Informasi
ADVERTISEMENT

Surat Terbuka untuk Pembenci Lele Goreng, Kalian tuh Kenapa? Benci atau Emang Selera Ente Bermasalah?

Surat Terbuka untuk Pembenci Lele Goreng, Kalian tuh Kenapa? Benci atau Emang Selera Ente Bermasalah?

Lele makan tai

Katanya, lele ini makan tai. Pasalnya, banyak cerita orang melihara ikan ini di septic tank, atau malah ada yang bikin tempat buang hajat di kolam lele biar sekalian jadi pakan.

Nah, ini harus diluruskan. Perlu kalian ketahui, lele ini rakus banget. Butuh pakan banyak agar lele tetap sehat. Makanya bisnis lele ini termasuk bisnis yang nggak seseksi yang orang bilang, karena ya margin untungnya jadi nggak seberapa gara-gara biaya pakan.

Dengan fakta itu, harusnya kalian tahu betul bahwa lele makan tai itu dah nggak masuk akal. Butuh berak berapa kali kalian agar lele bisa kenyang?

Berlendir

Coba sesekali sentuh si lele, pasti sulit banget. Tubuhnya itu bikin keki, lendirnya banyak banget. Kalau nyuci perlu effort lebih biar lendir-lendir kehidupannya bisa musnah. Wong kadang pas udah dibumbui aja lendirnya masih banyak.

Tapi ya lagi-lagi, ini skill issue doang.

Cara pengolahan yang benar adalah kunci dari memasak ikan jenis ini. Biar nggak amis dan berlendir bisa kok ditambah serai atau kucuran jeruk nipis.

Kebencian terhadap lele goreng, saya rasa kok makin hari makin tak masuk akal. Semuanya sudah maju, semuanya sudah tak seperti yang kalian kira. Saran saya sih, kalian coba dulu aja seporsi lele goreng hangat yang menggoda itu.

Sebelum kalian ucapkan terima kasih, saya duluin saja, “Sama-sama.”

Penulis: Wulan Maulina
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Cerita Anak Muda Lamongan yang Tidak Makan Ikan Lele Seumur Hidup

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2023 oleh .

Wulan Maulina

Lulusan Bahasa Indonesia Universitas Tidar. Suka menulis tentang kearifan lokal dan punya minat besar terhadap Pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Beranggapan memelihara kata ternyata lebih aman daripada memelihara harapan.