Ketika Smartphone Menginvasi Ruang Keluarga

Tiba-tiba bapak menyanyi, suaranya keras, ia memakai headshet dan sedang memandang layar smartphonenya. Saya mendekatinya, memanggil tapi nggak dijawab.

Artikel

Avatar

Minggu lalu saya pulang ke rumah, saya baru menyadari banyak hal yang berubah di rumah ini. Terutama ketika smartphone menginvasi keluarga kecil saya.

Saat ini saya adalah seorang mahasiswa perantauan. Saya sedang kuliah di Semarang sedangkan tempat tinggal saya di Purwokerto. Kata “pulang” menjadi kata yang cukup asing bagi saya, karena memang saya jarang pulang.

Biasanya kalau lagi pulang, saya lebih sering berdiam diri di rumah, sesekali mengunjungi teman lama yang masih tersisa. Sisanya hanya kemalasan. Itulah kenapa saya jarang pulang ke rumah.

Saya bisa pulang 6 bulan sekali, hanya saat liburan semester saja. Orang tua saya bukannya diam saja, mereka sering menelpon untuk menanyakan kabar. Tapi, ya, emang dasar saya ini pemalas untuk pulang.

Saya akan cerita tentang kepulangan saya minggu lalu. Tentang bapak, ibu, adik dan smarphone.

Tidak ada yang salah ketika saya sampai di rumah. Ibu sedang menonton sinetron di televisi bersama bapak. Adik saya yang kini sudah SMA sibuk main PUBG di kamarnya. Game online kini memang sedang marak disukai anak-anak seumurannya.

Saya mengambil makan lalu ikut duduk di ruang televisi. Tiba-tiba bapak menyanyi, suaranya keras, ia memakai headshet dan sedang memandang layar smartphonenya. Saya mendekatinya, lalu memanggil tapi nggak dijawab.

Dalam hati saya, “Bapak lagi video call sama siapa? Kok sambil nyanyi?”

Eh, ternyata bapak bukan sedang video call, tapi lagi nyanyi lagu Ebiet G. Ade di Smule. Ya ampun, Smule, siapa yang mengajari bapak saya main Smule dan siapa yang mengenalkannya. Maksud saya, emangnya Smule keren ya?

Kemudian, setelah selesai satu lagu, bapak langsung beralih untuk berkaraoke lagu lain dengan teman Smulenya yang entah siapa. Saya melihat raut muka bahagia di sana.

Baca Juga:  Kita Tidak Akan Pernah Selesai dari Masalah-Masalah

Saya jadi teringat cerita bapak dulu, ketika ia selalu mengikuti lomba nyanyi untuk mewakili kelasnya saat classmeeting, waktu jaman ia masih SMA. Sampai-sampai ia pernah bercita-cita jadi penyanyi, meski nggak kesampaian. Nyanyi sekarang hanya menjadi hobi dan sebagaimana hobi pada umumnya, selalu menimbulkan kebahagiaan.

Smule keren nggak keren itu menjadi urusan belakangan. Nyatanya aplikasi itu kini membuat bapak seneng. Paling nggak ia bisa menyanyi kapanpun ia mau, menikmati saat-saat ia pernah bercita-cita jadi penyanyi seperti dulu.

Smarthphone emang sepertinya sedang menginvasi keluarga saya. Setelah bapak yang main Smule, kini giliran ibu saya yang bingung caranya mengirim foto lewat WhatsApp. Adik saya yang sekaligus berstatus sebagai ‘pelatih’ untuk mengajari cara bermain WhatsApp ibu, kadang suka kesal sendiri.

“Kayak gini caranya, Bu. Pencet yang ini, terus pilih foto di galeri terus kirim langsung,” kata adik saya.

“Bentar, pelan-pelan ngajarinnya,” jawab ibu.

Hal-hal seperti ini yang kadang katanya membuat mereka sering bertengkar, “Ibu kok nggak mudheng-mudheng, sih,” kata adik saya. Dan jika sudah seperti ini, sayalah yang akan dipanggil dan menjadi pelatih pengganti caranya bermain WhatsApp.

Waktu cepat sekali berubah, 18 tahun yang lalu, saat umurku masih 5 tahun, saya mungkin juga menjadi anak-anak yang paling sering bertanya dan mungkin paling rewel. Orang tua saya mungkin juga kesal dengan tingkah saya, meski nggak selalu ia perlihatkan.

Kini 18 tahun berlalu, giliran ibu saya yang banyak tanya tentang fitur-fitur WhatsApp. saya yang kesal karena nggak mudeng-mudeng hehe.

Dulu, saya dan adek sering dibiarkan bermain sendiri di teras rumah, sementara ibu dan bapak mengobrol di ruang tamu. Kini saya dan adek mengobrol tentang game online apa yang sedang ramai dimainkan banyak orang, sementara bapak main Smule dan ibu main WhatsApp.

Baca Juga:  Definisi Cowok Versi Iklan Rokok U-Mild

Saya kadang sering bertanya pada diri sendiri, apakah dunia di masa depan akan seperti ini? Saat masing-masing akan sibuk dengan dunianya di smartphone?

Apakah kita bahagia ketika bermain smartphone? Bukankah perjuangan sehari-hari kita adalah untuk bahagia? Lalu menerima takdir. Beginikah takdir kita kedepannya? (*)

BACA JUGA Lesung Pipi dan Kisah di Baliknya atau tulisan Chelsea Venda lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
121 kali dilihat

4

Komentar

Comments are closed.