Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Kantong Plastik Berbayar, Bukti Alfamart Masih Setengah-setengah Melindungi Lingkungan

Abd. Muhaimin oleh Abd. Muhaimin
10 Oktober 2023
A A
Kantong Plastik Berbayar, Bukti Alfamart Masih Setengah-setengah Melindungi Lingkungan

Kantong Plastik Berbayar, Bukti Alfamart Masih Setengah-setengah Melindungi Lingkungan (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya baru sadar, setelah beberapa tahun diterapkan, kantong plastik Alfamart ternyata tak lagi gratis. Apa mungkin karena saya kurang update atau memang ingatan saya yang lemah, rasanya setiap berbelanja di Alfa, kasir nggak pernah memberi tahu bahwa plastik belanjaan yang mereka berikan ternyata “dijual”.

Saya memang salah. Pertama, ketika belanja di Alfa, saya tak pernah mengecek struk belanjaan. Begitu keluar, biasanya saya langsung membuangnya ke tempat sampah yang tersedia beberapa meter di depan pintu sehingga tak pernah ngeh bahwa kantong plastiknya juga saya beli. Kedua, saya selalu mengiyakan ketika kasir bertanya mau pakai plastik atau tidak. Padahal, yo, belanjaan saya tak banyak, bisa dikantongin di saku, jok motor, dan sebagainya.

Tapi, saya ingat betul bagaimana kasir menanyakan konsumen, tidak ada dibilang kantong plastiknya berbayar. Mereka hanya menanyakan, “Apakah bawa kantong belanjaan sendiri?” atau “mau pakai plastik atau nggak usah?”. Dua minggu lalu saya baru sadar, saat kasir yang menghitung belanjaan menanyakan mau pakai plastik atau tidak. Lalu ketika saya menganggukkan kepala, si kasir bilang bahwa plastiknya Rp200 atau Rp300 kalo tidak salah. Lha sejak kapan berbayar?

Alfamart peduli lingkungan atau cuma cari cuan, sih?

Setelah kejadian itu, saya langsung cari di Google, sejak kapan Alfamart tidak lagi menggratiskan kantong plastik. Dan ternyata benar, memang sudah sekitar empat tahun yang lalu, 2019. Tapi, kenapa saya tidak tahu. Apa cuma saya yang ngerasa atau sebagian orang-orang juga begitu?

Pasalnya, dalam ingatan saya cuma tergambar bahwa dulu Alfamart pernah mengkampanyekan kantong ramah lingkungan yang terbuat dari kertas, kantong belanjaan permanen yang bisa digunakan berkali-kali, hingga inovasi plastik yang cepat melebur dengan tanah.

Kampanye itu tidak cukup berhasil, untuk tidak mengatakan gagal. Pasalnya orang-orang semacam saya mungkin malas untuk bawa kantong belanjaan dari rumah. Apalagi semisal sedang di tengah perjalanan dan tak ada niat untuk belanja di Alfamart, namun karena hal darurat semisal kehabisan rokok, mau tak mau saya harus melipir ke minimarket.

Meskipun toh saya cuma beli sebungkus rokok dan sebotol minuman, tentu saya mengiyakan untuk diplastikin ketika kasir menanyakan. Ini sudah menjadi budaya bahwa belanjaan, baik sedikit maupun banyak, harus dikantongi dalam plastik. Mungkin karena malu atau gengsi atau apalah itu. Atau bisa jadi karena ingin gaya-gayaan, biar semua orang tahu kita baru belanja di Alfamart, dengan bukti plastik yang berlogo Alfamart.

Dan Alfamart ingin menghapus stigma itu. Peduli lingkungan menjadi headline kampanye Alfamart dengan cara tidak lagi menggratiskan kantong plastik. Tujuannya mungkin agar konsumen berpikir dua kali untuk memakai plastik atau tidak. Jika mau pakai, ya, harus nambah biaya sebesar Rp200.

Baca Juga:

5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribu yang Layak Dibeli 

Yang Membunuh UMKM Itu Bukan Indomaret atau Alfamart, Tapi Parkir Liar dan Pungli

Tapi, apakah memang benar itu untuk meminimalisir penggunaan plastik? Ataukah hanya alibi dari pihak Alfamart untuk menambah cuan di balik kampanye peduli lingkungan? Jawabannya tentu melihat fakta yang ada. Orang-orang masih tetap pakai plastik, alih-alih pakai tas belanja sendiri. Kesadaran lingkungan masih jauh dari kata berhasil. Meskipun banyak orang yang bilang ini hanya politik dagang Alfamart, namun saya ingin husnuzan saja bahwa mereka memang murni ingin melindungi bumi dari sampah plastik.

Nggak usah dikasih opsi kantong plastik sekalian, total!

Hemat saya, Alfamart punya dua kesalahan di sini. Pertama, informasi bahwa plastik itu juga berbayar pas setelah menanyakan konsumen mau memakainya atau tidak. Bagi saya sendiri ketika mengiyakan untuk pakai plastik, lalu si kasir memberitahu bahwa plastiknya berbayar, ya ndak bakal saya cancel toh. Jika digagalkan, alasan saya bukan lagi karena peduli lingkungan, melainkan karena uang Rp200 itu.

Alasan yang kedua lebih terkesan sangat kentara dibandingkan yang pertama. Sebab, jika memang peduli lingkungan harusnya saya tidak mau pakai plastik sejak kasir menanyakannya. Haduh-haduh sistem macam apa ini? Seharusnya, kasir memberi informasi itu lebih dahulu sebelum menanyakan kepada konsumen mau memakainya atau tidak. Meskipun nanti si konsumen menolak pakai plastik karena berbayar, ya, minimal bisa benar-benar mengurangi penggunaan kantong plastik itu sendiri. Nanti, lama-lama juga sadar sendiri. Ya, kan?

Kesalahan kedua, Alfamart tidak berkomitmen untuk tidak menyediakan kantong plastik sama sekali. Ini mungkin agak terlalu anti-mainstream sekaligus ekstrem, tapi solusi ini yang tepat menurut saya. Jika masyarakat masih enggan meninggalkan ketergantungan kepada kantong plastik, Alfamart lah yang berada di garda terdepan untuk menghapus stigma itu dengan tidak menyediakan kantong plastik lagi. Dengan itu, masyarakat akan dipaksa untuk membudayakan bawa tas belanja sendiri dan pada akhirnya akan mengurangi sampah-sampah plastik.

Namun, ini semua kembali kepada kesadaran masing-masing terhadap lingkungan. Baik Alfamart, atau toko-toko lain—dari yang besar hingga yang kecil, bahkan kita sendiri masih setengah-setengah merawat lingkungan dari sampah. Kita mungkin berpikir bahwa untuk saat ini toh tak ada dampak yang cukup buruk. Namun, kita lupa bahwa di masa depan dampak itu akan terjadi kepada anak-cucu kita. Camkan itu!

Penulis: Abd. Muhaimin
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Panduan Menjadi Kasir Indomaret dan Alfamart, Pekerjaan yang Butuh Kekuatan Mental

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Oktober 2023 oleh

Tags: alfamartkantong plastikpeduli lingkungan
Abd. Muhaimin

Abd. Muhaimin

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Bekerja di Penerbit Erlangga. Asli Sumenep, pemerhati isu sosial dan mahasiswa.

ArtikelTerkait

belanja di Alfamart dan Indomaret minimarket pilih yang mana mojok.co

Yang Terlewat Dari Rivalitas Alfamart dan Indomaret

7 Juli 2019
belanja di Alfamart dan Indomaret minimarket pilih yang mana mojok.co

6 Hal yang Memengaruhi Saya Mau Belanja di Alfamart atau Indomaret

26 Juni 2020
Pegawai Alfamart vs Pengutil Cokelat- Orang Kecil vs Kleptomania (Unsplash.com)

Pegawai Alfamart vs Pengutil Cokelat: Orang Kecil vs Kleptomania

15 Agustus 2022
4 Camilan Underrated di Alfamart yang Enak Banget

4 Camilan Underrated di Alfamart yang Enak Banget

7 Maret 2023
5 Barang yang Cuma Ada di Warung Madura, Indomaret dan Alfamart Nggak Jual Mojok.co

5 Barang yang Cuma Ada di Warung Madura, Indomaret dan Alfamart Nggak Jual

14 Maret 2025
Indomaret dan Alfamart Punya Saingan Baru: Kenalkan, Yomart! (Unsplash.com)

Indomaret dan Alfamart Punya Saingan Baru: Kenalkan, Yomart!

14 Juni 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Warga Karawang Terlihat Santai dan Makmur karena UMK Sultan, padahal Sedang Berdarah-darah Dihajar Calo Pabrik dan Bank Emok

12 Januari 2026
Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

16 Januari 2026
Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Juga Pasar Minggu yang Nggak Kalah Seru

13 Januari 2026
Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

17 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.