KA Dhoho-Penataran Surabaya-Malang, Kereta yang Menyiksa Penumpang tapi Tetap Dibutuhkan

KA Dhoho-Penataran Surabaya-Malang, Kereta yang Menyiksa Penumpang tapi Tetap Dibutuhkan

KA Dhoho-Penataran Surabaya-Malang, Kereta yang Menyiksa Penumpang tapi Tetap Dibutuhkan (Rizal Febri Ardiansyah via Wikimedia Commons)

Dari sekian banyak pilihan moda transportasi massal dari Surabaya tujuan Malang, KA Dhoho-Penataran jadi pilihan utama saya. Kecintaan saya terhadap kereta komuter ini karena harga tiketnya yang murah dan relatif aman untuk menembus kemacetan Surabaya-Malang. Tetapi saya akui tak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk KA Dhoho-Penataran.

Sebagai penyedia transportasi kereta di negeri ini, KAI sebenarnya sudah cukup berbenah. Saat ini mereka punya aplikasi yang user friendly, KAI Access. Tinggal klik-klik, tiket langsung di tangan. Sangat memudahkan penumpang seperti saya. Nggak perlu lagi deh datang ke stasiun untuk membeli tiket kayak zaman baheula.

Tak sedikit orang yang menyebut kalau KA Dhoho-Penataran menyiksa penumpang. Memang harus kita akui, sekarang ini orang naik kereta bukan cuma untuk sampai tujuan, tapi juga supaya lebih nyaman dan tenang menghindari kemacetan. Meski punya kekurangan, kereta ini tetap jadi andalan dan dibutuhkan banyak orang.

Siasat yang dilakukan banyak penumpang demi mendapatkan kenyamanan

Salah satu siasat penumpang yang biasa saya jumpai saat naik KA Dhoho-Penataran Surabaya-Malang adalah penumpang beli dua tiket untuk satu orang. Penumpang tipe ini dengan santainya bilang kalau sering melakukan cara itu. Alasannya sederhana, biar mereka nggak perlu berdesak-desakkan. Maklum, kereta komuter ini masih menggunakan konfigurasi kursi 3-2 berhadapan dengan kursi tegak.

Jadi jangan heran jika antarbahu penumpang saling beradu. Dengkul penumpang juga kadang bertemu satu sama lain. Makanya banyak yang mengatakan naik kereta ini begitu menyiksa.

Mengingat tiket kereta cuma Rp10 ribu sampai Rp12 ribu, tak heran jika orang rela membayar lebih demi sebuah kenyamanan. Penumpang hanya perlu membayar paling mahal Rp24 ribu jika membeli tiket dobel. Nominal segitu masih lebih murah dibanding harga kopi susu di stasiun.

Kalau dilihat dari logika ekonomi, wajar. Tapi dari sisi kemanusiaan sosial, agak nyelekit juga. Soalnya artinya seseorang bisa duduk leluasa di dua kursi, sementara penumpang KA Dhoho-Penataran lainnya harus berdiri berjam-jam di lorong penghubung sambil menunggu kereta tiba di stasiun tujuan.

Tiket berdiri tetap jadi solusi, meski menyiksa diri

Kadang saat ada keperluan mendadak di Kota Malang dan kebetulan sedang akhir bulan, naik KA Dhoho-Penataran menjadi pilihan utama saya. Kalau sudah kehabisan kursi, mau tidak mau ya harus bayar tiket berdiri. Kejadian ini sering saya alami.

Di dalam kereta, rasanya seperti ikut ketahanan fisik versi KAI. Selama dua jam perjalanan harus berdiri di dalam kereta, bergoyang ke kanan-kiri mengikuti ritme kereta api. Ada juga penumpang lain yang memilih jongkok di pojokan gerbong sambil berusaha tetap elegan di tengah aroma khas toilet KA komuter.

Kalau dipikir lagi momen ini sebenarnya lucu juga. Di satu sisi semua orang punya alasan rasional untuk tetap membeli tiket kereta meski harus berdiri. Saya salah satunya yang lebih memilih beli tiket kereta tanpa kursi ketimbang harus menembus kemacetan jalanan Surabaya-Malang.

Saran saya, jika ingin aman, belilah tiket KA Dhoho-Penataran dari jauh-jauh hari. Sebab hukum rimba dalam pemesanan tiket kereta ini tetap berlaku. Siapa cepat dia yang dapat, siapa yang beli duluan dia yang akan mendapat kenyamanan.

Meski tak nyaman, KA Dhoho-Penataran tetap jadi andalan kaum mendang-mending yang ingin hemat

Saya adalah orang yang selalu menempatkan biaya apa pun di prioritas utama. Jika harga yang harus dibayar murah, semua hal menyebalkan bisa saya maafkan. Jika harus membayar mahal, biasanya di akhir saya akan menyesal. Makanya saya tak masalah ketika harus naik KA Dhoho-Penataran Surabaya-Malang dengan segala ketidaknyamanannya. Soalnya saya bisa menghemat dari sana.

Sebagai kaum mendang-mending, kereta komuter satu ini memang menjadi andalan dalam mobilitas kami. Mahasiswa, pekerja, hingga pedagang yang lengkap dengan barang jualan mereka juga mengandalkan kereta ini.

Setelah beberapa kali naik KA Dhoho-Penataran Surabaya-Malang ini, standar saya soal kenyamanan jadi berubah. Semua tergantung kita memaknai sebuah perjalanan. Tiket murah dan punggung pegal, efisiensi dan ujian kesabaran.

Jadi jika kalian menginginkan kereta murah, kereta komuter ini bisa dicoba. Semoga kalian bisa merasakan pengalaman menyenangkan dalam perjalanan meski sedikit kurang nyaman.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 3 Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Naik Kereta Api Dhoho Penataran.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version