5 Kelemahan Punya Rumah Dekat Sawah yang Jarang Disadari Orang Kota

5 Kelemahan Punya Rumah Dekat Sawah yang Jarang Disadari Orang Kota Mojok.co

5 Kelemahan Punya Rumah Dekat Sawah yang Jarang Disadari Orang Kota (unsplash.com)

Selama ini orang-orang kota selalu beranggapan bahwa hidup dan punya rumah di dekat hamparan sawah yang hijau itu enak. Orang-orang kota selalu meromantisasi rumah dekat sawah. Bahkan punya rumah di dekat sawah itu sampai jadi cita-cita mereka. Kata mereka, hidup akan nyaman, jauh dari kebisingan, jauh dari hiruk-pikuk kota, slow living gitu, lah, kalau bahasa mereka.

Sebagai orang yang rumahnya nggak begitu jauh dari persawahan (dan perkebunan), saya cukup sepakat dengan anggapan itu. Beberapa anggapan orang-orang kota itu ada benarnya. Soal jauh dari kebisingan dan hiruk-pikuk kota atau soal ketenangan, itu memang benar. Tapi ya sebatas itu saja, sebab punya rumah di dekat sawah itu juga banyak kelemahannya, banyak nggak enaknya.

Baca juga 4 Kelemahan Tinggal di Apartemen yang Nggak Tertera dalam Brosur.

#1 Rumah dekat sawah rawan didatangi hewan liar

Faktor pertama yang bikin punya rumah di dekat sawah itu nggak enak ya soal adanya hewan-hewan liar. Hewan-hewan liar di sini maksudnya serangga seperti jangkrik, kumbang, dsb, serta hama-hama lain seperti ular atau tikus. Seperti kita tahu, sawah itu habitat hewan-hewan tersebut. Punya rumah dekat sawah, berarti kita akan bertetangga dengan mereka, dan siap menyambut “kedatangan” mereka di rumah secara tiba-tiba.

Coba saja kalian tanya orang-orang yang rumahnya dekat atau bahkan bersebelahan dengan sawah, berapa kali hewan-hewan liar ini masuk rumah. Pasti jawabannya nggak terhitung. Kalau yang masuk rumah masih sebangsa serangga, sih, nggak apa-apa. Tapi kalau yang masuk sudah ular atau tikus, ini yang jadi masalah. Apalagi ular sawah yang berbisa, ancamannya bisa nyawa, bos!

 Gimana? Masih mau menganggap punya rumah di dekat sawah itu enak semua?

#2 Bau pupuk dan pestisida yang menyengat

Punya rumah di dekat sawah (termasuk kebun) berarti harus siap menghadapi musim tanam. Kalau sudah masuk musim tanam, sawah-sawah akan lebih sibuk, dan akan banyak kegiatan di sana. Salah satu kegiatan yang akan sering dijumpai adalah pemupukan dan penyemprotan pestisida. Kalau sudah masuk ke masa pemupukan dan penyemprotan pestisida, siap-siap saja dengan aromanya.

Kita semua tahu bahwa pupuk dan pestisida ini aromanya menyengat. Apalagi kalau pupuknya pupuk organik, aromanya bisa tembus ke dada itu. Makanya, kalau punya rumah di dekat sawah, ya mau nggak mau kalian harus siap dan tahan dengan aroma-aroma menyengat seperti ini. Orang-orang yang nggak terbiasa dengan bau-bau ajaib dari pupuk jelas nggak akan betah dengan kondisi seperti ini.

Waktu kalian bilang bahwa punya rumah di dekat sawah itu enak, pernah kepikiran soal ini, nggak?

#3 Rumah dekat sawah itu lembab, jamur di dinding, hingga ancaman banjir

Punya rumah di dekat sawah itu repot banget kalau sudah masuk musim hujan. Ancamannya macam-macam. Mulai dari munculnya berbagai macam serangga yang tiba-tiba masuk rumah, hingga ancaman naiknya air (bahkan sampai banjir) yang bikin rumah jadi lebih lembab. Kalau sudah kelembabannya tinggi, walhasil bakal banyak jamur di dinding.

Kalau masih sebatas kelembaban tinggi atau jamur di dinding, sih, sebenarnya masih cukup bisa diatasi. Ancamannya masih cukup ringan, lah. Tapi kalau sudah banjir, ini yang repot banget. Sebab banjir di area sawah ini menyebalkan banget. Nggak hanya air yang masuk, tapi juga lumpur, hewan-hewan, hingga tanaman, terbawa air.

Makanya, kalau punya (akan punya) rumah di dekat sawah, harus benar-benar mempertimbangkan soal riwayat banjir daerah tersebut, dan harus memikirkan soal drainase di sekitar rumah. Intinya, harus mau ekstra repot.

Baca juga Rumah Dekat Taman Sari Jogja Itu Menderita, Jadi Tontonan Turis hingga Sering Mengalah demi Pariwisata.

#4 Akses dan fasilitas publik yang terbatas

Di sebagian besar daerah, area persawahan itu biasanya terletak jauh dari pusat kota. Jauh dari pusat kota, artinya akses dan infrastrukturnya makin berkurang, makin terbatas. Hal yang paling terlihat adalah soal akses jalan. Kalau sudah masuk area persawahan, area pelosok, akses jalannya biasanya nggak sebagus yang ada di kota. Ini juga diperparah dengan penerangan yang minim.

Selain akses berupa jalan, fasilitas publik lainnya juga terbatas. Fasilitas pendidikan (sekolah), hingga fasilitas kesehatan jadi nggak banyak. Nggak sebanyak yang ada di kota, lah. Dengan keadaan seperti ini, akan jadi PR besar kalau suatu saat ada apa-apa. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pembicaraan soal romantisasi hidup di dekat sawah. Orang cuma mikir sunyi dan tenangnya, tapi nggak mikir soal gimana akses dan fasilitas publiknya.

#5 Ancaman maling

Faktor terakhir soal nggak enaknya punya rumah dekat sawah adalah adanya ancaman maling. Mengapa begitu? Sini tak jelasin. Area persawahan itu adalah area yang sepi dan gelap kalau malam tiba. Penerangannya minim, keamanan juga nggak begitu ketat. Rumah-rumah yang ada di dekat sawah itu biasanya berjarak antar satu rumah dan rumah yang lain.

Situasi ini jelas jadi sasaran empuk para maling. Apalagi kalau misalnya rumah kalian berada di dekat persawahan, tapi jauh dari tetangga. Lalu kalian adalah keluarga yang berada, punya beberapa barang berharga. Rumah kalian pasti jadi sasaran maling. Kalau amit-amit sampai kemalingan, kalian akan susah menangkapnya, apalagi dengan situasi dan kondisi lingkungan serta rumah yang kayak gitu.

Gimana? Setelah baca 5 poin di atas, apakah kalian orang-orang kota masih menganggap bahwa punya rumah di dekat sawah itu mesti enak? Mending pikir-pikir lagi, deh!

Penulis: IqbaL AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Tinggal di Perumahan Nggak Semenyenangkan Itu, Ini Dia 3 Alasannya!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version