Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Kisah Nelangsa Baliho Kepak Sayap Kebhinekaan

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
13 Agustus 2021
A A
Kisah Nelangsa Baliho Kepak Sayap Kebhinekaan terminal mojok.co

Ilustrasi baliho di Jogja. (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Seonggok baliho di bilangan Gedongkuning amat layu sore itu (12/08/2021). Baliho yang akrab disapa Mas Bal (29) tengah meradang dan sedikit uglik-uglik diterpa angin dari arah Utara. Di perempatan Gedongkuning, sanding boneka angin WaWaWa, semua pengendara motor menatap ke arahnya. Ada yang ngampet ngguyu, ada yang nunjuk-nunjuk, ada pula yang sedang megang setang motor—tapi mulutnya ngakak, sih.

“Saya ini sedang termenung memperhatikan nasib saya yang nggak kunjung mendingan, Mas,” terangnya kepada saya, setelah saya dekati dan ajak ngobrol basa-basi. Dengan suara yang sedikit bergetar seperti seng yang sedang kanginan, Mas Bal jebul tengah galau dan meratapi nasibnya yang makin buruk itu.

“Lha penyebabnya apa tho, Mas? Kok ya saya lihat dari perempatan Gedongkuning Anda melamun melulu?” tanya saya, mengeluarkan ponsel dan mulai merekam obrolan kami berdua.

Mas Bal hanya geleng-geleng kepala. “Lihat itu lho, Mas, gambar yang terpampang di badan saya yang sekel dan berisi ini,” blio nunjuk-nunjuk gambar utama di baliho. Kakinya yang hanya satu itu tiba-tiba ngewel dan bergetar ketakutan.

Saya pun melihat, oh isinya jebul Mbak Puan sedang promosi bakal capres atau bakal-bakal lainnya. Lantas saya nimpali, “Bagus tho, isinya politisi yang sedang onani untuk nyambut pemilu nanti.”

“Bagus gundulmu, Mas,” jawabnya dengan cepat, akurat, dan tanggap darurat. “Ini perkara kemaluan (rasa malu, red), Mas,” jawabnya dengan berapi-api, tapi kurang percaya diri. Wajahnya yang terbuat dari seng pun kaku dan matanya kuyu seperti orang kurang makan karena bansos selama Covid-19 dari pusat belum tiba-tiba juga ke dapurnya.

Blio pun melanjutkan, “Biasanya, nih, Mas, isi baliho saya itu ya seputar perumahan yang dijual. Semisal tulisannya begini; dijual perumahan murah area Banguntapan hanya lima menit dari bandara. Karena bandara di Jogja sudah pindah, ha kok malah jadi kepak sayap kebhinekaan begini?”

Saya ngampet ngguyu. Memang, baliho dengan wajah Mbak Puan ini sedang getol-getolnya mengisi baliho-baliho di sepenjuru Kota Jogja. Kepak Sayap Kebhinekaan yang jadi tajuknya, tengah disaksikan oleh para pengguna motor yang sedang terjebak lampu merah di perempatan Gedongkuning. Apa, ya, yang ada di pikiran para pengguna motor setelah nonton baliho itu?

Baca Juga:

Baliho di Jogja Ambruk, Sudahkah Waktunya Mengkaji Jumlah Baliho dan Menertibkannya?

Culture Shock Orang Kediri Ketika Pertama Kali Singgah di Kabupaten Trenggalek

“Saya ini agak kaget, yang semula isi baliho saya ini pol mentok orang investasi rumah, sekarang ada tokoh politik yang nampil. Nggak ada angin, nggak ada hujan, lha wong pemilu belum menampakkan hilalnya.”

“Berarti Mas Bal meragukan kapasitas Mbak Puan sebagai calon pemimpin idaman masyarakat Indonesia di masa mendatan…..” tanya saya tiba-tiba.

Mas Bal lekas menyambar mulut saya untuk diam. Ia clingak-clinguk ketakutan. “Ngawur banget mas kalau bicara. Hati-hati lho, di masa seperti ini kebebasan berbicara itu hanya mimpi,” jawabnya, air mukanya keruh dan takut.

“Oh, maksud Mas Bal, di masa rezim kali ini, kebebasan berpendapat itu adalah hal yang….”

Mulut saya dibungkam lagi seperti masyarakat akar rumput selama pandemi. “Sek, Mas, gini lho maksud saya, dulu baliho seperti saya ini dianggap sekadar angin lalu sama pengguna motor. Namun, ketika si Kepak Sayap ini yang ngisi baliho, semua mata pengguna motor menatap saya lekat-lekat.”

“Oh, berarti semua pengguna motor itu terpesona dengan dialektika politiknya Mbak Puan ya, Mas?” kata saya.

“Eh, iya, itu mungkin, sih,” jawab Mas Bal dengan ndembik. “Tapi gini lho, Mas, sejak Kepak Sayap ini menempel di tubuh saya yang sintal, semua mata itu menatap saya lekat-lekat. Mereka mesem, tertawa, bahkan sampai ada yang memposting ke internet. Bayangkan, Mas, tubuhku bahkan sampai masuk ke Twitter dan Instagram.”

Mas Bal melanjutkan keluh kesahnya. “Kalau jualan perumahan kan jelas. Ada rumahnya, ada harganya, ada tempatnya, dan ada pula keterangan rincinya. Lha kalau Kepak Sayap ini apa jal, Mas? Kampanye, bukan. Mau ngadain acara mantenan, bukan. Mau sosialisasi kebersihan selama pandemi, bukan.”

“Oh, mungkin maksudnya mau pamer prestasi, Mas? Kan itu juga termasuk dialektika nggak langsung untuk menyambut pemilu,” jawab saya.

“Prestasi macam apa yang hanya menampilkan gambar dan jargon, Mas? Kepak Sayap Kebhinekaan ini kepak sayap macam apa coba, Mas? Bhineka yang dimaksud itu Burung Garuda gitu, ya? Lha wong secara terminologi saja melenceng jauh dari makna. Duh, isin,” Mas Bal menutup rai.

Lantas Mas Bal melanjutkan, “Nah, ketimbang mengeluarkan hal yang nggak jelas, mbok ya o jelasin dulu jargonnya itu kepada masyarakat biar paham. Kan yang paling pinter di Indonesia itu para pejabat di atas sana. Rakyat biasa itu ya tugasnya nyoblos pas pemilu doang. Dan panas-panasan geber motor di Ring Road Selatan.”

Mas Bal masih melanjutkan, kali ini lebih berani, “Prestasi blio kalau mau ditampilkan ya pas sidang Omnibus Law itu, Mas. Mematikan mic secara teatrikal. Kan lebih jelas, masyarakat apresiasi, dan ada maknanya. Kalau hanya kepak sayap-kepak sayap nggak mashok itu, tubuhku layaknya ketidakjelasan dan serasa papan iklan doang tanpa makna!”

“Lantas, apa dong makna matikan mic saat sidang, Mas?”

“Lho, jelas mematikan mic itu bermakna. Blio itu hanya mematikan mic doang, Mas. Namun mendengar suara masyarakat kecil. Lihat saja waktu sidang Omnibus Law, 8 Oktober masyarakat turun ke jalan tanda bahwa blio ini amat Bhineka banget,” kata Mas Baliho.

“Nah, mungkin itu arti dari Kepak Sayap Kebhinekaan, Mas,” kata saya belaga jadi Socrates yang sedang macak jadi bidan dalam sebuah perdebatan.

“Weh, iya juga, ya…” kata Mas Bal bikin saya mak jegagik nahan kaget. Pitikih.

Sejak tulisan ini diketik dan disunting, makin banyak baliho di penjuru negeri yang berubah dari sebelumnya jualan perumahan jadi jualan slogan. Dari utara sampai selatan, dari perempatan satu ke perempatan lainnya, baliho-baliho berubah menjadi sebuah kepak sayap kebhinekaan. Kata yang indah, tapi embuh maknanya apa. Lah, selama kita hidup di negeri ini, sebagai masyarakat biasa, memangnya kami punya makna, ya?

BACA JUGA Puan Maharani, Baliho, dan Branding yang Usang dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Agustus 2021 oleh

Tags: BalihoKepak Sayap KebhinekaanPojok Tubir Terminalpuan maharani
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Surat Balasan untuk Pembelaan dari Penulis Naskah ‘Suara Hati Istri: Zahra’

6 Juni 2021
KPK penilapan duit bansos koruptor jaksa pinangki cinta laura pejabat boros buang-buang anggaran tersangka korupsi korupsi tidak bisa dibenarkan mojok

Cinta Laura, Pejabat Boros, dan Kita yang Dikit-dikit Self Reward

2 Juni 2021
laporcovid-19 vaksinasi covid-19 vaksin nusantara indonesia lepas pandemi ppkm vaksin covid-19 corona obat vaksin covid-19 rapid test swab test covid-19 pandemi corona MOJOK.CO

Bantahan untuk Kemenkes yang Menyangkal Laporan LaporCovid-19: Fasyankes Kolaps Itu Benar Adanya

5 Juli 2021
Indonesia pun Patut Bersyukur karena Punya Privilese Edukasi Hukum dari 'Sidang Kopi Sianida' terminal mojok.co

Indonesia pun Patut Bersyukur karena Punya Privilese Edukasi Hukum dari ‘Sidang Kopi Sianida’

17 Juli 2021
pledoi vonis juliari batubara menteri korupsi mojok

Pledoi Juliari Batubara dan Sakit Hati yang Terprediksi

13 Agustus 2021
gemini stigma buruk zodiak mojok

Logika Bengkok Orang-orang yang Benci Gemini

20 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
13 Kosakata Bahasa Madura yang "Menjebak” dan Perlu Diperhatikan Pendatang yang Baru Belajar Mojok.co

13 Kosakata Bahasa Madura Paling “Menjebak” dan Perlu Diperhatikan Pendatang yang Baru Belajar

9 Februari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura Mojok.co

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura

4 Februari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Pantai Padang Adalah Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar Mojok.co

Pantai Padang Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar

8 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”
  • “Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia
  • Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran
  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.