#3 Hidup di Solo murah, tapi nabung tetap susah
Katanya Solo itu murah. Makan seporsi nasi liwet masih bisa di bawah harga kopi kekinian di kota besar. Ongkos angkot (yang sekarang sudah jadi barang langka) dulu juga ramah di kantong.
Masalahnya, karena murah, godaan jajan jadi lebih sering. Hari ini makan tengkleng, besok nyobain selat Solo, lusa ngopi sambil ngemil serabi. Murah satuan, tapi seringnya itu yang bikin pengeluaran jadi akumulatif dan terasa juga di akhir bulan.
Belum lagi karena merasa hidup santai, kita jadi jarang mikir soal masa depan. Nggak terasa, hidup hemat tapi tanpa sadar juga nggak produktif menabung. Katanya “biaya hidup di Solo rendah”, realitanya saldo tetap cepat habis.
Baca juga: Solo Punya Segalanya, tapi Masih Kalah Pamor sama Jogja.
#4 Nggak tenang-tenang amat
Brosur wisata selalu menggambarkan Solo sebagai kota yang tenang, jauh dari hiruk pikuk kota besar, tempat yang pas buat slow living dan healing. Dan dibanding Jakarta atau Surabaya, memang Solo lebih tenang.
Tapi realitanya, Solo punya vibenya sendiri yang sebenernya nggak kalah rame. Jalanan macet di jam-jam tertentu terutama di area Gladag atau Purwosari. Suara klakson motor nggak kalah ribut dari kota lain. Weekend di Alun-Alun atau Ngarsopuro? Rame banget, penuh sesak, Instagram vibes-nya menguap digantikan keringat.
Yang bikin lebih nggak tenang, Solo itu kota yang lagi berkembang. Setiap bulan ada aja kafe baru, tempat makan baru, spot foto baru. FOMO-nya tinggi banget. Kamu mikir mau weekend santai di kos aja, tapi timeline Instagram penuh orang yang lagi di tempat-tempat baru yang aesthetic. Jadilah kamu keluar juga, ngeluarin duit lagi, capek, pulang kos malah lebih stres.
Jadi, tenang itu relatif. Kalau kamu bandingkan dengan Jakarta yang traffic-nya brutal 24/7, ya Solo tenang. Tapi kalau ekspektasinya Solo tuh kayak desa yang adem dan sunyi, ya salah besar.
Semua kebohongan ini yang bikin hidup di Solo jadi menarik. Kamu dapat pengalaman yang nggak bakal kamu dapatkan di kota lain. Kamu belajar bahwa hidup itu nggak selalu sesuai ekspektasi, dan itu nggak masalah.
Dan kalau kamu tanya apakah saya akan merekomendasikan orang buat pindah ke Solo? Ya. Tapi dengan catatan jangan percaya brosur wisata. Percaya sama cerita orang yang udah tinggal di sini. Karena realita Solo jauh lebih menarik daripada yang dijual di brosur dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Intan Ekapratiwi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















