Kadang saya merasa miris melihat fenomena ini. Ada teman rela mengambil kredit iPhone bertahun-tahun padahal gajinya sendiri pas-pasan. Semua demi “nggak pakai” Android karena katanya murahan dan cerminan orang belum sukses.
Bukan berarti saya anti sama iPhone atau mau menghakimi pilihan orang. Setiap orang bebas membeli apa saja dengan uangnya sendiri. Namun kenapa, sampai sekarang, hape ini menjadi ukuran kesuksesan? Bagi saya, ini kebohongan besar.
Anggapan “naik kasta” yang sudah ada sejak lama
Sejak lama, ada sebuah stigma yang menempel pada iPhone. Bahwa, yang punya produk Apple ini, sudah naik kasta atau sukses dengan hidupnya. Sementara itu, yang menggunakan Android, hidupnya masing gitu-gitu aja. Maka, kita mengenal hape sebagai penanda status sosial.
Begitu seseorang mengeluarkan iPhone dari saku, muncul asumsi:
“Oh, orangnya sukses.”
“Pasti hidupnya mapan.”
“kayaknya kariernya bagus.”
Apple memang sangat berhasil membangun citra eksklusif. Dari desain, harga, hingga cara mereka memasarkan produknya, semuanya konsisten menciptakan kesan premium. Tanpa sadar, citra itu melekat di benak masyarakat. Akhirnya, iPhone tidak lagi alat komunikasi, tapi penanda kelas sosial.
Mengorbankan hidup demi iPhone
Masalahnya, stigma ini nggak sejalan dengan kondisi ekonomi pengguna iPhone. Padahal, standar hidup mereka ya “masih Android”. Alias, hidup serba susah. Namun, mereka mengorbankan hidupnya demi status. Sejak zaman dulu, nggak berubah. Padahal, contohnya sudah banyak.
Sudah begitu, mereka membeli iPhone bukan karena benar-benar butuh. Semua cuma demi status “udah nyampe”. Mereka takut terlihat kalah.
Tidak menyadari tekanan sosial, hidupnya “masih Android”
Banyak dari kita sudah melihat contohnya secara langsung. Namun, sebagian besar nggak mau menyadari betapa kuatnya tekanan sosial soal hape.
Hidup masih “standar Android”, tapi memaksa diri membeli Iphone seri terbaru. Dari sana, lahir kelas dalam pergaulan. Yang menggunakan Android akan selalu menjadi “kelas dua”. Titik.
Saya tidak perlu menjelaskan lagi soal perkembangan hape Android. Banyak yang memasang harga murah, tapi kualitasnya sudah lebih dari cukup. Secara logika, tidak ada yang kurang. Tapi secara persepsi sosial, ceritanya berbeda. Namun di masyarakat kita, fungsi sering kalah oleh gengsi.
Orang sukses nggak pamer iPhone
Banyak orang sukses secara nyata justru tidak menjadikan hape sebagai alat pamer. Mereka membeli sesuai kebutuhan. Kalau belum perlu, ya tidak beli. Kalau masih berfungsi, ya pakai terus. Tidak ada dorongan untuk membuktikan sesuatu ke orang lain.
Hal ini terasa makin ironis ketika saya mendengar pernyataan Timothy Ronald, yang sering disebut sebagai miliarder muda. Dalam salah satu podcast, dia mengatakan dengan santai bahwa dirinya tidak FOMO membeli iPhone terbaru. Semua karena ya belum butuh saja.
Bagi dia, hape hanyalah alat. Selama masih berfungsi dan menunjang aktivitas, tidak ada alasan untuk mengganti. Sederhana, tapi menampar.
Di satu sisi, orang dengan kekayaan luar biasa bisa bersikap rasional terhadap konsumsi. Di sisi lain, ada orang dengan penghasilan UMR atau bahkan di bawah UMR, justru memaksakan diri membeli iPhone dengan kredit panjang, cicilan mencekik, hidup dalam tekanan finansial demi terlihat “sukses”.
Mereduksi arti sukses menjadi sebuah kebohongan
Masalah utamanya bukan pada iPhone atau Android. Masalahnya adalah cara kita mendefinisikan sukses. Banyak dari kita mereduksi sukses menjadi sesuatu yang terlihat di permukaan saja. Ya hape, kendaraan, rumah. Bukan pada stabilitas hidup, kesehatan mental, atau kebebasan finansial.
Saya tidak bilang membeli iPhone itu salah. Sama sekali tidak. Kalau memang mampu, butuh, dan sesuai kebutuhan, silakan. Yang jadi persoalan adalah ketika benda mati menjadi alat pembanding nilai manusia. Itu bohong banget.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menilai orang dari benda. Android atau iPhone tidak menentukan kecerdasan, kerja keras, atau masa depan. Yang menentukan adalah bagaimana seseorang mengelola keuangannya, menentukan prioritas, mengambil keputusan sesuai kebutuhan, bukan tekanan sosial.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Membandingkan iPhone dengan Android Murah Adalah Perbuatan yang Tidak Bisa Dimaafkan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
