Kenapa Orang Indonesia Kesulitan Belajar Bahasa Korea dan Bahasa Jepang?

Kenapa Orang Indonesia Kesulitan Belajar Bahasa Korea dan Bahasa Jepang Terminal Mojok

Kenapa Orang Indonesia Kesulitan Belajar Bahasa Korea dan Bahasa Jepang (Shutterstock.com)

Saat K-Pop sedang booming-booming-nya beberapa tahun silam di Indonesia, saya tertarik untuk belajar bahasa Korea. Banyak yang bilang kalau belajar bahasa Korea itu susah banget. Namun saya tidak terlalu ambil pusing dengan testimoni kebanyakan orang, hingga akhirnya saya berhadapan sendiri dengan bahasa Korea yang ternyata… tingkat kesulitannya memang tinggi.

Tingkat kesulitan belajar bahasa Korea itu sebelas dua belas dengan tingkat kesulitan belajar bahasa Jepang. Kebetulan waktu masih duduk di bangku SMA, saya pernah mendapatkan pelajaran bahasa Jepang. Sejujurnya, saat itu saya merasa kesulitan mengikuti mata pelajaran Bahasa Jepang. Justru mata pelajaran Bahasa Inggris jauh lebih mudah dipelajari.

Berdasarkan pengalaman saya mempelajari bahasa Korea dan bahasa Jepang, saya menemukan dua alasan kenapa dua bahasa tersebut sulit dipelajari orang Indonesia.

#1 Pola kalimat bahasa Korea dan bahasa Jepang berbeda dengan pola kalimat bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia yang kita kenal dari kecil menggunakan pola kalimat S-P-O (Subjek-Predikat-Objek). Bahasa Inggris pun menggunakan pola kalimat demikian. Namun, rupanya pola kalimat itu tidak berlaku bagi bahasa Korea dan bahasa Jepang. Bahasa Korea dan bahasa Jepang memiliki pola kalimat S-O-P (Subjek-Objek-Predikat). Bagi orang Indonesia yang sudah terbiasa menggunakan pola kalimat SPO, mencerna kalimat berpola SOP tentu akan sulit.

Misalnya kalimat “watashi wa Budi desu” (bahasa Jepang) dan “jeoneun budi imnida” (bahasa Korea). Kedua kalimat tersebut memiliki arti “saya adalah Budi”. Kata “desu” dan “imnida” memiliki arti “adalah”. Tentu berbeda dengan pola bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang telah kita pelajari sejak dulu. Contoh lainnya adalah “watashi wa gohan o tabemasu” (bahasa Jepang) dan “jeoneun babeul meogseumnida” (bahasa Korea) yang memiliki arti “saya makan nasi”. Tabemasu dan meogseumnida merupakan kata kerja yang diletakkan di akhir kalimat.

#2 Bahasa Korea dan bahasa Jepang menggunakan aksara khusus untuk menuliskan bahasanya

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, orang Korea dan Jepang tidak menggunakan huruf abjad dalam keseharian mereka. Hangeul digunakan orang Korea untuk menuliskan bahasa Korea dan terdiri dari 24 huruf—14 huruf konsonan dan 10 huruf vokal. Sementara, hiragana, katakana, dan kanji digunakan orang Jepang untuk menuliskan bahasa Jepang. Hiragana dan katakana masing-masing memiliki 46 karakter dasar, sementara kanji punya jumlah karakter ribuan.

Jika kita ingin belajar bahasa Korea dan bahasa Jepang, hal yang harus kita kuasai pertama kali adalah aksara khusus mereka ini. Dengan demikian, kita akan lebih mudah membaca dan menulis dalam bahasa Korea dan Jepang. Sementara itu, di Indonesia sejak kecil kita hanya mengenal huruf alfabet a, b, c, dst. sehingga ketika pertama kali berhadapan dengan hangeul, hiragana, katakana, dan juga kanji, kita akan kesulitan untuk menghafalkan bentuk dan juga menuliskannya.

Itulah dua alasan utama kenapa orang Indonesia kesulitan belajar bahasa Korea dan bahasa Jepang. Meskipun sulit, bukan berarti dua bahasa tersebut sama sekali tidak bisa kita pelajari. Hanya, kalau kita ingin menguasai dua bahasa dari Asia Timur tersebut, kita harus mengeluarkan energi lebih besar. Yang penting tetap semangat, siapa tahu kalau sudah jago nanti kita bisa cas cis cus ngobrol bareng idol favorit~

Penulis: Rahadian
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Cara Mudah Belajar Huruf Kanji Jepang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version