Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kimia Itu Nggak Mengerikan, yang Mengerikan Itu Ketidakpahaman Kita

Jasmine Nadiah Aurin oleh Jasmine Nadiah Aurin
14 November 2020
A A
stereotip kimia berbahaya bikin mandul mojok

stereotip kimia berbahaya bikin mandul mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sebetulnya sudah sejak lama tangan saya gatal untuk menuliskan perihal ini, tapi apa daya laporan praktikum dan tugas bertubi-tubi menyerang saya. Akhirnya, sebuah tweet dari akun bot alias menfess benar-benar sangat menyentil nurani saya. Tweet tersebut mencantumkan sebuah tangkapan layar percakapan via WhatsApp antara mbak-mbak sender dan gebetannya.

Gebetannya si sender ini menilai bahwa orang yang kuliah di jurusan kimia memiliki potensi untuk mandul sehingga si mas-mas gebetan pun seperti “melarang” mbak sender untuk kuliah di jurusan kimia murni. Lha, baru gebetan kok sudah ngatur-ngatur. Jadi pacar saja belum tentu apalagi jadi suami. Ehhh wqwqwq.

ADVERTISEMENT

Kolom balasan pun dipenuhi oleh hujatan orang-orang kimia kepada gebetannya si sender, termasuk saya yang ikutan ke-trigger karena hampir setiap hari (kalau nggak pandemi) saya selalu berkutat dengan bahan-bahan kimia di laboratorium. Gimana saya nggak merasa tersentil coba, setiap hari “main” di lab itu juga sehari bisa dua kali praktikum dengan total waktu delapan jam, pulang magrib, belum termasuk mengerjakan laporannya sudah bikin lelah sampai badan terasa rontok. Lha ini tiba-tiba ada seseorang nyeletuk kalau anak kimia itu mandul. Pengen tak hiihhh.

Emangnya kamu siapa ngatur-ngatur reproduksi orang lain? Kamu nggak ada hak untuk mengomentari soal reproduksi seseorang!11!1! (ceritanya sedang bernarasi sebagai seorang feminis). Terus kalau kasusnya mahasiswa biologi, berarti reproduksinya lancar terus, gitu?

Begini, kita masuk ke laboratorium dan “bermain” dengan bahan-bahan tersebut itu ada aturannya. Kita diwajibkan untuk memakai APD (alat pelindung diri) yang terdiri dari jas lab, masker, sarung tangan, goggle alias kacamata (kalau diperlukan), dan sepatu tertutup. Tujuannya melindungi kita dari hal-hal yang nggak diinginkan. Bahkan seorang asisten praktikum pun nggak akan membiarkan mahasiswa praktikan masuk ke laboratorium kalau nggak pakai jas lab dan membawa APD lengkap.

Cara memperlakukan bahan kimia juga nggak bisa sembarangan, misalnya jika kita ingin mencium bagaimana aroma bahan tersebut, kita harus mengibas-ngibaskan tangan di atas mulut botol larutannya. Kita juga punya panduan seperti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dan MSDS (Material Safety Data Sheet) selama bekerja di laboratorium.

Nah, untuk masalah mandul sebetulnya bisa saja sih karena mungkin terlalu sering terpapar bahan kimia berbahaya. Namun, balik lagi ke aturan main di atas, selama seseorang itu memakai APD lengkap dan mengikuti tata tertib semua akan baik-baik saja. Bahkan dulu waktu jaman saya maba, salah satu dosen saya pernah menyarankan untuk minum susu sehabis praktikum. Tujuannya untuk menetralisir racun akibat paparan bahan yang masuk ke dalam tubuh tanpa disadari.

Ngomongin soal bahan kimia, masyarakat awam kebanyakan masih menganggap bahwa sesuatu yang berhubungan dengan “kimia” adalah berbahaya. Sejumlah stereotip pun dilayangkan kepada kami orang-orang yang berkecimpung di bidang ini, mulai dari pencipta bom sampai dikira mandul. Akhirnya masyarakat seakan merasa lebih tenang jika sebuah produk mencantumkan label “tanpa bahan kimia.” Obat herbal pun terkadang ada yang mencantumkan embel-embel tersebut.

Baca Juga:

Jalur Klemuk Penghubung Kota Batu-Pujon: Lebih Dekat dan Cepat, tapi Taruhannya Nyawa

Jangan Lewat Jalan Gunung Gumitir Perbatasan Banyuwangi-Jember kalau Kesabaran dan Keberanian Kalian Setipis Tisu

Padahal, seherbal-herbalnya suatu obat, dia tetaplah bahan kimia. Mungkin akan lebih tepat jika tulisan yang dicantumkan yaitu “tanpa bahan kimia berbahaya” karena hidup manusia nggak pernah terlepas dari material kimia. Dari bangun tidur sampai tidur lagi kita selalu berinteraksi dengan kimia. Ketika kita mandi, kita memakai sabun yang terbuat dari trigliserida (lemak atau minyak) dan basa natrium hidroksida atau kalium hidroksida melalui reaksi penyabunan.

Baju yang kita pakai, kainnya merupakan hasil dari produk petrokimia (produk yang dihasilkan dari minyak dan gas bumi). Sampai perabotan emak-emak seperti plastik warna-warni keramat bermerek inisial T dan teflon di dapur juga terbuat dari senyawa polimer, yang juga merupakan bagian dari produk petrokimia.

Nah, masih ingatkah ketika pandemi Covid-19 lagi booming-boomingnya? Tiba-tiba banyak orang menjadi ahli kimia dadakan. Mencampur bahan ini itu untuk membuat hand sanitizer dengan takaran asal-asalan hingga menyebarnya broadcast di grup WhatsApp bapak-bapak dan ibu-ibu secara masif bikin saya ingin misuh tapi tak sampai. Isi broadcast tersebut menguraikan bahan-bahan dari alam yang dipercaya dapat mencegah penyakit Covid-19 misalnya lemon dengan pH tinggi. Padahal lemon tuh asam kan? Asam sudah pasti pH nya rendah di bawah 7, kalau di atas itu sudah termasuk basa. Belum lagi bahan-bahan lainnya yang mencapai nilai pH hingga 20-an, sedangkan rentang nilai pH hanya sampai 14.

Jadi agak mengganjal rasanya jika kita sebagai manusia ingin menghindari sesuatu bernama “kimia”. Nggak semua bahan kimia itu berbahaya selama nggak melewati nilai ambang batas, Mylov. Tubuh kita bahkan tersusun dari bahan-bahan kimia termasuk penyusun terbesarnya yaitu air yang memiliki rumus molekul H2O. So, jangan takut lagi sama kimia, ya.

BACA JUGA Ava Korea Sudah Biasa Dikambing Hitamkan, Termasuk Soal Omnibus Law dan tulisan Jasmine Nadiah Aurin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 November 2020 oleh

Tags: bahan kimiaberbahayaherbalkimiamandul
Jasmine Nadiah Aurin

Jasmine Nadiah Aurin

Suka nulis yang iya-iya.

ArtikelTerkait

Jalur Klemuk Penghubung Kota Batu-Pujon: Lebih Dekat dan Cepat, tapi Taruhannya Nyawa Mojok.co

Jalur Klemuk Penghubung Kota Batu-Pujon: Lebih Dekat dan Cepat, tapi Taruhannya Nyawa

5 Januari 2024
Jangan Lewat Jalan Gunung Gumitir Perbatasan Banyuwangi-Jember kalau Kesabaran dan Keberanian Kalian Setipis Tisu Mojok.co

Jangan Lewat Jalan Gunung Gumitir Perbatasan Banyuwangi-Jember kalau Kesabaran dan Keberanian Kalian Setipis Tisu

2 November 2023
Bahan Kimia Belum Tentu Berbahaya, dan Bahan Alami Tak Selalu Aman

Bahan Kimia Belum Tentu Berbahaya, dan Bahan Alami Tak Selalu Aman

22 Mei 2022
5 Cara Terbebas dari Bahan Kimia Berbahaya dalam Lipstik

5 Cara Terbebas dari Bahan Kimia Berbahaya dalam Lipstik

28 Maret 2023
Rekomendasi Jamu Gendong Favorit Ramah Anak terminal mojok

Rekomendasi Jamu Gendong Favorit Ramah Anak

28 Juli 2021
Alasan Saya Mengonsumsi Jamu Komplit Sido Muncul Selain Harganya yang Rp4.000 Aja Mojok.co

Alasan Saya Mengonsumsi Jamu Komplit Sido Muncul Selain Harganya yang 4 Ribuan Aja

25 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau Mojok.co

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau

25 Juni 2026
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Cerita Mereka yang Masih Tetap Membeli Pertamax: Jualan Pertamax Eceran Makin Nggak Laku hingga Seorang Kurir yang Terpaksa Menekan Pengeluaran

21 Juni 2026
TransJatim Dibenci, tapi Ia Penyelamat Mahasiswa Surabaya (Wikimedia Commons)

Ugal-ugalan Sopir TransJatim Menyelamatkan Masa Depan Mahasiswa Mojokerto yang Kuliah di Surabaya

22 Juni 2026
Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

24 Juni 2026
Sebagai Warga Lokal, Saya Mengaku Iri dengan Anak Rantau yang Kuliah di Unila Lampung

Sebagai Warga Lokal, Saya Mengaku Iri dengan Anak Rantau yang Kuliah di Unila Lampung

23 Juni 2026
Dosa Indomie Ayam Bawang: Nggak Ada Bawang Goreng sebagai Pelengkap

Orang yang Bilang Indomie Warkop Lebih Enak Itu Aneh, Beneran

22 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.