Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kenapa 30 Menit di Semarang Dibilang Jauh, tapi di Jakarta Dibilang Deket

Raihan Muhammad oleh Raihan Muhammad
15 Agustus 2025
A A
Jakarta Selatan, Tempat Paling Ideal bagi para Perantau. Lebih Aman, Nyaman, dan Terjangkau dari Daerah Jakarta Lainnya semarang

Jakarta Selatan, Tempat Paling Ideal bagi para Perantau. Lebih Aman, Nyaman, dan Terjangkau dari Daerah Jakarta Lainnya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai mahasiswa yang merantau ke Semarang, saya kaget pertama kali mendengar teman-teman bilang, “Loh, 30 menit? Jauh banget, males ah.” Padahal menurut saya, 30 menit itu bukan jarak yang mengerikan. Di tempat asal saya, Jakarta, waktu segitu malah sering dianggap dekat dan wajar untuk sekadar main atau nongkrong. Perbedaan cara pandang ini bikin saya mikir: kok bisa ya, jarak yang sama rasanya beda banget?

Misalnya, pernah suatu kali saya mengajak teman-teman nongkrong di kafe yang menurut Google Maps cuma 12 kilometer dari kos. Reaksi mereka langsung seperti saya baru saja mengajak ekspedisi lintas provinsi. “Jauh, Bro. Mending sini-sini aja,” kata mereka. Padahal kalau dihitung, perjalanan itu cuma butuh 30 menit lebih sedikit. Di tempat saya dulu, jarak segitu nggak bakal bikin orang mundur, paling cuma bikin nanya, “Lewat tol atau enggak?”

Dari situ saya sadar, soal jarak dan waktu ternyata sangat dipengaruhi kebiasaan hidup di kota masing-masing. Di Semarang, jalanan relatif lancar dan semua terasa lebih ringkas, sehingga 30 menit berkendara memang dianggap cukup jauh. Sedangkan di kota besar yang lalu lintasnya padat, waktu segitu justru sering dianggap dekat bahkan menguntungkan. Jadi, ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tapi bagaimana lingkungan membentuk persepsi kita tentang jauh dan dekat.

Jakarta: Jalan lebih banyak, waktu lebih panjang, beda dengan Semarang

Kalau di Semarang, pilihan jalan dari titik A ke titik B biasanya bisa dihitung dengan jari, di Jakarta justru seperti memilih menu di warteg—banyak pilihan, tapi ujung-ujungnya rasanya sama saja: tetap lama. Bedanya, di Jakarta kita bisa punya ilusi kendali. Mau lewat jalan besar? Macet. Mau lewat gang kecil? Macetnya lebih kecil, tapi deg-degan ketemu mobil dari arah berlawanan.

Banyaknya jalan di Jakarta membuat orang terbiasa memikirkan rute alternatif, bahkan sebelum berangkat. Ada sensasi “gaming” tersendiri saat mencari jalan tercepat lewat Google Maps, lengkap dengan strategi menghindari titik merah. Perjalanan 30 menit di Jakarta sering kali terasa “dekat” bukan karena jaraknya pendek, tapi karena itu sudah standar minimum dari sebuah perjalanan di sana.

Akhirnya, persepsi 30 menit di Jakarta jadi beda kelas. Di Semarang, waktu segitu sudah cukup untuk menempuh perjalanan lintas kecamatan. Di Jakarta, 30 menit itu baru cukup untuk keluar dari kawasan tempat tinggal. Jadi wajar kalau teman-teman di Semarang menganggap 30 menit itu “jauh,” sementara warga Jakarta menganggapnya “baru mulai.”

Macet: Teman sehari-hari warga Jakarta

Kalau ada satu hal yang membuat orang Jakarta dan sekitarnya punya standar “dekat” yang berbeda, jawabannya jelas: macet. Bukan macet biasa, tapi macet yang bisa membuat perjalanan lima kilometer memakan waktu satu jam penuh. Saking terbiasanya, orang Jakarta sampai bisa menebak durasi macet di jam tertentu, lengkap dengan titik-titik “rawan penumpukan” seperti tukang parkir hafal slot kosong.

Macet ini membuat persepsi waktu jadi melar. Perjalanan 30 menit di Jakarta itu ibarat “bonus waktu” karena biasanya butuh lebih lama. Jadi kalau ada rute yang cuma setengah jam, itu langsung dianggap rejeki nomplok. Wajar kalau mereka nggak keberatan berangkat sejauh itu, karena di standar mereka, itu masih kategori ringan.

Baca Juga:

Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan Semarang

Warlok Jakarta Orang Paling Kasihan Saat Lebaran, Cuma Jadi Penonton Euforia Mudik, Tidak Pernah Merasakannya Langsung

Sementara di Semarang, macet yang bikin orang stres jarang terjadi. Kalau pun ada, biasanya hanya di jam sibuk dan itu pun tidak separah di Jakarta. Akibatnya, 30 menit berkendara di Semarang benar-benar berarti jarak yang lumayan jauh, bukan efek “kecepatan siput” karena lalu lintas. Dan di situlah letak perbedaan mindset: di Jakarta, waktu perjalanan sudah “di-mark up” oleh macet; di Semarang, waktu perjalanan adalah waktu sebenarnya di jalan.

Mentalitas waktu: ‘sedia payung’ sebelum berangkat

Perbedaan lain yang bikin standar “jauh” dan “dekat” di dua kota ini semakin kontras adalah cara warganya mempersiapkan perjalanan. Orang Jakarta sudah terbiasa menambahkan “biaya waktu” dalam setiap agenda. Kalau janji ketemu jam tujuh malam, mereka bisa berangkat jam lima sore hanya untuk mengantisipasi macet, lampu merah yang kelewat lama, atau kejutan lain di jalan. Dalam pikiran mereka, berangkat terlalu cepat lebih aman ketimbang terjebak macet sambil panik lihat jam.

Sepengalaman saya, di Semarang, strategi itu terdengar seperti paranoia. Di sini, orang bisa berangkat setengah jam sebelum janji dan tetap sampai tepat waktu—bahkan kadang terlalu cepat sampai, lalu bingung mau ngapain sambil nunggu. Spontanitas lebih memungkinkan karena lalu lintas relatif ramah dan rutenya tidak sekompleks Jakarta.

Jadi, kalau dipikir-pikir, perbedaan persepsi soal “30 menit” sebenarnya bukan sekadar soal jarak dan jalan, tapi soal mentalitas hidup. Jakarta mengajarkan warganya untuk selalu siap dengan skenario terburuk di jalan, sedangkan Semarang membuat warganya terbiasa menikmati kecepatan perjalanan. Mungkin itu sebabnya, bagi orang Semarang, 30 menit terasa seperti perjalanan jauh, sementara bagi orang Jakarta, itu hanyalah pemanasan.

Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Belasan Tahun Tinggal di Semarang, Saya Kira Jakarta Lebih Panas Udaranya, Ternyata Semarang Masih Lebih Panas!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2025 oleh

Tags: Jakartajalan di semarangkemacetan jakartaSemarang
Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan. Pemerhati politik dan hukum. Doyan nulis secara satire/sarkas agar tetap waras. Aku menulis, maka aku ada.

ArtikelTerkait

Ungaran Bisa Dibanggakan Mengalahkan Kota Semarang. Orang Ungaran Nggak Perlu Malu!

Ungaran Bisa Dibanggakan Mengalahkan Kota Semarang. Orang Ungaran Nggak Perlu Malu!

9 Maret 2024
Jakarta Nggak Ada Keras-kerasnya Buat Orang Cikarang (Unsplash)

Jalanan Jakarta yang Keras dan Tak Ramah Pemula: Naik Ojol Bingung, Naik KRL Tambah Bingung

24 Januari 2024
Berencana Jalan-jalan ke Semarang Jangan Lupa Siapkan 5 Hal Berikut Ini Terminal Mojok

Berencana Wisata ke Semarang? Jangan Lupa Siapkan 5 Hal Berikut Ini

16 Juli 2022
Selamat Tinggal Bekasi, Ternyata Semarang Lebih Indah untuk Ditinggali dialek semarang

Maaf-maaf Saja, Semarang Jauh Lebih Superior ketimbang Cikarang, apalagi dalam 6 Hal Ini

16 Juli 2023
Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung Mojok.co

Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung

11 Februari 2026
Mimpi Lulusan S2 Mati di Jakarta, Masih Waras Sudah Syukur (Unsplashj)

Lulusan S2 Merantau ke Jakarta Sudah 3 Tahun: Kini Tidak Lagi Memikirkan Mimpi tapi Cara Bertahan Hidup dan Tetap Waras

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Menyiksa Suzuki Swift di Jalanan Pantura yang Tak Pernah Mulus dari Kudus ke Rembang

9 Maret 2026
Upin dan Ipin “Sahabat Baik Abah” Ceritanya Paling Menyayat Hati Dibanding Semua Episode Sedih yang Pernah Tayang Mojok.co

Cerita Upin dan Ipin “Sahabat Baik Abah” Paling Menyayat Hati Dibanding Semua Episode Sedih yang Pernah Tayang

6 Maret 2026
Honda Beat Motor yang Sempurna, Pantas Saja Didambakan Warga Kampung dan (Sayangnya) Jadi Incaran Empuk Maling Mojok.co

Honda Beat Motor yang Sempurna, Pantas Jadi Dambaan Warga Kampung dan (Sayangnya) Jadi Incaran Maling

11 Maret 2026
Apa yang Bisa Dibanggakan dari Daihatsu Ayla 2018? Sebiji Kaleng Susu Diberi Roda kok Dibanggakan

Apa sih yang Bisa Dibanggakan dari Daihatsu Ayla 2018? Sebiji Kaleng Susu Diberi Roda kok Dibanggakan

11 Maret 2026
Warga Pangalengan Musti Bangga Menjadi Penghasil Teh meski Tidak Pernah Bisa Menikmati Hasil Panennya

Warga Pangalengan Musti Bangga Menjadi Penghasil Teh meski Tidak Pernah Bisa Menikmati Hasil Panennya

11 Maret 2026
Mengenal Ampo, Camilan Khas Tuban yang Terbuat dari Tanah Liat Mojok.co

Ampo, Makanan Khas Tuban Nggak Akan Pernah Saya Coba

10 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik
  • Niat Ingin Lebih Cepat Naik Travel Malah Bikin Trauma, Sopir Tak Tahu Aturan dan Penumpang Tidak Tahu Diri
  • Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis
  • Sebagai Orang Jombang Saya Iri sama Kehidupan di Tuban, Padahal Tetangga tapi Terasa Jomplang
  • Kapok Suka Menolong Orang Lain usai Ketemu 4 Jenis Manusia Sialan, Benar-benar Nggak Layak Ditolong meski Kesusahan
  • Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.