Informasi
ADVERTISEMENT

Kalau Saya Nggak Merantau ke Sidoarjo, Saya Nggak Tahu 3 Sisi Gelap Sidoarjo Ini

Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sayangnya, banyak pabrik yang tidak memperhatikan dampak lingkungannya. Saya, sebagai perantau sekaligus pemancing, sangat menyayangkan hal ini. Padahal, ikan di sungai-sungai tersebut sebenarnya cukup banyak. Tapi saya ragu untuk memancing, apalagi memakannya. Meski ikan bisa hidup di perairan tercemar, belum tentu saya juga bisa “hidup” dengan aman setelah mengonsumsinya. kalau ada apa apa di perantauan akan lucu, hehehe.

Tulisan ini mungkin bisa menjadi kritik kecil bagi oknum-oknum pabrik yang membuang limbah ke sungai. Kasihan orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari perairan. Coba bayangkan jika sungai bersih—ikan bisa berkembang biak dengan sehat, aman dikonsumsi, dan warga pun bisa mengelola sungai dengan baik. Bahkan mungkin dimanfaatkan sebagai tambak kecil atau kebutuhan lainnya.

BACA JUGA: Saya Warga Sidoarjo, tapi Nggak Pernah Bangga dengan Kota Sendiri

Jalan yang padat dan truk nakal yang nggak paham aturan

Hal lain yang juga menjadi sorotan saya adalah kondisi jalan Sidoarjo yang begitu padat. Terutama saat jam berangkat dan pulang kerja. Bahkan di malam hari pun, jalan masih sering ramai oleh pengendara.

Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi. Sidoarjo berbatasan langsung dengan Surabaya. Sebagai kota penyangga, banyak warga Sidoarjo yang mencari nafkah di Surabaya—kota besar dengan segudang perusahaan dan lapangan pekerjaan. Begitu pula sebaliknya. Jarak yang dekat menjadikan jalan Sidoarjo–Surabaya sebagai nadi kehidupan para pejuang rupiah.

Namun di sisi lain, saya pribadi sering merasa ngeri-ngeri sedap saat melintasi jalan raya, terutama jalur Malang–Surabaya. Kepadatannya luar biasa, ditambah lagi dengan truk-truk besar yang nekat melintas. Padahal, untuk kendaraan berat sebenarnya sudah disediakan jalur khusus di Lingkar Timur.

Kenakalan pengemudi truk ini kerap membuat saya jengkel. Bagaimana bisa mereka tetap melintasi jalan utama yang notabene pusat perkotaan? Inilah yang membuat saya sering merasa takut dan akhirnya memilih menyusuri jalan-jalan alternatif untuk menuju suatu tempat.

Menurut saya, ini harus menjadi perhatian serius. Jika terjadi kecelakaan, pengendara kecil yang justru paling dirugikan. Saya berharap pihak kepolisian bisa lebih tegas dan memperketat pengawasan agar tidak ada lagi truk-truk nakal yang melintas di jalan utama. Jalan utama Sidoarjo seharusnya diperuntukkan bagi kendaraan kecil, bukan kendaraan besar bermuatan berat.

Jika lalu lintas tertata dengan baik, jalan akan lebih aman, pengendara pun lebih tenang. Masyarakat yang setiap hari hilir mudik antara Sidoarjo dan Surabaya bisa berangkat dan pulang dengan rasa aman. Dan yang paling penting, sampai rumah dengan selamat.

Penulis: Ahmad Muflihus Syauqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sidoarjo: Surga untuk Pebisnis, Neraka bagi Perantau. Pengeluaran Selangit, Pemasukan Sulit!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2026 oleh .

Ahmad Muflihus Syauqi

Pemuda Madura swasta yang menaruh perhatian terhadap seni, suka membaca dan menulis.