Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan (unsplash.com)

Jurusan PGPAUD mungkin nggak menjanjikan versi mereka. Tapi menjanjikan versi yang lain kayak pemahaman, empati, kesabaran, dan bekal hidup jangka panjang

Ada satu momen yang sampai sekarang masih nempel di kepala. Bukan karena dramatis, tapi karena terlalu biasa. Saking biasanya, kita sering lupa kalau omongan ringan bisa berubah jadi penilaian hidup orang lain.

Waktu itu aku mampir ke rumah tetangga. Obrolannya ngalor-ngidul, dari cuaca sampai harga bahan pokok. Lalu, seperti adegan wajib di setiap kumpul-kumpul orang dewasa, muncul satu pertanyaan klasik: “Sekarang kuliah jurusan apa, Mbak?”

Aku jawab santai, “jurusan PGPAUD.”

Beberapa detik hening. Lalu keluar kalimat yang rasanya ringan tapi nyenggol: “Loh kok ambil jurusan itu? Kan kerjanya nggak menjanjikan. Masa depannya gimana?”

Nada suaranya biasa. Nggak marah, nggak jahat. Tapi justru itu yang bikin nyelekit. Karena kalimat kayak gitu sering keluar bukan dari niat menyakiti, tapi dari kebiasaan menilai.

Masa depan versi siapa?

Di banyak kepala orang, masa depan itu identik dengan gaji besar, kantor ber-AC, dan jabatan yang bisa dipamerkan di acara keluarga. Kalau jurusan kuliahmu nggak masuk daftar itu, langsung dicap “kurang menjanjikan”.

Jurusan PGPAUD sering kena stigma semacam ini. Dianggap jurusan cadangan. Jurusan yang “yang penting kuliah”. Kerjanya cuma ngurus anak kecil, nyanyi-nyanyi, lalu pulang dengan gaji yang katanya nggak seberapa.

Padahal, yang sering lupa, masa depan bukan cuma soal nominal di slip gaji. Masa depan juga soal bekal hidup. Soal pengetahuan yang nempel, yang kepake terus, bahkan saat kartu mahasiswa sudah lama kedaluwarsa.

Jurusan PGPAUD dan ilmu parenting yang nggak semua orang punya

Salah satu hal paling berharga dari jurusan PGPAUD adalah ilmu parenting. Bukan parenting ala konten viral, tapi yang berbasis teori dan praktik. Paham tahap tumbuh kembang anak, cara berkomunikasi yang sehat, sampai mengenali emosi anak sejak dini.

Ilmu ini sering diremehkan karena dianggap “nanti juga bisa belajar sendiri”. Padahal, banyak orang tua kebingungan menghadapi anak bukan karena kurang sayang, tapi karena kurang paham.

Jurusan PGPAUD ngajarin bahwa anak bukan miniatur orang dewasa. Mereka punya dunia sendiri, ritme sendiri, dan cara belajar yang nggak bisa disamakan. Pengetahuan kayak gini nggak cuma berguna di ruang kelas, tapi juga di kehidupan sehari-hari, kelak saat kita jadi orang tua, tante, om, atau sekadar orang dewasa yang berinteraksi dengan anak-anak.

BACA JUGA: Susahnya Jadi Guru PAUD: Kadang Nggak Cuma Mendidik Anak, tapi Juga Kena Semprot Orang Tua yang Menyebalkan

Jurusan PGPAUD: ngurus anak itu ilmu, bukan insting semata

Ada anggapan kalau ngurus anak itu bakat alami, terutama buat perempuan. Seolah-olah begitu punya anak, semua langsung otomatis bisa. Kenyataannya nggak sesederhana itu.

PGPAUD membongkar mitos tersebut. Ngurus anak itu ada ilmunya. Dari cara menghadapi tantrum, mengasah kemandirian, sampai menumbuhkan rasa percaya diri anak sejak kecil.

Ini bukan sekadar soal bikin anak nurut, tapi soal membentuk manusia kecil yang kelak tumbuh dengan mental sehat. Dan proses itu butuh pengetahuan, kesabaran, dan refleksi. Tiga hal yang terus diasah selama kuliah di jurusan ini.

Kreativitas yang terlatih, bukan sekadar bakat

Jurusan PGPAUD juga akrab dengan kreativitas. Bukan kreativitas yang harus selalu estetik, tapi yang fungsional. Gimana caranya bikin anak belajar tanpa merasa digurui. Gimana mengubah hal sederhana jadi alat belajar.

Otak dipaksa mikir fleksibel. Nggak melulu kaku. Nggak semua solusi ada di buku. Kadang harus improvisasi. Dan kemampuan ini kepake di banyak aspek hidup, nggak cuma saat ngajar.

Kreativitas yang terlatih bikin kita lebih adaptif. Lebih peka. Lebih siap menghadapi situasi yang nggak ideal. Sesuatu yang jarang masuk hitungan saat orang sibuk menilai “masa depan” dari jurusan kuliah.

BACA JUGA: Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan

Nggak ada ilmu yang sia-sia

Kalimat tetanggaku waktu itu mungkin sudah lupa. Tapi obrolan itu justru bikin aku sadar satu hal: banyak orang menilai hidup dari luar, tanpa benar-benar tahu isinya.

Jurusan PGPAUD mungkin nggak menjanjikan versi mereka. Tapi menjanjikan versi yang lain kayak pemahaman, empati, kesabaran, dan bekal hidup jangka panjang.

Rezeki itu bukan cuma soal pekerjaan tetap dan gaji bulanan. Rezeki juga berupa ilmu yang kepake, cara pandang yang lebih luas, dan kemampuan memahami manusia sejak usia paling dini.

Nggak ada ilmu yang benar-benar nggak berguna. Yang ada, cuma orang-orang yang terlalu cepat menilai masa depan orang lain, tanpa tahu bekal apa yang sedang mereka bawa.

Penulis: Nur Anisa Budi Utami
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Guru PAUD Itu Bukan Profesi Sepele dan Nggak Akan Pernah Sepele

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version