Sidoarjo adalah kota emas buat saya. Tapi, setelah hidup di sini, lapisan emas tersebut pelan-pelan pudar, menunjukkan lapisan aslinya
Seorang anak pertama pada umumnya tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang besar. Ia sering kali merasa harus menjadi tulang punggung keluarga. Maka tak heran jika banyak anak pertama memilih merantau, meninggalkan kampung halaman demi menyambung hidup di daerah orang lain. Keputusan itu biasanya bukan tanpa sebab: sulitnya lapangan pekerjaan di daerah asal, serta upah yang tidak seberapa, menjadi alasan paling umum mengapa merantau akhirnya jadi pilihan.
Dan saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang memilih merantau ke Sidoarjo untuk mengadu nasib, bertarung, dan meniti karier yang lebih baik. Sidoarjo menjadi daerah perantauan saya yang ke-5. Sebelumnya, saya sempat singgah dan menetap di beberapa kota di Jawa Timur.
Di sini, lapangan pekerjaan memang sangat melimpah. Banyak pilihan kerja, dan soal gaji—menurut saya—cukup untuk menghidupi diri sendiri sekaligus sedikit membantu keluarga di kampung.
Sidoarjo dikenal sebagai kota industri. Banyak lapangan usaha tersedia, maka tak heran jika kawasan pergudangan juga tumbuh pesat, terutama di wilayah timur yang berdekatan dengan Surabaya. Namun, di balik kebahagiaan saya bisa bekerja di sini, ada juga kekecewaan yang saya rasakan selama tinggal di Sidoarjo.
Bahan pangan yang mahal di Sidoarjo
Sebagai orang pendatang, saya terbiasa mengeksplor makanan di sekitar tempat tinggal. Saya juga sering belanja ke pasar untuk sekadar membeli bahan-bahan yang akan distok untuk beberapa hari ke depan.
Jujur saja, saya cukup kaget melihat perbandingan harga bahan pangan di Sidoarjo dengan kota asal saya. Harganya lebih mahal dari perkiraan. Tempe, misalnya. Di rumah, dengan uang dua ribu rupiah, saya sudah bisa dapat tempe ukuran lumayan. Tapi di sini, budget dua ribu bisa-bisa pulang dengan tangan hampa. Ya, alias nggak dapat tempe.
Ikan pindang pun demikian. Di kampung, ikan pindang satu wadah kecil itu biasanya enam ribu rupiah sudah dapat. Di Sidoarjo, jarang sekali ada ikan pindang dengan harga segitu. Kalaupun ada, ukurannya kecil-kecil. Ukuran yang jelas kurang cocok bagi saya yang penikmat ikan laut.
Sungai yang kotor akibat ulah oknum tak bertanggung jawab
Sebagai seorang perantau, saya merasa harus punya ribuan strategi untuk bertahan hidup. Salah satu strategi itu adalah mencari “keberuntungan” di sungai setempat. Ya, apalagi kalau bukan memancing.
Memancing bukan sekadar hobi bagi saya, tapi sudah menjadi kebutuhan. Hiburan murah ala perantau yang nggak terlalu menguras budget. Selain dapat ketenangan, kalau beruntung juga bisa dapat ikan. Lumayan untuk lauk pauk pelengkap nasi.
Namun, alangkah kecewanya saya ketika melihat banyak sungai di Kota Sidoarjo yang kondisinya kotor. Kekotoran itu sebagian besar disebabkan oleh pabrik-pabrik yang membuang limbah sembarangan. Kita semua tahu, Sidoarjo adalah kota industri penyangga Surabaya. Jadi, wajar jika pabrik bertebaran di mana-mana.
Sayangnya, banyak pabrik yang tidak memperhatikan dampak lingkungannya. Saya, sebagai perantau sekaligus pemancing, sangat menyayangkan hal ini. Padahal, ikan di sungai-sungai tersebut sebenarnya cukup banyak. Tapi saya ragu untuk memancing, apalagi memakannya. Meski ikan bisa hidup di perairan tercemar, belum tentu saya juga bisa “hidup” dengan aman setelah mengonsumsinya. kalau ada apa apa di perantauan akan lucu, hehehe.
Tulisan ini mungkin bisa menjadi kritik kecil bagi oknum-oknum pabrik yang membuang limbah ke sungai. Kasihan orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari perairan. Coba bayangkan jika sungai bersih—ikan bisa berkembang biak dengan sehat, aman dikonsumsi, dan warga pun bisa mengelola sungai dengan baik. Bahkan mungkin dimanfaatkan sebagai tambak kecil atau kebutuhan lainnya.
BACA JUGA: Saya Warga Sidoarjo, tapi Nggak Pernah Bangga dengan Kota Sendiri
Jalan yang padat dan truk nakal yang nggak paham aturan
Hal lain yang juga menjadi sorotan saya adalah kondisi jalan Sidoarjo yang begitu padat. Terutama saat jam berangkat dan pulang kerja. Bahkan di malam hari pun, jalan masih sering ramai oleh pengendara.
Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi. Sidoarjo berbatasan langsung dengan Surabaya. Sebagai kota penyangga, banyak warga Sidoarjo yang mencari nafkah di Surabaya—kota besar dengan segudang perusahaan dan lapangan pekerjaan. Begitu pula sebaliknya. Jarak yang dekat menjadikan jalan Sidoarjo–Surabaya sebagai nadi kehidupan para pejuang rupiah.
Namun di sisi lain, saya pribadi sering merasa ngeri-ngeri sedap saat melintasi jalan raya, terutama jalur Malang–Surabaya. Kepadatannya luar biasa, ditambah lagi dengan truk-truk besar yang nekat melintas. Padahal, untuk kendaraan berat sebenarnya sudah disediakan jalur khusus di Lingkar Timur.
Kenakalan pengemudi truk ini kerap membuat saya jengkel. Bagaimana bisa mereka tetap melintasi jalan utama yang notabene pusat perkotaan? Inilah yang membuat saya sering merasa takut dan akhirnya memilih menyusuri jalan-jalan alternatif untuk menuju suatu tempat.
Menurut saya, ini harus menjadi perhatian serius. Jika terjadi kecelakaan, pengendara kecil yang justru paling dirugikan. Saya berharap pihak kepolisian bisa lebih tegas dan memperketat pengawasan agar tidak ada lagi truk-truk nakal yang melintas di jalan utama. Jalan utama Sidoarjo seharusnya diperuntukkan bagi kendaraan kecil, bukan kendaraan besar bermuatan berat.
Jika lalu lintas tertata dengan baik, jalan akan lebih aman, pengendara pun lebih tenang. Masyarakat yang setiap hari hilir mudik antara Sidoarjo dan Surabaya bisa berangkat dan pulang dengan rasa aman. Dan yang paling penting, sampai rumah dengan selamat.
Penulis: Ahmad Muflihus Syauqi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sidoarjo: Surga untuk Pebisnis, Neraka bagi Perantau. Pengeluaran Selangit, Pemasukan Sulit!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
