Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kebumen: Kabupaten yang Harusnya Surga Wisata dan Kaya, tapi Malah Termiskin di Jawa Tengah, kok Bisa?

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
9 Juli 2025
A A
Kebumen di Tahun 2025: Menuju Kabupaten Kaya Raya Atau Ilusi Belaka?

Kebumen di Tahun 2025: Menuju Kabupaten Kaya Raya Atau Ilusi Belaka? (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Hidup itu memang penuh ironi. Kayak cowok ganteng tapi galau terus, atau cewek pintar tapi susah dapat jodoh. Nah, hal yang sama juga terjadi pada beberapa daerah di Indonesia. Ada yang punya segalanya tapi tetap aja miskin. Salah satunya adalah Kebumen, Jawa Tengah.

Kebumen itu paradoks banget sih. Bayangin aja, daerah ini punya segudang tempat wisata yang instagramable abis. Mulai dari Pantai Menganti yang hits, Benteng Van der Wijck yang bersejarah, sampai Goa Jatijajar yang eksotis. Tapi ironisnya, Kebumen malah jadi daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Tengah berdasarkan data BPS 2024. Kok bisa?

Kebumen punya segalanya, tapi tetap miskin

Soal potensi wisata, Kebumen sebetulnya nggak main-main. Ada Pantai Menganti yang view-nya bisa bikin Bali minder. Ada Goa Jatijajar, Benteng Van Der Wijck, Bukit Pentulu Indah, sampai Karangsambung yang jadi laboratorium geologi nasional.

Tapi ya itu, banyak tempat wisata ini belum dikelola maksimal. Masih minim penginapan, transportasi umum, promosi digital juga belum nendang. Padahal, kalau dikelola serius, Kebumen bisa jadi “Bali-nya Jawa Tengah bagian selatan”.

Sayangnya, potensi wisata ini belum cukup buat mendongkrak ekonomi masyarakat. Berdasarkan data BPS 2024, tingkat kemiskinan di Kebumen pada 2024 masih di angka 15,71% (sekitar 187.950 jiwa). Angka ini jauh di atas rata-rata kemiskinan Jawa Tengah yang sekitar 10,77%. Bahkan, Kebumen jadi kabupaten termiskin se-Jawa Tengah tahun ini.

Dari sisi ekonomi, PDRB per kapita Kebumen tahun 2024 sekitar Rp26 juta per tahun (sekitar Rp2,17 juta per bulan) masih tergolong rendah untuk ukuran Jawa Tengah.

Kenapa Kebumen bisa miskin?

Kita coba bongkar dari beberapa sisi. Pertama, struktur ekonomi Kebumen masih didominasi oleh sektor pertanian. Meski sektor ini menyerap tenaga kerja besar, tapi nilai tambahnya kecil. Petani di Kebumen masih banyak yang bergantung pada metode tradisional, irigasi tadah hujan, dan belum tersentuh teknologi pertanian modern.

Kedua, minimnya industri pengolahan dan investasi. Tidak seperti daerah tetangga seperti Banyumas atau Cilacap yang mulai berkembang sektor industrinya, Kebumen masih belum punya zona industri yang kuat. Akibatnya, lapangan kerja terbatas dan anak muda banyak yang akhirnya merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Semarang. Kebumen pun mengalami apa yang disebut “brain drain”, kehilangan sumber daya manusianya yang potensial karena mereka cari hidup lebih layak di luar.

Baca Juga:

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

Ketiga, sektor pariwisata yang belum terintegrasi secara ekonomi lokal. Banyak wisatawan yang datang ke Pantai Menganti atau Benteng Van Der Wijck, tapi uangnya nggak berputar di masyarakat sekitar. Penginapan, makanan, dan jasa wisata banyak yang belum dikelola oleh masyarakat lokal secara optimal. Artinya, efek ganda dari pariwisata (multiplier effect) belum terasa sepenuhnya.

Indikator Lain yang Menguatkan: IPM dan Pengeluaran

Coba cek Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kebumen tahun 2024, angkanya 72,48, masih di bawah rata-rata provinsi yang 73,4.  Indikator ini gabungan pendidikan, kesehatan, dan pengeluaran. Rata-rata lama sekolah di Kebumen tahun 2023 baru 7,86 tahun, alias banyak yang belum lulus SMP. Target 2024 baru naik sedikit ke 7,94 tahun. Sementara itu, pengeluaran per kapita masyarakat Kebumen tahun 2024 diperkirakan sekitar Rp1.028.462 per bulan (sekitar Rp12,3 juta per tahun). Artinya, mayoritas warga hidup dengan pengeluaran yang sangat terbatas.

Jadi, apa yang harus dilakukan?

Pemerintah Kebumen sebenarnya nggak buta soal ini. Dalam dokumen perencanaan daerah seperti RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), sudah jelas disebutkan prioritas pembangunan adalah sektor wisata, pertanian modern, dan pendidikan. Tapi, ya itu tadi, eksekusinya masih lemah.

Kebumen butuh intervensi besar dalam infrastruktur wisata dan pemberdayaan ekonomi lokal. Jangan cuma bangun jalan ke pantai, tapi juga ciptakan ekosistem ekonomi di sekitarnya. Pelatihan UMKM, digitalisasi promosi, bahkan kerja sama dengan travel agent besar bisa dilakukan.

Sektor pertanian juga perlu revolusi teknologi dan akses pasar yang adil. Petani harus dikasih alat, dikasih pelatihan, dikasih informasi harga pasar real-time. Jangan cuma disuruh tanam padi dan pasrah dijual ke tengkulak.

Dan satu lagi yang krusial yaitu investasi di pendidikan. Kalau mau penduduknya sejahtera, kasih akses sekolah yang berkualitas, dan dorong anak-anak muda buat balik ke kampung halaman setelah kuliah. Jangan sampai Kebumen cuma jadi tempat lahir dan kubur, tapi rezekinya harus dicari jauh di luar sana.

Mau sampai kapan kayak gini terus?

Kebumen ini sebetulnya bukan kabupaten yang nggak punya apa-apa. Justru dia punya segalanya, dari potensi wisata, lahan pertanian luas, hingga sejarah dan budaya yang kaya. Tapi semua itu belum cukup kalau nggak didukung strategi pembangunan yang kuat dan konsisten.

Mau sampai kapan jadi “kabupaten potensi” yang miskin terus?

Toh masyarakatnya nggak butuh banyak, cukup bisa hidup layak di kampung sendiri, nggak perlu cari rezeki ke Jakarta atau Serpong. Tapi untuk itu terjadi, pemerintah dan semua pemangku kebijakan harus mulai serius memanfaatkan potensi yang ada, bukan cuma mengandalkan laporan dan janji-janji pembangunan semata.

Karena kalau nggak, Kebumen akan terus jadi ironi geografi, surga wisata yang isinya paradoks kemiskinan.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mencoba Menyelesaikan Perdebatan Mana yang Lebih Maju, Kebumen atau Purworejo

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Juli 2025 oleh

Tags: jawa tengahKabupaten KebumenKebumen
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Pantai Gajah Kebumen, Tempat Wisata Kebupaten yang Bikin Orang Kota Terheran-heran Mojok.co

Pantai Gajah Kebumen, Tempat Wisata Kebupaten yang Bikin Orang Kota Terheran-heran

19 Mei 2025
culture shock si inyong arek kota surabaya terminal mojok

Ekspektasi Tak Sesuai Kenyataan, Tetap Bangga Bilang Inyong Arek Suroboyo

17 April 2021
Terminal Bawen Semarang (Dokumen pribadi penulis)

Terminal Bawen Semarang Menyimpan Banyak Kisah Lelaki Tangguh yang Cinta Keluarga

9 Oktober 2023
Alun-Alun Wonosobo, Alun-Alun Tersepi yang Pernah Saya Kunjungi Mojok.co

Alun-Alun Wonosobo, Alun-Alun Tersepi yang Pernah Saya Kunjungi

26 Februari 2024
Solo Gerus Mental, Sragen Memberi Ketenangan bagi Mahasiswa (Unsplash)

Pengalaman Saya Kuliah di Solo yang Bikin Bingung dan Menyiksa Mental “Anak Rantau” dari Sragen

13 Desember 2025
Aturan Tidak Tertulis yang Terpaksa Harus Saya Tulis bagi para Pemudik di Solo

Aturan Tidak Tertulis yang Terpaksa Harus Saya Tulis bagi para Pemudik di Solo

7 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

1 April 2026
Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”
  • 10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal
  • Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”
  • Saya Setuju Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup
  • Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial
  • WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.