#2 Bandara Juanda punya Sidoarjo bukan Surabaya
Ini lagi. Sebagai kota besar, saya anggap Surabaya sama seperti Jogja. Sama-sama punya bandara sebagai pelengkap semua titik kumpul alat transportasi.
Nyatanya, secara administrasi, Bandara Juanda ini ada di Sidoarjo, tepatnya di Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Namun, secara branding dan identitas publik, memang lebih melekat ke Surabaya.
Ya maklum, Surabaya adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Timur sekaligus kota terbesar kedua di Indonesia. Sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, Surabaya menjadi destination city kalau kita membandingkannya dengan Sidoarjo. Maaf ya, Darjo.
Oleh sebab itu, Bandara Juanda, secara fungsional, banyak yang menganggapnya sebagai bagian dari infrastruktur Surabaya. Kenyataan yang bikin nama Sidoarjo agak terpinggirkan.
Selain itu, yang kerap membuat “salah paham” adalah perkara jarak. Meskipun berada di Kecamatan Sedati, Sidoarjo, letak Bandara Juanda sangat dekat dengan perbatasan Surabaya.
Jaraknya hanya sekitar 15 kilometer dari pusat kota Surabaya. Bagi orang luar daerah, batas wilayah antara Sidoarjo dan Surabaya sering tidak terlihat jelas karena pembangunan yang sudah menyambung.
#3 Lontong kupang yang sangat bikin salah paham
Saya tidak suka lontong kupang. Entah kenapa nggak cocok sama selera saya. Sudah nggak suka, kuliner ini paling bisa bikin salah paham.
Pertama, meski memakai nama “kupang”, kuliner ini tidak berasal dari Kupang di NTT. Kedua, ia tidak berasal dari Surabaya meski banyak orang awam yang mengenalnya sebagai kuliner khas Kota Pahlawan. Ketiga, lontong kupang berasal dari Sidoarjo. Keren sekali.
Secara historis dan geografis, lontong kupang berasal dari daerah pesisir Sidoarjo seperti Balongdowo dan Candi. Istilah “kupang” merujuk kepada kerang laut berukuran sangat kecil seukuran biji beras di pantai berlumpur. Nah, para nelayan dan pedagang dari Sidoarjo akan memasarkan kupang tangkapan ke Surabaya karena potensi ekonomi yang lebih besar.
Ada beberapa alasan kuliner ini malah nempel ke branding-nya Surabaya. Pertama, populasi pedagang lontong kupang di Surabaya lebih besar ketimbang Sidoarjo. Mulai dari pedagang kaki lima hingga restoran khusus.
Kedua, Kota Pahlawan menjadi pusat wisata kuliner. Ini yang membuat wisatawan mengasosiasikannya sebagai “makanan khas Surabaya”. Ketiga, kemiripan budaya yang semirip itu sehingga sering dianggap satu kesatuan wilayah (Gerbangkertosusila).
Nah, begitulah, kalau nggak sering ke Surabaya, saya nggak akan tahu berbagai “kebohongan” ini. Padahal faktanya, Sidoarjo sekeren itu. Punya terminal, bandara, dan kuliner yang begitu khas.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















