Kelompok Penguasa Jalanan yang Bikin Pengendara Lain Auto-minggir

Kelompok Penguasa Jalanan yang Bikin Pengendara Lain Auto-minggir terminal mojok.co

Kelompok Penguasa Jalanan yang Bikin Pengendara Lain Auto-minggir terminal mojok.co

Belum lama ini kita dihebohkan oleh kejadian pengeroyokan dua orang anggota TNI di Bukittinggi, Sumatera Barat. Konyolnya, pengeroyokan ini dilakukan oleh anggota geng motor besar yang sedang touring seolah mereka penguasa jalanan. Saat ini kasusnya masih ditangani oleh Polres Bukittinggi dan 5 orang anggota geng motor tersebut telah ditahan atas tuduhan penganiayaan.

Kejadian semacam ini semakin memperjelas kesan arogansi dari geng motor besar. Namun, pastinya tidak semua anggota geng motor besar berperilaku seperti itu. Banyak yang masih asik-asik saja seperti Om Indro Warkop, Om Bingky Bikerstation, dan Om Eppry dari Deru Aspal Channel.

Menurut pengalaman saya, di Indonesia ada beberapa kelompok pengendara yang seolah bertindak layaknya penguasa jalanan saat mereka berkonvoi. Jika saya berpapasan dengan salah satu dari mereka, saya akan memilih untuk minggir. Sebab kata orang tua dulu, mengalah itu untuk menang (padahal kalah nyali hehehe).

Penguasa jalanan #1 Geng motor besar

Yang pertama tentu saja geng motor besar. Saya menyebutnya dengan geng motor selonjoran. Kenapa? Sebab motor jenis ini, taulah motor yang mana, jika dikendarai oleh orang yang bertinggi badan kurang dari 170 cm layaknya mayoritas postur orang Indonesia, termasuk saya, pengendara akan tampak seperti orang yang sedang selonjoran. Posisi kakinya hampir lurus. Bahkan memang ada yang benar-benar lurus. Beda kalau lagi naik motor matic atau bebek.

Dengan motor cc besar yang suaranya menggetarkan dada, dipadu dengan jaket hitam dengan bordiran logo kelompok yang keren (saya akui memang keren), ditambah dengan pengawalan dari polisi, tentu siapa saja yang bertemu dengan kelompok ini biasanya akan minder dan minggir dengan sendirinya. Biasanya anggota kelompok ini jarang sekali terlihat melaju sendirian di jalanan. Mereka lebih sering terlihat beriringan antara 10-15 motor. Bisa lebih jika sedang ada acara touring atau baksos. Nggak heran kalau kehadiran mereka udah kayak penguasa jalanan beneran.

Di kelompok ini, katanya, banyak sekali pejabat, atau mantan pejabat yang menjadi anggotanya. Baik pejabat pemerintahan, pejabat BUMN, hingga mantan perwira dari kalangan TNI/POLRI. Dengan komposisi seperti itu, wajar jika saya yang rabi (rakyat biasa) ini jadi minder jika berpapasan dengan mereka. Insya Allah minggir saya.

Penguasa jalanan #2 Kelompok pengiring jenazah

Yang kedua adalah kelompok pengiring jenazah. Ini adalah salah satu penguasa jalanan yang sering saya temui. Dengan berbekal bendera kuning yang dilambai-lambaikan, kelompok ini merasa berhak untuk meminta minggir semua pengguna jalan yang dilaluinya menuju tempat pemakaman. Lampu merah pun bisa diterobos. Saya sempat beberapa kali jadi “anggota dadakan” kelompok ini saat mengiringi jenazah kerabat yang meninggal.

Jangan coba-coba untuk tidak mau minggir saat mereka lewat. Mereka akan berubah drastis dari sedih karena ditinggal oleh handai taulan, menjadi semangat berlebihan alias galak. Kawan saya pernah apes saat terjadi salah paham dengan kelompok ini. Dia jadi bulan-bulanan oknum arogan yang tidak bertanggung jawab.

Padahal jika mau jujur, kenapa sih harus buru-buru mengantar jenazah? Bukankah yang diantar itu sedang beristirahat dengan tenang? Jika yang mengantar serba terburu-buru dan jadi galak, apa iya yang diantar bisa tenang?

Penguasa jalanan #3 Majelis taklim

Kelompok ketiga adalah kelompok majelis taklim. Menurut saya sih, kelompok ini tidak searogan yang lain. Mereka tidak suka memainkan tuas gas motor untuk mencari perhatian layaknya tindakan penguasa jalanan lain. Malah mereka cenderung pelan saat konvoi. Hanya saja posisinya sering di jalur tengah sehingga menutupi jalan. Padahal masih bisa ambil jalur kiri. Belum lagi dengan atribut majelis yang dibawa seperti bendera. Rasa-rasanya seperti melihat konvoi kampanye majelis taklim.

Namun, yang bikin iri saya bukan cara mereka berkendara, melainkan atribut yang dipakai. Bagaimana tidak iri? Dengan bermodal sarung, baju koko, sama peci saja sudah bisa ikut rombongan. Tanpa helm pula. Boti alias bonceng tiga itu sudah biasa. Pak polisi biasanya maklum dan tidak menilang. Toh niatnya mereka cuma mau ikutan majelis taklim. Menimba ilmu agama tentu lebih baik daripada ikutan balap liar. Mungkin itu yang ada di pikiran polisi.

Penguasa jalanan #4 Kampanye parpol

Yang keempat adalah kelompok peserta kampanye parpol. Kelompok ini “luar biasa” penampilannya. Cukup dengan kaos partai atau bendera partai, tanpa helm dan kadang tanpa plat nomor alias motor bodong, sudah bisa keliling kota ikut pawai. Knalpot sudah pasti kencang sekencang-kencangnya. Bahkan sudah menjadi ciri khas mereka jika memainkan gas motornya secara kompak seperti ngeng… ngeng… ngeng ngeng ngeng. Khas motor dua tak. Begitu saja berulang-ulang sampe bensinnya habis.

Jika bertemu dengan kelompok penguasa jalanan ini juga sebaiknya anda minggir. Jangan cari gara-gara, apalagi sampai mengacungkan jari tanda nomor partai yang berbeda. Ngajak ribut namanya!

Selain empat kelompok tadi, ada dua kelompok lainnya yang patut diperhitungkan sebagai penguasa jalanan. Yang pertama adalah kelompok ibu-ibu naik motor matic. Ini tentu sudah tidak asing lagi ya. Reputasinya sudah viral ke mana-mana. Sein ke kiri beloknya ke kanan. Sein ke kanan beloknya ke kiri. Bahkan, tanpa kasih sein pun bisa tiba-tiba belok. Mungkin ibu-ibu ini punya masalah disorientasi. Sulit membedakan antara kiri dan kanan. Namun, jika bertemu di jalan, jangan coba-coba melawan. Anda harus ingat bahwa surga di bawah telapak kaki mereka. Polisi saja sering mengalah, apalagi kita.

Yang kedua adalah kelompok pesepeda. Kelompok ini mulai marak belakangan sejak tren naik sepeda melanda masyarakat urban. Selain berkelompok, banyak juga pesepeda solo rider. Yang solo rider biasanya lebih tahu diri dan bersepeda di lajur paling kiri. Tapi, kalau yang berkelompok berbeda. Bersepeda di jalur cepat sudah biasa dan melaju dalam kecepatan yang lebih tinggi. meskipun setinggi-tingginya mereka melaju, tetap kalah cepat dengan kendaraan bermotor.

Nah, kita yang naik kendaraan bermotor harus maklum dan toleransi kepada mereka. Sama seperti konvoi-konvoi lainnya, jika kita bersenggolan dengan mereka, maka siap-siap digalakin. 

Faktor psikologi massa menjadi sentral di sini. Kelompok-kelompok yang saya sebutkan tadi menjadi penguasa jalanan karena menang jumlah. Dengan berkelompok, mereka menjadi banyak secara jumlah hingga berani untuk menerima “tantangan” dari siapa pun.

Masih ingat kejadian beberapa tukang parkir yang menganiaya anggota TNI di Cibubur, Jakarta Timur beberapa waktu lalu? Hasil penyidikan polisi menyatakan bahwa para pelaku berani melakukan hal itu karena merasa menang jumlah. Mereka berlima, sedangkan saat kejadian, anggota TNI-nya hanya sendiri. Beraninya keroyokan sih.

Yang bisa dikecualikan dari faktor psikologi massa hanyalah ibu-ibu. Tidak perlu konvoi dan tidak perlu ramai-ramai. Sendirian naik motor matic saja kita sudah ngeri. Bagaimana jika mereka konvoi berkelompok naik motor besar, pakai atribut majelis taklim, sekaligus membunyikan gas layaknya orang kampanye partai? Ngerinya ultimate.

BACA JUGA Vaksin Covid-19 Butuh Waktu Lama untuk Dibuat: Penjelasan Sederhana dan tulisan Riskal Arief lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version