Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Lebak Masih Miskin dan Menderita, Tak Kunjung Berubah sejak Max Havelaar Menyindir Belanda

Maryza Surya Andari oleh Maryza Surya Andari
29 Januari 2024
A A
Lebak Masih Miskin dan Menderita, Tak Kunjung Berubah sejak Max Havelaar Menyindir Belanda

Lebak Masih Miskin dan Menderita, Tak Kunjung Berubah sejak Max Havelaar Menyindir Belanda (Fahrul Razi via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Kabupaten Lebak pernah menjadi inspirasi lokasi dan bahan diskusi bersejarah ratusan tahun lalu. Wilayah yang terletak di bagian selatan provinsi Banten ini menjadi setting lokasi buku Max Havelaar. Novel yang menggemparkan pada masanya hingga menyebabkan pemerintah kolonial membuka kesempatan pendidikan bagi para pribumi keturunan priyayi. Terbukanya mata para anak bangsa terhadap literasi dan dunia luar adalah cikal bakal kebangkitan nasional.

Walau ketenaran buku Max Havelaar mendunia, realitas di Lebak sangatlah kontras dengan kondisi masyarakat yang masih jauh dari makmur. Hingga artikel ini ditulis, Lebak masih berusaha mengentaskan diri sebagai daerah tertinggal. Sebelumnya pada 2019, ada 182 desa tertinggal dan 16 desa sangat tertinggal. Akhir tahun 2023 di Lebak tersisa 99 desa tertinggal dan 1 desa sangat tertinggal.

Memahami Max Havelaar

Kita bicara buku ini secara singkat, agar paham maksud saya secara utuh. Max Havelaar ditulis oleh Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker yang pernah menjadi Asisten Residen Lebak pada 1856. Melihat ketimpangan sosial dan penderitaan rakyat Lebak, Eduard Douwes Dekker menulis kepada para atasannya mengenai kesewenangan dan korupnya Bupati Lebak Raden Adipati Karta Natanegara. Walaupun atasannya Brest van Kempen sangat terkejut atas berita yang diinformasikan Eduard, namun Eduard malah mendapat teguran keras.

Kecewa dengan reaksi yang diberikan oleh van Kempen, Dekker akhirnya memilih meninggalkan Lebak setelah 84 hari bekerja sebagai Asisten Residen Lebak. Di kemudian hari setelah berkali-kali gagal melamar pekerjaan yang lebih baik dan dibayangi ancaman perceraian, Eduard akhirnya menulis buku yang menceritakan tentang feodalisme dan kolonialisme yang terjadi selama bertahun-tahun di Hindia Belanda. Max Havelaar yang sarat sindiran terhadap pemerintah Belanda menjadi buku yang sangat populer pada abad ke 19.

Setelah buku Max Havelaar terbit dan mengguncang pemerintahan, Belanda akhirnya menerapkan Politik Etis. Politik Balas Budi ini membolehkan kaum pribumi mengenyam pendidikan walau hanya kalangan terbatas. Harapan Belanda mencuci tangan dengan menggunakan Politik Etis di kemudian hari akan berbalik menjadi benih-benih perlawanan terhadap kolonialisme.

Dinasti Lebak

Max Havelaar beserta keluarga dan babunya pada 1800-an harus melalui perjalanan ke Lebak dengan kepayahan karena jalanan yang jelek, berlubang dan berlumpur. Pada 2024, perjalanan melewati Kabupaten Lebak yang merupakan Dapil 1 Banten sangatlah berbeda. Jalanan sudah beraspal, cukup luas, dan meriah dengan spanduk dan baliho besar caleg menyambut di setiap sisi jalan dengan berbagai janji.

Berbanding terbalik dengan ingar bingar pesta demokrasi di Dapil 1 Banten, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Lebak sangatlah sunyi. Berdasarkan data BPS Tahun 2022, IPM Lebak adalah yang terendah di antara delapan kota/kabupaten di Banten. Hampir separuh atau 45,93% penduduk Lebak hanya lulusan SD dengan rata-rata masa belajar 6,59 tahun atau setara kelas satu SMP. Fakta dan data ini sungguh kontras dengan jargon Kabupaten Lebak “Lebak Sehat, Lebak Pintar dan Lebak Sejahtera.”

Tingkat pendidikan yang rendah di Kabupaten Lebak menjadi keuntungan bagi caleg dan petahana yang bertarung di Dapil 1 Banten. Dikutip dari data survei Litbang Kompas tahun 2022, mayoritas responden dengan pendidikan dasar dan menengah memilih partai berdasarkan alasan yang kurang rasional. Yaitu, ketokohan (48,1%) dan popularitas (26,9%) partai. Sedangkan responden berpendidikan tinggi cenderung yang memilih partai dengan alasan yang lebih rasional. Yaitu berdasarkan visi dan misi (22%), ketokohan (18%), dan program kerja partai (14%).

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

3 Tempat Wisata Underrated di Lebak Banten yang Perlu Perhatian Pemerintah Setempat

Nggak perlu susah kampanye di Lebak

Merujuk pada fakta pemilih di Kabupaten Lebak yang hampir separuhnya hanya berpendidikan SD, diikuti pemilih berpendidikan SMP (19,95%) dan SMA (15,12%), dapat disimpulkan kecenderungan pemilih di Lebak akan cenderung ke emosional daripada rasional. Caleg tidak perlu pusing dan memeras otak untuk mengkampanyekan visi, misi atau janji kampanye yang was wes wos. Toh kemungkinan besar pemilih akan menyoblos siapa saja dengan nama famili yang mereka kenal, karena tokoh dan popularitas masih jadi alasan utama.

Tahun 2018 hingga 2023 angka rata-rata masa belajar di Lebak baru naik sedikit dari 6,21 menjadi 6,59 tahun. Fakta ini sungguh kontras dengan proyek senilai milyaran rupiah yang mayoritas dimenangkan para kerabat dinasti politik. Dalam rilis BPS disebutkan bahwa rendahnya masa belajar di Lebak disebabkan faktor kesulitan ekonomi.

Sudah digugat lebih dari seabad, tapi tak berubah

Hampir dua abad lalu Max Havelaar menggugat, “Apakah ketamakan pejabat memang terkait dengan hubungan keluarga yang kuat?” Bagai peramal, sebaris pertanyaan yang ditulis Multatuli itu masih sangat relevan hingga tahun pemilu 2024. Apakah rakyat Lebak selama ini hanya dianggap sederet nama dalam daftar pemilih tetap?

Begawan sastra Indonesia, Pram pernah menyebut Max Havelaar sebagai “Novel yang membunuh kolonialisme”. Pemerintahan kolonial memang telah hilang dari bumi Lebak hampir seabad lalu, tapi dominasi ekonomi dan sumber daya masih dikuasai dinasti penguasa. Sebuah ironi bagi wilayah yang menggunakan nama Multatuli sebagai museum dan nama jalan utama.

Penulis: Maryza Surya Andari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Surat untuk Luhut: Tol Serang Panimbang Wujud Penderitaan Warga Lebak Banten

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2024 oleh

Tags: dinasti politikkabupaten lebakKemiskinanmax havelaarmultatuli
Maryza Surya Andari

Maryza Surya Andari

Ibu bekerja yang bercita-cita menjadi penulis.

ArtikelTerkait

Indomie Bukan Makanan Legendaris, Ia Cuma Simbol Krisis dan Kemiskinan Kolektif

Indomie Bukan Makanan Legendaris, Ia Cuma Simbol Krisis dan Kemiskinan Kolektif

21 September 2025
Makan Gorengan Kustini Sambil Nyeplus Lombok Rawit dinasti politik MOJOK.CO

Makan Gorengan Kustini Sambil Nyeplus Lombok Rawit

22 Juli 2020
Sistem Pendidikan Indonesia dan Skor PISA yang Buruk, pendidikan era digital

Sistem Pendidikan Indonesia dan Skor PISA yang Buruk

8 Desember 2019
Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Malas dan Tidak Punya Uang Mojok.co

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

8 Januari 2026
Indramayu , Kabupaten yang Bisa Saja Setara Jakarta, tapi Malah Memilih Jadi Kabupaten Semenjana

Indramayu, Kabupaten yang Bisa Saja Setara Jakarta, tapi Malah Memilih Jadi Kabupaten Semenjana

2 Februari 2024
rakyat kecil, kemiskinan, acara tv

Kemiskinan dan Kesusahan itu Cuma Berlangsung 40 Hari Saja, kok

1 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

10 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

11 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa Mojok.co

Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung
  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.