Pertama-tama, saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada warga Jakarta. Kalian tahu? Diam-diam ada beberapa kebiasaan kalian yang saya anggap aneh. Kenapa aneh? Karena kebiasaan-kebiasaan tersebut tidak saya temukan di kampung halaman saya, Tegal.
Akan tetapi, sekarang kalian boleh tersenyum lebar dan berbangga diri. Sebab, saya sudah menelan ludah saya sendiri. Kebiasaan-kebiasaan kalian yang dulu saya anggap aneh itu, sekarang malah saya tiru. Bisa-bisanya sesuatu yang dulu saya tertawakan dalam hati dan dipandang sebelah mata kini malah jadi bagian dari keseharian!
Inikah makna filosofis dari benci dan cinta itu beda tipis? Sehingga ada pesan klasik yang melarang kita untuk terlalu membenci sesuatu karena nanti bisa berujung jadi cinta? Yah, mungkin saja benar begitu. Yang jelas, inilah 3 kebiasaan warga Jakarta yang dulu saya anggap ‘nggak banget’. Eh, sekarang malah ditiru.
Makan bubur ayam tanpa kuah kuning
Di Tegal, bubur ayam adalah kombinasi antara bubur beras yang diberi kecap, toping suwiran ayam, seledri, dan kedelai. Setelah itu, dituang kuah kuning dari kaldu ayam yang diberi pewarna alami kunyit. Terakhir, diberi kerupuk.
Selama puluhan tahun lamanya, gambaran saya akan bubur ayam itu ya yang seperti itu. Yang dikasih kuah kuning. Itu sebabnya, saya ngetawain orang Jakarta yang makan bubur ayam nggak pakai kuah. Saya anggap hal tersebut sebagai penistaan terhadap bubur ayam. Harus dilawan!
Tapi apa yang terjadi kisanak? Suatu ketika saya asal aja gitu, mampir ke warung bubur ayam di Tegal. Sialnya, saya ketemunya dengan bubur ayam yang disajikan tidak dengan kuah kuning. Karena sudah kadung pesan, ya, mau bagaimana lagi? Mau nggak mau harus dimakan. Dan ternyata… enak!! Rasa gurih dari buburnya lebih terasa, begitupun dengan aneka topingnya.
Dan sekarang, kalau saya beli bubur ayam, saya request ke abangnya, “Um, nggak usah pakai kuah.”
Orang Jakarta sarapan mie ayam
Masih seputar kuliner. Kebiasaan lain warga Jakarta yang dulu saya anggap aneh malah sekarang saya lakukan adalah kebiasaan sarapan mereka.
Sudah bukan rahasia lagi kalau salah satu menu sarapan orang Jakarta adalah mie ayam. Bagi warga Tegal, kebiasaan makan mie ayam pagi-pagi adalah hal yang tidak lumrah. Namanya mie ayam itu ya cocoknya dimakan saat siang, sore atau malam. Kalau pagi, sarapan itu ya nasi ponggol atau nasi campur. Misal bosan makan nasi ya bisa sarapan lontong sayur ataupun bubur. Yang jelas, bukan mie ayam. Titik.
Akan tetapi, apa daya. Suatu ketika, saat berkunjung ke Jakarta dan hendak mencari sarapan, terlalu banyak bakul mie ayam di depan mata. Alhasil, jadi tergoda deh. Kami pun makan mie ayam untuk sarapan hari itu.
Eh, setelah dicicipi, ternyata cocok-cocok saja tuh. Perpaduan mie, ayam kecap, caisim dan saus yang mantap itu, benar-benar bikin pagi jadi penuh warna. Sayang, di Tegal nggak ada bakul mie ayam yang jualan pagi-pagi. Paling pagi jam 9. Dan saya pernah menunda jam sarapan saya demi bisa sarapan pakai mie ayam~
Tetap santuy meski jalanan Jakarta macet
Bukan semata soal kebiasaan kuliner warga Jakarta yang pernah saya anggap aneh. Cara mereka dalam menyikapi suatu keadaan juga sempat membuat saya tak habis pikir. Yaitu, tentang kemacetan yang ada di sana.
Saya tuh heran dengan warga Jakarta. Kok bisa ya mereka tabah dan betah dengan kondisi macet yang terjadi hampir setiap waktu? Dalam hati saya yang polos sebagai anak daerah, saya mikirnya: kok mereka nggak pindah aja, ya?
Akan tetapi, kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Sekarang, saya ada di posisi warga Jakarta. Tegal hari ini telah menjelma menjadi kota yang jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Kemacetan terjadi di berbagai ruas jalan utama, terutama saat akhir pekan.
Pada awalnya, tentu saja saya merasa jengkel. Tapi lama- kelamaan, rasa sebal itu menguap dan berubah jadi kepasrahan, persis seperti mentalitas warga Jakarta yang saya herankan dulu.
Ngopi anytime
Terakhir, soal kebiasaan warga Jakarta yang doyan banget pesan kopi. Dikit-dikit kopi, dikit-dikit kopi. Dulu, saya menganggap kebiasaan ini sebagai gaya hidup yang kelewat boros dan tidak sehat. Maklum, bagi saya yang terbiasa dengan pakem lama di kampung, jam ngopi itu ada waktunya. Bisa pagi hari sebelum beraktivitas, atau sore hari sepulang kerja. Bukan jam 10 pagi, bukan pula jam 7 malam.
Konon, kebiasaan warga Jakarta yang suka ngopi kapan saja ini berkaitan dengan kondisi kota yang memang selalu sibuk. Sehingga, menuntut kaum pekerjanya untuk selalu dalam mode ‘on’. Salah satu caranya adalah dengan ngopi. Kafein di kota ini memang selalu menemukan momentumnya.
Sekarang, jangankan menghakimi warga Jakarta ini boros atau tidak peduli kesehatan, saya justru menjelma menjadi bagian dari kaum yang menjadikan kopi sebagai benteng pertahanan hidup. Kopi tidak lagi pakem diminum di pagi atau sore, tapi diminum kapan pun saya butuh, walaupun itu jam 9 malam.
Itulah beberapa kebiasaan orang Jakarta yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini bisa dipahami dan malah saya tiru. Menurut kalian, adalah kebiasaan aneh orang Jakarta lainnya?
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
