Kampus sering berlomba menunjukkan kemajuan lewat bangunan. Gedung baru, ruang kelas modern, kafe, coworking space, dan taman estetik dianggap sebagai tanda kampus semakin keren. Tapi, menurut saya, kampus harus punya kolam pemancingan agar mahasiswanya tidak stres.
Oh, tidak, saya tidak sedang becanda. Ini usulan yang amat konkret dan serius dari saya.
Kedengarannya memang receh. Bahkan mungkin terdengar seperti ide orang yang terlalu banyak nongkrong di pinggir kolam. Tetapi justru fasilitas receh seperti ini punya fungsi yang sering dilupakan kampus. Perlu dipahami, mahasiswa bukan mesin yang hanya datang, kuliah, mengerjakan tugas, lalu pulang. Mahasiswa juga membutuhkan ruang untuk mengurai pikiran mereka yang kelewat kusut.
Kolam pemancingan, fasilitas receh justru sering punya fungsi yang bagus
Memancing merupakan aktivitas yang membutuhkan ketenangan dan kesabaran. Mahasiswa bisa duduk, menunggu, mengamati air, lalu menikmati suasana. Ini berbeda dengan ruang belajar yang selalu mengingatkan mahasiswa pada kewajiban.
Inilah yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Logika bahwa segala fasilitas di kampus harus canggih itu sebaiknya mulai digeser pelan-pelan. Bagaimana jika ternyata kampus hanya butuh kolam pemancingan biar mahasiswanya bahagia?
Beberapa kampus punya danau, tapi status boleh dipancing atau tidak masih jadi perdebatan. Kenapa tidak sekalian dijadikan wahana memancing untuk mahasiswa?
Kenapa harus ikan yang boleh dipancing?
Kalau hanya ingin membuat kolam, kampus sebenarnya bisa membuat kolam ikan hias. Namun, konsep itu terlalu pasif plus tidak kreatif. Mahasiswa hanya menjadi penonton. Kolam yang boleh dipancing membuat mahasiswa berinteraksi langsung dengan fasilitas tersebut.
Ada proses menunggu, melempar umpan, memperhatikan pelampung, dan menarik kail. Aktivitasnya sederhana, tetapi membuat mahasiswa fokus pada satu hal. Untuk sementara waktu, notifikasi ponsel, tugas, dan persoalan kampus bisa berada di urutan kedua.
Saya tahu, bikin kolam pemancingan di kampus itu memang aneh, dan seperti buang-buang uang. Misalnya, kalau mahasiswa boleh memancing, lalu siapa yang menjamin kolam tidak segera kosong? Jawabannya sebenarnya sederhana. Kampus bisa menerapkan sistem kuota dan aturan.
Misalnya nih, maksimal boleh bawa 2 ikan aja. Atau terapkan sistem catch and release. Simpel, mudah, dan nggak susah. Ayolah rodo kreatif sitik.
Bisa menghidupkan area kampus yang mati
Banyak kampus memiliki sudut lahan yang sebenarnya tidak terlalu produktif. Area tersebut kadang hanya menjadi taman, lahan kosong, atau tempat yang dilewati mahasiswa. Kolam ikan dapat mengubah area tersebut menjadi ruang interaksi.
Mahasiswa datang bukan karena diwajibkan. Mereka datang karena memang ingin berada di sana. Bisa jadi kolam yang awalnya cuma buat mancing, malah jadi ruang interaksi yang dibutuhkan oleh mahasiswa.
Ini bagian yang menurut saya penting. Kampus membutuhkan ruang interaksi yang tidak selalu memiliki agenda formal. Tidak semua pertemanan harus dimulai dari organisasi atau kerja kelompok. Kadang pertemanan dimulai dari pertanyaan sederhana, “Dapat ikan berapa?”
Kolam ikan bisa menjadi ruang sosial yang sangat natural. Mahasiswa dari jurusan berbeda bisa bertemu tanpa membicarakan tugas kuliah. Senior dan junior juga bisa berinteraksi dalam suasana lebih santai. Bahkan dosen pun bisa sesekali ikut memancing tanpa membawa suasana ruang kelas.
Logika ekonomi di balik kolam pemancingan
Ikan yang dipelihara juga bisa dikelola menggunakan konsep sederhana. Kampus dapat menghitung biaya pakan, pemeliharaan, pembelian bibit, dan hasil panen. Mahasiswa bisa melihat secara langsung bagaimana sebuah usaha kecil bekerja.
Kalau pengelolaannya bagus, hasil ikan juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan tertentu. Bisa dijual melalui kegiatan kampus, bisa pula dijadikan bagian dari program kewirausahaan mahasiswa.
Tetapi ya, jangan sampai menjadi fasilitas berbayar. Jangan sampai mahasiswa harus membayar mahal hanya untuk memancing di kolam kampus sendiri. Kalau semua fasilitas akhirnya dikomersialkan, konsepnya kehilangan makna. Mahasiswa sudah membayar biaya pendidikan dan berbagai kebutuhan akademik lainnya.
Kalau diperlukan biaya operasional, mekanismenya harus transparan. Bisa menggunakan anggaran fasilitas mahasiswa atau sistem kontribusi yang sangat ringan dan jelas. Jangan sampai kolam ikan yang awalnya dibuat untuk rekreasi justru berubah menjadi bisnis baru kampus.
Kampus perlu memikirkan mahasiswa sebagai manusia
Pendidikan tinggi sering terlalu fokus pada output. Ada sisi manusia yang tidak boleh hilang. Fasilitas seperti kolam ikan mungkin tidak masuk indikator akreditasi. Namun, manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh orang yang setiap hari hidup di dalam kampus.
Menurut saya, inilah alasan utama kolam pemancingan layak dipertimbangkan. Kampus tidak harus selalu membangun fasilitas mahal untuk menciptakan kenyamanan. Terkadang fasilitas paling sederhana justru paling dekat dengan kebutuhan sehari-hari mahasiswa.
Ide kolam ikan yang boleh dipancing memang terdengar receh. Tetapi fasilitas kampus tidak selamanya harus dinilai dari seberapa mahal biaya pembangunannya. Fasilitas juga bisa dinilai dari seberapa sering dan seberapa nyata manfaatnya dirasakan mahasiswa.
Saya justru ingin kampus mulai memikirkan fasilitas yang tidak terlalu formal. Bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat bernapas. Bukan hanya ruang produktif, tetapi ruang untuk istirahat. Kalau kampus mampu menyediakan gedung miliaran rupiah, seharusnya menyediakan satu kolam ikan kecil untuk mahasiswa bukan sesuatu yang mustahil.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Cara Halus Pemilik Kolam Pemancingan Memeras para Pemancing
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya
