Ada satu kebiasaan di kampung saya, Lembata NTT, yang saya lihat dari kecil tetap lestari hingga sekarang, yaitu dagel atau perayaan. Saya akrab melihat tenda didirikan, kursi-kursi ditata, puluhan hewan dipotong, dan orang ramai berdatangan untuk membantu.
Umumnya, dagel tidak selesai dalam sehari. Seringkali bisa seminggu, kemudian bisa dilanjutkan dengan rangkaian acara lain yang membuat rumah penyelenggara selalu ramai.
Sewaktu kecil, saya menyukai suasana itu. Dagel, artinya banyak makanan enak, terutama daging. Di saat ini pula saya bisa bertemu banyak anak-anak seumuran yang ikut bapak atau ibunya. Kami bermain, kemudian mengikuti segala proses dagel, dan bahkan bisa menginap. Tidur bareng dengan anak-anak sepantaran tentu menyenangkan.
Saat itu, saya belum memahami bahwa di balik semua kemeriahan itu, ada kelelahan yang terus menerus berusaha ditutup-tutupi oleh para orang dewasa. Bayangkan, pagi hingga sore sibuk dengan persiapan dan kelangsungan acara. Malamnya akan dilanjut dengan obrolan panjang. Beberapa hal yang membuat mereka jeda ya hanya salat (bagi muslim) dan mengurus pakan ternak.
Di sisi lain, ada pula keluarga dari pihak penyelenggara yang boleh jadi harus menguras keuangannya, mencari pinjaman sana-sini, supaya kebutuhan dagel bisa terpenuhi atau setidaknya bisa dianggap layak di hadapan keluarga besar atau masyarakat kampung.
Dalam kacamata masyarakat Lamaholot, dagel bisa berupa pesta, hajatan, atau perayaan yang melibatkan keluarga dan masyarakat sekitar. Bentuknya bisa beragam, mulai dari pesta pernikahan, sambut baru, syukuran, ritual adat, hingga perayaan keluarga lainnya.
Bahkan, dalam konteks ada yang meninggal, keluarga besar dan masyarakat akan berkumpul dan membahas rangkaian kegiatan. Semua itu menelan banyak tenaga, waktu, dan biaya secara materi. Dari aspek budaya, kebiasaan di Lembata NTT ini tumbuh dari nilai kekeluargaan, gotong royong, dan hubungan timbal balik yang menjadi pondasi dalam kehidupan masyarakat adat.
Dagel awalnya wadah bagi warga agar tetap solid
Secara sosial, dagel menjadi wadah untuk menguatkan hubungan antarsuku dan kampung. Kemudian menjadi gambaran solidaritas agar sebuah keluarga tidak menghadapi peristiwa penting sendirian. Misalnya pada pesta pernikahan atau sambut baru, dagel adalah cara untuk membagikan kebahagian. Sementara dalam konteks duka, dagel merupakan bentuk dukungan bagi mereka yang kehilangan.
Akan tetapi, makin ke sini, kebiasaan dagel di Lembata yang awalnya punya tujuan untuk meringankan, perlahan menjadi memberatkan. Tanpa banyak yang sadar, nilai dagel yang mulanya soal kebersamaan, bergeser menjadi perayaan glamor yang menguras habis tenaga, waktu, dan materi.
Menurut saya, semua itu membuat dagel melahirkan tiga jenis beban sekaligus.
Pertama, beban fisik yang terlihat bagaimana persiapan yang dilakukan. Mulai dari pra acara, saat dagel, dan setelahnya di mana keluarga harus menyiapkan tempat, memasak, menerima tamu, mengurus banyak perlengkapan, dan membereskan semuanya setelah dagel berakhir.
Kedua, beban psikis yang tergambar dari tekanan yang tanpa sadar menuntut dagel harus hadir dengan glamor, meriah, sehingga tidak mengecewakan keluarga besar. Banyak syarat dan keharusan yang ditempel dengan nilai kesakralan sehingga jadi wajib. Harus sembelih kambing, harus pakai kain ini. Harus dilangsungkan hari ini. Dan segala persyaratan yang kadang terdengar gak masuk akal.
Ketiga adalah beban materi. Kebutuhan dagel mulai dari makanan dan minuman, perlengkapan, dan berbagai keperluan lain menelan banyak biaya. Masih bagus kalau punya tabungan atau punya anak yang merantau sehingga bisa dimintai. Sayangnya kalau gak punya keduanya, jalan satu-satunya ya berutang.
Tidak hanya penyelenggara, semua warga terbebani
Beban materi yang saya soroti sebenarnya nggak hanya ditanggung oleh keluarga, tapi juga orang yang datang. Sebab, mereka harus membawa uang, beras, gula, hewan, minuman, atau hasil bumi lainnya. Pemberian itu jadi wujud solidaritas. Yang jadi persoalan, kalau dagel-nya berkali-kali, bahkan ada musim dagel yang isinya tiap hari dagel, maka yang ada malah jadi tagihan sosial, kan?
Semua kebiasaan ini membuat saya jadi kecewa karena nilainya telah bergeser. Harusnya dagel adalah simbol solidaritas yang meringankan bukan membebankan.
Kalau terus seperti ini, ya siap-siap kalau dagel hanya jadi kebiasaan di Lembata NTT yang akan ditinggalkan karena kenyataannya membuat banyak pemuda asal sendiri malas pulang kampung karena hal-hal yang terlalu menuntut dari dagel itu sendiri.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 6 Fakta Tentang Nusa Tenggara Timur yang Harus Kalian Tahu.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
