Belum lama ini akun Instagram detikjogja mengunggah daftar jurusan di UGM yang sepi peminat dengan peluang kerja besar. Jurusan Teknologi Hasil Perikanan tercatat menjadi salah satunya dengan peluang diterima 16,67 persen. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan postingan itu.
Persaingan masuk jurusan Teknologi Hasil Perikanan memang longgar dibanding jurusan lain karena cenderung sepi peminat. Namun, soal peluang kerja yang besar setelah lulus, sebagai alumnus jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM beberapa tahun lalu, saya kurang setuju. Dan, mungkin hal ini juga dirasakan oleh alumni jurusan Teknologi Hasil Perikanan dari kampus mana pun.
Awal perjalanan masuk jurusan Teknologi Hasil Perikanan
Masih ingat betul pertama kali saya menginjakkan kaki di Jogja pada 2017 lalu. Saya berhasil diterima di salah satu kampus dan jurusan impian, jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM
Saya pilih jurusan tersebut bukan tanpa alasan. Bersekolah di SMA dekat kampung nelayan di Juwana, Pati membuat saya tidak asing dengan kehidupan nelayan dan pengusaha UMKM bidang perikanan. Dengan mata ini saya melihat sendiri bagaimana banyak orang menggantungkan hidupnya dari hasil laut. Keputusan memilih jurusan Teknologi Hasil Perikanan semakin bulat karena Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia pada saat itu masih dipimpin oleh Menteri Susi Pudjiastuti yang saya kagumi.
Pilihan masuk jurusan yang kurang populer ini jelas mengundang pertanyaan dari teman-teman dan keluarga besar. “Nanti kalau udah lulus kerja apa?” “Kuliah jauh–jauh ke Jogja kok ambil perikanan?” “Kenapa ngga kedokteran atau guru aja sih” “Jurusan perikanan nanti ngomong sama ikan gitu ya?” Kurang lebih begitu yang saya ingat dan dengar.
Pertanyaan-pertanyaaan itu saya jawab dengan mantap, ingin membantu ekonomi masyarakat pesisir, khususnya mereka yang tinggal di sekitar tempat tinggal saya. Iya, pada saat itu saya memang masih sangat idealis, tidak heran jawaban itulah yang keluar dari mulut ini.
Malu rasanya kalau diingat-ingat kembali. Sebab, pada akhirnya saya tidak bekerja sesuai dengan jurusan yang dibanggakan itu. Namun, keputusan menjalani pekerjaan yang tidak linear ini bukan semata-mata menyerah, tapi banyak pertimbangan lain.
Kenyataan setelah menyandang gelar Sarjana Perikanan
Setelah mengantongi gelar Sarjana Perikanan (S.Pi), saya mencoba mencari pekerjaan yang linear dengan jurusan. Di sini kenyataan di lapangan mulai “menampar”. Saya dan banyak kawan sejurusan lain merasa kesulitan menemukan loker yang sesuai.
Agak ironi sebenarnya. Dosen saya pernah menjelaskan, Indonesia salah negara maritim yang sebagian besar kawasannya terdiri atas laut. Sedihnya, tidak banyak perusahaan, baik swasta maupun negara, yang membuka loker untuk lulusan perikanan.
Saat saya mencoba daftar BUMN, tidak ada instansi yang membuka posisi khusus untuk lulusan perikanan. Dengan kata lain, lulusan jurusan ini harus berebut kesempatan dengan lulusan jurusan lain untuk menduduki suatu posisi. Artinya, persaingannya akan ketat.
Jujur, sempat ada kecemburuan antara lulusan jurusan perikanan terhadap departemen-departemen lain di Fakultas Pertanian (kebetulan jurusan Perikanan masih menjadi bagian dari Fakultas Pertanian). Rasa-rasanya mereka lebih mudah mendapatkan posisi di BUMN karena ada instansi khusus yang siap menampung mereka setelah lulus. Bulog misal. Dengan segala pertimbangan dan loker itu, dengan berat hati akhirnya saya mendaftar di instansi yang membuka lowongan untuk semua jurusan.
Kerja sesuai jurusan, tapi kondisinya mengenaskan
Di antara banyaknya alumni jurusan Teknologi Hasil Perikanan yang bekerja tidak linear dengan jurusannya, ada satu kawan yang bersikukuh bekerja sesuai bidangnya. Dia bekerja sebagai teknisi tambak udang di salah satu perusahaan swasta ternama.
Bagi kalian yang masih awam dengan posisi teknisi tambak udang, saya beri sedikit gambaran ya. Posisi ini mewajibkan pekerjanya bekerja di lapangan, di tambak udang yang luas itu. Tugasnya, memastikan semua kegiatan budidaya berjalan dengan baik dari mulai persiapan kolam hingga panen. Intinya, pekerjaan ini perlu kondisi fisik yang prima dan risiko besar.
Mengenaskannya, kawan saya ini digaji secara tidak layak, sekitar Rp2juta saja. Memang, saat itu dia masih fresh graduate dan tempat tinggal serta makan sudah ditanggung perusahaan. Namun, angka Rp2 juta masih kurang, apalagi dibanding dengan tanggung jawab yang diemban. Sedihnya lagi, selama kerja di sana, ijazah kawan saya ini ditahan. Poin terakhir inilah yang membuatnya ragu untuk melanjutkan kontrak kerja.
Momentum yang paling mengenaskan, dia tidak dapat cuti saat Lebaran. Dia harus tetap bekerja pada saat hari pertama hari raya sehingga tidak bisa pulang ke kota kesayangannya, Boyolali.
Akhirnya, setelah menghabiskan masa kontrak kerja selama 2 tahun. Dia memutuskan datar PNS di salah satu kota di Jawa Timur di bawah naungan Kemenkumham. Bidang yang sangat jauh dari dunia perikanan, tapi kerja dan upahnya lebih layak.
Akhirnya dia bergabung dengan kawan-kawan lain yang kerjanya tidak linear dengan jurusan. Selain kerja di pemerintahan, banyak alumnus jurusan ini yang banting setir kerja di bank hingga sales makanan dan minuman. Bahkan, ada yang kerja apa saja di luar negeri karena merasa tidak ada harapan untuk bekerja di negara ini.
Pertimbangkan ulang sebelum masuk jurusan Teknologi Hasil Perikanan
Tulisan ini tidak bermaksud mengecilkan jurusan Teknologi Hasil Perikanan dan mahasiswanya. Pun tidak berniat mengejek alumnusnya. Saya cuma pengin mengingatkan untuk berpikir matang-matang sebelum ambil jurusan ini. Jangan hanya karena disebut-sebut peluang masuknya besar, para calon mahasiswa kemudian tertarik masuk sana. Jurusan ini memang gampang masuk dan lulusnya, tapi kesulitan dapat peluang oke di dunia kerja.
Kalau kalian tetap ingin kuliah jurusan Teknologi Hasil Perikanan, siapkan kesabaran dan energi ekstra untuk tetap bisa kerja di bidang ini. Kesempatannya tidak banyak, tapi kalau dipersiapkan dengan baik dari sisi keilmuan dan jaringan, bukan tidak mungkin kalian dapat kesempatan kerja di bidang yang masih linear kelak.
Penulis: Channia Noor Aisyah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
