Kawasaki ZX-25R: Motor Sport Emang buat Gaya-gayaan, Bukan buat Harian

Kawasaki ZX-25R: Motor Sport Emang buat Gaya-gayaan, Bukan buat Harian (Instagram @zx25r_official)

Kawasaki ZX-25R: Motor Sport Emang buat Gaya-gayaan, Bukan buat Harian (Instagram @zx25r_official)

Jika mendengar nama Kawasaki, di kepala saya langsung berjejer kata keren, macho, dan gagah. Image Kawasaki sebagai motor sport telah tertanam dalam diri saya sejak masih bayi. Meski ada banyak merek motor sport sekeren Ducati, bagi saya motor sport ya tetap Kawasaki. Bahkan saat Kawasaki hengkang dari MotoGP dan tak mampu kembali lagi, kecintaan saya terhadap Kawasaki tak berkurang.

Makanya, ketika ada teman yang nawarin saya untuk test drive motor miliknya yaitu Kawasaki ZX-25R, saya langsung menerima tawaran tersebut dengan hati berbunga-bunga. Belum juga mencoba motornya, pikiran saya sudah ke mana-mana. Saya membayangkan akan sekeren Marco Melandri dan siap bleyer-bleyer di jalanan Surabaya. Sayangnya, begitu motornya sampai di depan rumah, boro-boro mau bleyer-bleyer, baru nyalain gas saja sudah dilirik orang satu kampung lantaran suaranya melengking, Bos.

Oh iya, sebelum lanjut, saya kasih tahu harga motor ini. Kawasaki ZX-25R dipatok mulai 105 juta rupiah. Kaum mendang-mending tenang aja di sini.

Setelah bersama Kawasaki ZX-25R selama kurang lebih tiga minggu dan mengendarainya di jalanan Surabaya pada pagi, siang, dan malam hari, kok saya merasa kalau motor ini kurang menarik untuk digunakan harian ya. Sek, jangan marah dulu, saya tidak bilang motornya jelek, hanya saja kurang pas digunakan untuk berkendara di jalan perkotaan seperti Surabaya.

Suara gahar, tarikan lemot

Dibekali mesin DOHC 4 silinder, 249 cc, 16 katup dengan tenaga mencapai 50 Ps pada 15.500 RPM membuat raungan Kawasaki ZX-25R melengking sangar. Bukannya lebay, tapi suaranya memang terdengar mirip moge meskipun ini hanya motor sport fairing 250 cc. Dalam RPM tinggi, saya mendengar letupan kecil yang mendorong adrenalin untuk ngegas lebih kenceng lagi. Urusan suara, Kawasaki ZX-25R memang bisa dibanggakan, meskipun knalpot yang kita gunakan standar pabrikan.

Sayangnya, untuk berkendara harian dengan RPM rendah, tarikan awalnya lemot dan terasa ngeden, sehingga untuk stop and go di jalan raya yang banyak lampu merahnya terasa kurang nyaman. Dalam kondisi motor kencang, kelemotan ini memang tidak terjadi atau bisa diatasi dengan menjaga RPM mesin tetap tinggi. Akan tetapi, dalam kondisi jalan macet yang memaksa kita untuk bermain di mode low, tarikan yang lemot membuat saya hopeless. Rasanya aneh saja, suaranya kencang, tapi tarikannya ngayun. Huft!

Mesin overheat

Saat berkendara dengan Kawasaki ZX-25R di malam hari dengan kondisi jalan yang lumayan lengang, saya merasakan ada sensasi semeliwir hangat yang menerpa betis, terutama saat berhenti di lampu merah. Sebenarnya hal ini masih wajar mengingat Kawasaki ZX-25R memiliki 4 silinder dengan kompresi cukup tinggi yaitu 11.5:1. Namun, ketika motor ini dikendarai di Kota Pahlawan pada siang hari yang panasnya kentang-kentang dan macet, paparan overheat mesinnya nggak hangat lagi, tapi panas. Saking panasnya saya sampai ingin menggoreng telur di atas betis.

Nah, setelah ini, kalian bakal tahu hal paling ra mashok dari motor yang harganya lebih dari 50 kali lipat UMR Jogja ini.

Baca halaman selanjutnya

Motor sport kok takut air?

Kawasaki ZX-25R takut air

Jujur saja, saat pertama kali melihat wajah Kawasaki ZX-25R yang memiliki lubang (air ram) di antara headlamp membuat saya overthinking. Saya khawatir ketika sedang hujan, airnya tersedot ke dalam tunnel air ram dan mengganggu kinerja mesinnya. Akan tetapi, saya tepis pikiran buruk tersebut dengan keyakinan bahwa engineering Kawasaki bukan orang bodoh, mana mungkin membuat design motor ceroboh. Jadi, ketika Surabaya sedang dilanda hujan deras, saya tetap percaya diri mengendarai motor satu ini.

Hasilnya, air hujan memang tidak mengganggu kinerja air ram. Namun, lampu MIL (Malfunction Indicator Lamp) pada speedometer-nya menyala terus dan nggak bisa dimatikan.

Ketika MIL menyala, saya tidak merasakan kendala pada motor, masih aman-aman saja, nggak brebet juga. Tapi, saya tetap panik dong, seperti yang kita tahu, MIL adalah indikator saat motor bermasalah, kalau MIL-nya menyala artinya ada yang nggak beres pada motornya. Lantaran takut sistem permesinannya eror, akhirnya saya membawa motor ini ke bengkel Kawasaki. Coba kalian tebak apa masalahnya? Ternyata sensor oksigen pada knalpotnya kemasukan air. Kocak nggak tuh, masa motor mahal dan macho takut air, sih. Ra mashok!

Ergonomi

Rangka dan bodi Kawasaki ZX-25R memang terlihat padat, kokoh dan kuat. Tapi, menurut saya riding positionnya nanggung dan tidak seperti pembalap. Meskipun stang ZX-25R underyork (rendah), tapi posisi footstep-nya agak maju ke depan dan joknya pendek sehingga membuat posisi tubuh kita tidak terlalu menunduk, kesannya jadi kurang sporty padahal ini motor full fairing. Riding position ini mungkin dimaksudkan agar motornya nyaman untuk penggunaan harian. Tapi, menurut saya kenyamanannya tak signifikan, malah kesan machonya berkurang.

Lantaran ZX-25R memiliki empat silinder berjejer, bagian tengah motor ini juga lebar dan bobotnya berat yaitu 180 kg. Jujur saja, jika motor ini dikendarai di jalan perkotaan yang padat dan sering macet, rasanya kedua tangan kemeng dan tubuh pegel linu. Padahal sebenarnya handling-nya cukup ringan, tapi karena jalannya padat (sering berhenti) dan motornya berat, akhirnya malah membuat tubuh mudah capek.

Tapi ya memang tak bisa dimungkiri, memang beginilah derita punya motor sport. Masalah ergonomi, jelas kalah dengan motor-motor standar yang lain. Kalau emang cari kenyamanan, ya sebaiknya jangan pakai motor sport.

Tetep aja, meskipun expected, tetep aja ZX-25R nggak nyaman bahkan untuk ukuran motor sport. Jan, wis.

Boros!!!

Kawasaki ZX-25R dibekali dengan dua pilihan output tenaga yaitu low mode (L) dan full mode (F). Untuk berkendara harian di jalan perkotaan lebih nyaman jika memilih low(L) dengan tenaga hanya 65 persen (tidak full) saja. Mode low membuat motor lebih jinak, sekaligus mampu menekan konsumsi bensin. Akan tetapi, meskipun menggunakan power low, saya tetap merasa kalau Kawasaki ZX-25R adalah motor yang boros.

Namanya juga motor sport, kalau mau irit pakai Honda Beat. Mungkin itulah yang ada di benak kalian saat saya bilang ZX-25R boros. Padahal, saya tidak membandingkan konsumsi BBM ZX-25R dengan Honda Beat melainkan dengan Mobil Brio. Konsumsi bensin Kawasaki ZX-25R kalau dipakai kencang (full mode) bisa 21km/liter,lho. Sementara rata-rata konsumsi BBM Honda Brio adalah 23km/liter. Piye ini, masa naik motor lebih boros ketimbang naik mobil? Agak kurang masuk akal, tapi memang begitulah faktanya.

Mana bahan bakarnya pun mahal, Kawasai ZX-25R ideal dengan RON 95, artinya kita harus memberi minum motor ini dengan Pertamax Turbo, sementara Brio diisi Pertalite-pun masih oke oke saja.

Kesimpulan

Kawasaki ZX-25R memang memiliki tampilan keren dengan teknologi baru yang menarik seperti KTRC, KGS, power selection hingga immobilizer yang membuat motor lebih aman dari pencuri. Akan tetapi, jika digunakan untuk transportasi harian seperti pulang pergi kantor hingga ke pasar, motor satu ini kurang worth to buy karena harganya mahal dan membutuhkan maintenance extra. Kasarnya, Kawasaki ZX-25R adalah motor yang cocok untuk gaya-gayaan dan untuk orang yang kelebihan uang.

Nggak hanya itu, meskipun belum masuk barang mewah, pajak tahunan Kawasaki ZX-25R cukup tinggi yaitu sekitar Rp1.5 jutaan, Gaes. Piye? Masih ingin membeli Kawasaki ZX-25R untuk berangkat kerja? Ya monggo saja, asal punya duit dan tukang pijit.

Penulis: Tiara Uci
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Wahai Suzuki, Belajarlah dari Kawasaki

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version