangan sebelumnya, Arif (32) & Nisa (30)–menikah 4 tahun–sejak awal memilih ngontrak rumah. Alasannya sederhana: butuh ruang lebih luas. “Kami berdua kerja dari rumah. Kalau kos, rasanya sesak dan nggak kondusif,” ujar Arif.
Rumah kontrakan mereka memiliki dua kamar, ruang tamu, dapur sendiri, dan halaman kecil. Bagi Nisa, hal itu sangat berpengaruh pada kenyamanan mental. “Di rumah, mau masak jam berapa pun bebas. Mau jemur pakaian nggak kepikiran. Mau terima tamu keluarga juga lebih enak,” katanya. Meski biaya lebih besar—sekitar Rp8 juta per tahun belum termasuk listrik dan internet—mereka merasa sepadan dengan kenyamanan yang didapat.
Orang lain yang saya wawancarai, Fajar (35) & Lintang (33)–menikah 6 tahun, berpendapat bahwa kontrak rumah memberi rasa emosional yang berbeda. “Kalau rumah, ada rasa membangun kehidupan. Bisa ngatur rumah sendiri, dekor sendiri, pelan-pelan beli perabot,” kata Lintang.
Namun mereka mengakui, kontrak rumah menuntut kedisiplinan finansial yang lebih tinggi. “Godaan belanja itu nyata. Sofa, TV gede, kitchen set. Kalau gak dikontrol, bisa boncos,” ujar Fajar. Berbeda dengan kos yang membatasi ruang, rumah justru membuka banyak kemungkinan—baik yang perlu maupun yang sekadar keinginan.
Kos vs kontrak: bukan soal gengsi, tapi kesiapan
Dari hasil wawancara, terlihat jelas bahwa pilihan tempat tinggal setelah menikah bukan soal mana yang lebih keren, melainkan mana yang paling sesuai dengan kondisi pasangan.
Ngekos berdua cocok jika penghasilan masih terbatas atau belum stabil, ingin hidup praktis dan minim ribet, mau menekan pengeluaran bulanan, ingin belajar mengontrol impuls belanja, tidak terlalu butuh ruang besar.
Di sisi lain, kontrak rumah cocok jika penghasilan sudah lebih mapan, butuh ruang lebih luas (kerja dari rumah, anak, usaha kecil), menginginkan privasi penuh, siap dengan biaya tambahan, dan ingin rasa “punya rumah sendiri”.
Yang menarik, beberapa pasangan bahkan menyebut kos sebagai fase belajar sebelum akhirnya kontrak atau membeli rumah.
Kesimpulan: nyaman itu relatif, bijak itu mutlak
Tidak ada pilihan yang benar atau salah antara kos berdua atau kontrak rumah setelah menikah. Yang ada hanyalah pilihan yang paling realistis dan sehat secara finansial. Seperti kata Aulia di akhir wawancara: “Lebih baik tempat tinggal sederhana tapi pikiran tenang, daripada rumah luas tapi tiap bulan stres mikirin uang.”
Sebab, rumah—sekecil apa pun—akan terasa cukup jika diisi oleh komunikasi yang baik, tujuan yang sama, dan keputusan yang disepakati bersama.
Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
