Ini pengalaman saya pergi ke Dieng naik motor matic yang paling bikin deg-degan.
Semenjak menikah saya hobi sekali naik motor matic. Selain praktis untuk boncengan dengan istri, biaya perawatannya relatif irit. Mulai dari bahan bakar hingga suku cadang, semua mudah ditemukan di bengkel terdekat dengan harga yang ramah di kantong.
Alhasil, setiap bepergian, entah dekat maupun jauh, saya lebih memilih naik motor matic. Termasuk ketika kemarin berkunjung ke Dieng dengan istri. Ya, kalian tidak salah dengar, saya touring dari Semarang ke Dieng naik motor matic bersama istri.
Sebenarnya niat awal kami hanya bepergian ke wisata air panas Nglimut di Boja, Kendal. Namun, di tengah perjalanan, istri saya tiba-tiba bergumam, “Nglimut ternyata terlalu dekat, apa sekalian ke Dieng saja, ya?”
Tentu itu bukan sekadar pertanyaan iseng yang jawabannya hanya ya atau tidak. Pertanyaan dari istri lebih tepat dibaca sebagai perintah yang mesti, bahkan bahkan wajib, fardu ain dijalankan.
Tanpa persiapan matang, saya segera memacu gas motor matic saya menuju Dieng dari Kendal. Ternyata, inilah awal dari cerita yang bikin deg-degan.
Jalan menuju Dieng yang terasa asing, tidak seperti biasanya
Sebenarnya ini bukan kali pertama bagi kami, lebih tepatnya saya, pergi ke Dieng naik sepeda motor. Setidaknya sudah 3 atau 4 kali saya main ke Negeri di Atas Awan itu.
Hanya saja, perjalanan-perjalanan sebelumnya selalu saya mulai dari Semarang sehingga rutenya melewati Ungaran. Baru kali ini saya pergi ke Dieng dari arah Kendal melewati Bawang, Batang.
Perjalanan hari itu dipenuhi keraguan. Maklum saja, jalanannya memang terasa asing. Satu-satunya yang patokan saya hanyalah arahan Google Maps yang dipegang istri. Jalanan mulai berkelok dan berbukit, tapi saya masih percaya saja. Jalan di Kendal Selatan ini malah mirip dengan suasana hutan Tuban yang agak tandus, tetapi masih asri, dan banyak relief bebatuan.
Memasuki wilayah Batang, kecurigaan saya semakin menjadi-jadi. Bukan tanpa sebab, selama ini bayangan saya tentang Batang ya Pantura. Mana mungkin ada wilayah hijau dengan hawa adem di sana? Ternyata saya amat keliru.
Batang ternyata punya kawasan selatan yang hijau dan menenangkan. Kalau nggak salah ingat, salah satu wilayah yang saya lewati adalah Kecamatan Bawang. Jujur, saya cukup betah melewati wilayah ini. Bahkan, sebelum sampai Dieng, saya sudah merasa dihibur oleh suasana alamnya yang sejuk.
Jalur curam memang musuh bebuyutan motor matic
Rasa terhibur melihat pemandangan hijau dan udara sejuk mendadak berubah menjadi kecemasan. Sebagai orang yang punya hobi touring, saya tahu jalur curam adalah salah satu musuh bebuyutan motor matic.
Bukan karena hal klenik tentu saja. Motor matic memang memiliki efek engine brake yang lebih terbatas dibanding motor manual. Apalagi kalau ditambah kebiasaan menekan rem terus-menerus saat melewati turunan panjang. Ya wes, wasalam.
Masalahnya, jalur yang diarahkan Google Maps membawa kami melalui rute alternatif ke Dieng yang cukup ekstrem dan curam. Jelas istri saya tidak salah. Dia juga nggak tahu kalau jalur tersebut bakal menguji nyali pengendara. Sudah tentu, dalam kondisi seperti ini, Google Maps-nya bisa dibilang blondroke.
Perjalanan masih terus naik turun dan berkelok. Sesekali saya melihat mobil pikap pengangkut sayuran menerjang kepulan kabut di kiri-kanan jalan. Jalur ini merupakan salah satu penghubung wilayah Batang dan Banjarnegara dengan karakter pegunungan yang cukup menantang.
Di tengah perjalanan, saya mulai merasa nggak enak. Semakin sering rem ditekan, motor justru terasa semakin sulit dikendalikan. Kami bahkan hampir kehilangan kendali karena terlalu banyak menggunakan rem hingga menimbulkan panas berlebih pada sistem pengereman.
Secara teknis, panas berlebih dapat membuat performa minyak rem menurun dan memunculkan gelembung udara dalam sistem hidrolik. Akibatnya, tuas rem bisa terasa lebih dalam dan empuk, bahkan kehilangan daya tekan. Yah, begitulah bahasa teknisnya.
Bepergian ke daerah pegunungan naik motor matic sah-sah saja, asal jangan gegabah
Untungnya, sebelum tuas rem benar-benar kehilangan fungsi, saya segera menepi dan membiarkan suhu rem kembali normal. Setelah dirasa aman, perjalanan pun kami lanjutkan dengan lebih eling lan waspada.
Bagi pengguna matic, jalur seperti Bawang menuju Dieng sebenarnya tetap bisa dilalui. Namun, kondisi motor, beban boncengan, cuaca, dan kemampuan pengendara tetap harus diperhitungkan, lho. Jangan sampai karena ingin menikmati pemandangan pegunungan dan memangkas waktu perjalanan, kita malah mengabaikan keselamatan.
Sampai di sini saya berkesimpulan, liburan mau direncanakan sedetail apapun bisa berubah gara-gara satu kalimat istri. Namun, lebih penting dari itu, mau sepontan apapun, sebaiknya kita bisa mengira-ngira kemampuan diri dan kendaraan selama perjalanan agar tetap selamat sampai tujuan.
BACA JUGA Sudah tahu jalan di Lamongan jelek, kok malah beli Honda Scoopy, aneh!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
