Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kalau Suka Riset, Mungkin Kamu Bisa Jadi UX Researcher

Muhammad Ikhsan Firdaus oleh Muhammad Ikhsan Firdaus
30 Mei 2020
A A
UX Researcher

Kalau Suka Riset, Mungkin Kamu Bisa Jadi UX Researcher

Share on FacebookShare on Twitter

Untuk mempermudah hajat hidup manusia, maka lahirlah berbagai macam perusahaan teknologi. Kelahiran berbagai macam perusahaan teknologi secara tidak langsung juga dapat mempopulerkan suatu profesi. Salah satu profesi tersebut adalah UX Researcher.

UX Researcher biasa disebut user experience researcher, bukanlah suatu profesi yang benar-benar baru. Pada tahun 1910 ahli mesin Frederick Winslow Taylor pernah melakukan riset mengenai interaksi pekerja dengan suatu mesin. Kerja dari Fredrick Inilah yang mempelopori lahirnya profesi ini.

Mari melompat ke tahun 2020 di mana profesi ini sudah menjadi bagian penting di perusahaan teknologi. Mulai dari perusahaan startup kecil, hingga decacorn (valuasi lebih $10M), perusahaan-perusahaan tersebut memerlukan kerja dari UX Researcher.

Lantas apa tugas UX Researcher? Jika diterjemahkan secara literal, tugas mereka adalah meriset pengalaman para pengguna, dan prakteknya kurang lebih serupa. Pekerjaan ini memiliki peran penting bagi perusahaan teknologi. Dengan kehadiran UX Researcher yang melakukan riset pengguna, maka asumsi atau pendapat para developer bisa dikesampingkan terlebih dahulu.

Sama seperti riset dalam ilmu sosial lainnya, dalam meriset para UX Researcher juga memulainya dari latar belakang masalah, menentukan tujuan riset, memilih metode yang dirasa cocok, terjun ke lapangan, hingga akhirnya membuat laporan temuan hasil penelitian. Karena kurang lebih serupa dengan cara riset ilmu sosial, maka bisa dikatakan kurang lebih beginilah alur kerja pada profesi ini.

Biasanya pekerjaan dimulai dari mendapatkan brief. Pada perusahaan teknologi biasanya UX Researcher akan mendapatkan brief dari divisi lain bisa dari UX Desainer, atau bahkan dari Product Manager. Sama seperti brief pada umumnya. Brief yang didapatkan juga berisi informasi dasar terkait panduan pekerjaan, waktu tenggat, dan biaya yang dapat dikeluarkan.

Setelah mendapatkan dan memahami sebuah brief, maka UX Researcher akan menentukan latar belakang masalah. Contoh latar belakang masalah: Misalnya saya adalah UX Researcher pada perusahaan aplikasi streaming anime berbayar. Kebetulan perusahaan saya tersebut membuat metode pembayaran baru dengan pulsa. Perusahaan ingin agar jika metode pembayaran dengan pulsa tersebut dirilis ke pasar, para pengguna paham akan cara pembayaran tersebut. Maka sebelum dirilis, saya akan melakukan riset terlebih dahulu.

Dari sini saya dapat memahami bahwa tujuan risetnya adalah untuk menjawab, apakah konsumen paham dengan cara pembayaran melalui pulsa? Apakah icon yang digunakan sudah dirasa sesuai? Apakah copy pada metode pembayaran tersebut sudah informatif?

Baca Juga:

Gen Z Kerja di Perusahaan Startup Bukan karena Malas dan Menghindari Pekerjaan Berat. Nyatanya Startup Memang Lebih Nyaman dari Perusahaan Konvensional

Kim Seon Ho: Karakter Selalu Multitalenta, tapi Mbuh Soal Cinta

Setelah itu barulah menentukan metode penelitian. Metode penelitiannya bisa berbentuk kuantitatif atau kualitatif. Jika melihat latar belakang dan tujuan di atas maka kemungkinan saya sebagai UX Researcher akan menggunakan metode kualitatif. Saya akan mencari koresponden untuk melakukan uji coba pada aplikasi yang masih berbentuk prototype.

Saya juga bisa melakukan wawancara mendalam untuk mendapatkan masukan. Jawaban-jawaban jujur dari para koresponden sangat diperlukan. Dari jawaban ini bisa didapatkan kekurangan, kelebihan, dan masukan.

Setelah itu langkah selanjutnya adalah analisis. Sama dengan analisis data kualitatif pada ilmu sosial lainnya. Dalam meriset, para UX Researcher juga melakukan penyusunan suatu temuan, pengelompokan temuan, coding data, mendeskripsikan temuan, dan akhirnya akan membuat suatu kesimpulan yang berbentuk narasi dengan bagan-bagan. Setelah mendapatkan hasil analisis, barulah UX Researcher memasukan saran.

Hasil penelitian tersebut juga dibuat laporannya. Dalam dunia akademik mungkin disebut jurnal penelitian, tapi dalam perusahaan teknologi biasa disebut report. Isi dari report tersebut juga sama dengan jurnal akademik, berisikan latar belakang, tujuan, metode penelitian, hasil penelitian, kesimpulan, dan saran.

Jika dalam dunia akademik hasil penelitiannya akan dipresentasikan ke dosen pengampu, maka UX Researcher mempresentasikan hasil kerjanya kepada divisi yang memberikannya brief, bisa presentasi kepada UX Desainer, atau kepada Product Manager, atau bahkan keduanya.

Saran dari UX Researcher bisa sangat berkontribusi di sini. Dengan temuannya dia bisa memberikan suatu saran untuk kepentingan perusahaan tersebut. Karena masih berbentuk prototype, maka para developer masih bisa mengutak-atik dan memperbaiki aplikasi tersebut. Harapannya, apalagi kalau bukan untuk menyenangkan konsumen.

Jika metode pembayaran dengan pulsa tersebut sudah dirilis, maka UX Researcher juga bisa melakukan riset lanjutan terkait keberhasilan akan metode pembayaran tersebut. Bisa melakukan penelitian kuantitatif dengan melakukan survei dengan banyak responden. Pertanyaannya bisa berupa kepuasan terhadap metode pembayaran tersebut. Jawaban dari survei ini biasanya berupa skala likert, seperti sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, sangat tidak setuju. Hasil dari servei ini juga akan diolah, untuk kemajuan aplikasi tersebut.

Pada industri saat ini saya melihat, biasanya orang yang berprofesi sebagai UX Researcher adalah lulusan ilmu komputer, atau teknik informatika, yang tidak sanggup dengan coding. Akhirnya mereka memutuskan menjalani profesi ini.

Karena kerja UX Researcher memiliki sedikit kemiripan dengan riset-riset pada ilmu sosial, maka sebenarnya profesi ini juga bisa dilakukan oleh lulusan Ilmu Komunikasi, Psikologi, Antropologi, Sosiologi, dan banyak lagi. Kalau mau mencoba, banyak perusahaan yang membuka program magang, dengan tiga bulan kerja dibayar dengan upah sukarela, kamu sudah bisa mendapatkan ilmu dan merasakan profesi ini. Menarik bukan?

BACA JUGA Mengenal Profesi Social Media Officer yang Kerjanya Dikira Tukang Posting Konten doang dan tulisan Muhammad Ikhsan Firdaus lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Mei 2020 oleh

Tags: perusahaan teknologistart upUX Researcher
Muhammad Ikhsan Firdaus

Muhammad Ikhsan Firdaus

Pemuda yang memiliki cita-cita dapat mengunjungi berbagai negara di Asia.

ArtikelTerkait

Penyakit Time Jump di Drama Korea yang Sebetulnya Nggak Perlu-perlu Amat terminal mojok.co

Penyakit Time Jump di Drama Korea yang Sebetulnya Nggak Perlu-perlu Amat

3 Juli 2021
Urutan Karakter Utama yang Punya Sifat Paling Realistis dalam Drama Korea Start-Up terminal mojok.co

Urutan Karakter Utama yang Punya Sifat Paling Realistis dalam Drama Korea Start-Up

5 November 2020

Kim Seon Ho: Karakter Selalu Multitalenta, tapi Mbuh Soal Cinta

18 September 2021
Gen Z Kerja di Perusahaan Startup Bukan karena Malas dan Menghindari Pekerjaan Berat. Nyatanya Startup Memang Lebih Nyaman dari Perusahaan Konvensional

Gen Z Kerja di Perusahaan Startup Bukan karena Malas dan Menghindari Pekerjaan Berat. Nyatanya Startup Memang Lebih Nyaman dari Perusahaan Konvensional

14 Juni 2024
Itaewon Class dan Start Up, Solusi untuk Anak Muda yang Butuh Motivasi terminal mojok.co

Itaewon Class dan Start Up, Solusi untuk Anak Muda yang Butuh Motivasi

27 November 2020
Peluang Profesi 3 Tokoh Utama Drama 'Start-Up' Setelah Serialnya Tamat terminal mojok.co

Peluang Profesi 3 Tokoh Utama Drama Start-Up Setelah Serialnya Tamat

20 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.