Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Joki Tugas: Penjokinya Tak Bermoral, yang Dijoki Sudah Bodoh, Tak Bermoral Pula

Agustang oleh Agustang
4 November 2024
A A
Dosen Pembimbing yang Nggak Becus Tak Bisa Jadi Pembenaran Jasa Joki Skripsi. Mahasiswa kok Mentalnya Pengecut? Aneh! joki tugas

Dosen Pembimbing yang Nggak Becus Tak Bisa Jadi Pembenaran Jasa Joki Skripsi. Mahasiswa kok Mentalnya Pengecut? Aneh! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Selamat datang di dunia pendidikan kita yang super canggih, di mana kita bisa memesan nilai dengan satu kali klik, sama seperti memesan makanan di aplikasi. Di zaman serba instan ini, kita tidak lagi perlu bersusah payah mengerjakan tugas yang konon katanya “berfungsi untuk mendidik.” Mengapa repot-repot belajar, kalau ada joki tugas?

Saya sedang mencoba membahas joki tugas. Ini merupakan praktik di mana peserta didik (termasuk mahasiswa) menyerahkan tanggung jawab belajar kepada orang lain dengan imbalan uang. Hasilnya? Mungkin selembar kertas berisi nilai yang tidak mencerminkan kemampuan nyata mereka.

Mari kita telusuri siapa yang sebenarnya pantas disalahkan dalam drama edukasi ini. Apakah penjoki yang tak bermoral, yang menganggap bahwa pendidikan hanyalah ladang uang? Atau yang dijoki yang juga tak kalah “hebatnya,” yang dengan sengaja memilih untuk mengabaikan proses belajar demi kenyamanan sesaat?

Dengan semakin banyaknya peserta didik yang terjebak dalam jebakan manis ini, satu pertanyaan besar pun muncul: di mana letak integritas “manusia” kita?

Joki tugas bangga dengan praktik culas mereka

Pertama, kita punya si penjoki tugas. Ini adalah orang-orang yang dengan bangga mengenakan gelar “pahlawan jalan pintas.” Mereka mungkin sebenarnya pintar, bahkan saking pintarnya, mereka sangat ahli dalam seni mencari untung dari kebodohan orang lain. Seolah-olah mereka sedang menjalankan misi mulia untuk “menyelamatkan” peserta didik dari tumpukan tugas yang mencekik.

Di era sekarang, mereka lebih ganas lagi. Mereka bahkan dengan percaya dirinya mempromosikan joki tugas tersebut secara terang-terangan. Apakah mereka merasa bersalah? Tentu saja tidak! Bagi mereka, uang adalah segalanya. Jadi, kenapa tidak merusak pendidikan orang lain demi beberapa lembar uang?

“Kenapa berusaha keras kalau kamu bisa membeli hasilnya?” ucap penjoki. Dengan cara mereka yang sangat cerdas, para pelaku joki tugas ini seakan-akan mengubah dunia pendidikan menjadi sebuah pasar bebas di mana nilai dijual dengan harga yang terjangkau. Dan mari kita beri aplaus untuk mereka, yang berhasil menemukan cara cerdas untuk “mengurangi beban” peserta didik.

Dengan trik licik mereka, para peserta didik ini tidak hanya memperoleh nilai yang meragukan (karena yang dikerjakan penjoki belum tentu benar), tetapi juga pelajaran berharga tentang bagaimana cara mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa harus berkeringat. Siapa yang butuh belajar dan berpikir kritis ketika kamu bisa mendapatkan nilai yang cukup dengan mengeluarkan uang? Dengan semakin populernya praktik ini, kita tidak bisa tidak bertanya: apakah kita sedang membangun generasi yang emas, atau justru menyiapkan generasi cemas?

Baca Juga:

Lebak dan Tangerang: Masih Satu Provinsi, tapi Perbedaan Kualitas Pendidikannya bagai Bumi dan Langit

Sekolah Swasta Gratis, Ide Gila yang Bisa Bikin Pendidikan Makin Miris

Bangga dalam kebodohan

Selanjutnya, kita punya pengguna joki tugas. Mereka adalah kaum yang terperangkap dalam ilusi bahwa mereka bisa meraih kesuksesan tanpa usaha. Pertanyaannya: apakah mereka bodoh, atau hanya malas?

Jawabannya bisa jadi keduanya. Mengapa repot-repot belajar ketika ada seseorang yang bersedia melakukan semuanya untukmu? Dengan cara ini, mereka mengabaikan kenyataan bahwa pendidikan seharusnya menjadi proses pembelajaran yang membangun karakter dan keterampilan. Bukan sekadar sarana untuk mengumpulkan angka di rapor atau ijazah.

Mereka mungkin merasa keren dengan nilai tinggi yang diperoleh tanpa usaha. Mereka berjalan dengan bangga, seolah-olah prestasi itu adalah hasil dari kerja keras. Namun, tanpa disadari, mereka sedang membangun gedung dengan pondasi pasir. Suatu saat, ketika harus menghadapi dunia nyata, mereka akan tersandung dengan sendirinya. Mereka mungkin akan menemukan bahwa nilai tinggi tidak menjamin kemampuan atau pengetahuan yang memadai.

Ketika mereka dihadapkan pada tantangan yang sebenarnya, banyak dari mereka yang akan bingung, dan bahkan frustrasi. Mereka akan terkejut mengetahui bahwa di dunia nyata, tidak ada joki tugas yang siap membantu mereka. Jika ini yang terjadi, bagaimana kita bisa berharap mereka menjadi pemimpin yang bijaksana di masa depan?

Orang tua yang malah mendukung

Apakah sudah cukup? Belum! Di tengah perdebatan apakah joki tugas yang sempat ramai di media sosial, muncul satu karakter yang tak kalah menarik, yaitu orang tua. Ya, kita sering kali terjebak dalam anggapan bahwa mereka adalah sosok yang memotivasi dan mendukung anak-anaknya untuk belajar. Namun, dalam kasus ini, kita menemukan segelintir orang tua yang dengan penuh percaya diri memberi dukungan kepada anak-anak mereka untuk menjoki. Alih-alih mendorong mereka untuk belajar dan mengerjakan tugas sendiri, orang tua ini menganggap bahwa menggunakan jasa joki tugas adalah solusi yang cerdas dan praktis.

Mungkin mereka beralasan bahwa anaknya tidak punya waktu untuk mengerjakan, atau anaknya sudah berusaha maksimal. Syukur kalau berusaha, kalau ternyata seharian cuma main game atau scrolling social media, gimana? Dengan membiarkan anak-anak mereka mengambil jalan pintas, para orang tua ini tanpa sadar mengajarkan mereka bahwa berusaha keras bukanlah hal yang penting. Mereka berkontribusi pada budaya di mana hasil akhir lebih berharga daripada proses yang dijalani.

Lebih ironis lagi, beberapa orang tua mungkin merasa bangga melihat anak mereka mendapatkan nilai tinggi. Tanpa tahu bahwa di balik kesuksesan itu terdapat ketidakjujuran yang menyelimuti. Apakah mereka benar-benar memahami bahwa nilai tersebut tidak mencerminkan kemampuan nyata anak mereka? Ini adalah contoh nyata dari orang tua yang lebih fokus pada pencapaian di atas integritas. Sehingga menciptakan generasi yang lebih suka mengambil jalan pintas daripada berjuang dan belajar dari kesalahan.

Dengan dukungan seperti ini, kita semakin dekat dengan sebuah pertanyaan besar: apakah kita sedang membesarkan anak-anak yang siap menghadapi tantangan dunia nyata, atau justru menyiapkan mereka untuk gagal saat harus menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihan yang mereka buat?

Masa depan cerah karena joki tugas

Praktik joki tugas ini adalah simbol nyata dari kemunduran moral di dunia pendidikan. Pendidikan seharusnya jadi tempat belajar dan berkembang, bukan arena mendapatkan hasil yang maksimal tanpa usaha. Namun, siapa peduli? Kita sudah memasuki era di mana kejujuran dan usaha dianggap kuno. Nilai-nilai tersebut semakin terpinggirkan. Dalam masyarakat yang terlalu fokus pada hasil, banyak yang lupa bahwa proses adalah bagian terpenting dari belajar.

Kalau kita terus membiarkan ini terjadi, kita bisa bayangkan betapa cerahnya masa depan kita. Pengacara yang tidak tahu hukum, guru yang tidak bisa mengajar, hingga dokter yang tidak bisa mengobati akan bertebaran. Siapa yang mau hidup di dunia seperti itu?

Dengan semakin banyaknya lulusan yang tidak kompeten, kita akan menghadapi risiko yang besar. Yaitu, menyaksikan generasi yang terjebak dalam kebodohan yang terinstitusional, siap menghadapi dunia dengan kebingungan dan ketidakpastian.

Penulis: Agustang
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Pahit Pakai Joki Tugas Kuliah: Tugas Nggak Kelar, Malah Kena Tipu hingga Diteror Terus-menerus 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 November 2024 oleh

Tags: dunia pendidikanjoki tugaskualitas pendidikanmoral
Agustang

Agustang

Fresh graduate yang sedang quarter life crisis.

ArtikelTerkait

Ranking PISA Indonesia Naik, tapi Skornya Turun, Artinya Apa? Yak Betul, Kualitas Pendidikannya Jalan di Tempat

Ranking PISA Indonesia Naik, tapi Skornya Turun, Artinya Apa? Yak Betul, Kualitas Pendidikannya Jalan di Tempat

8 Desember 2023
Selama Gaji Guru Tidak Naik, Universitas Pendidikan macam UNY Hanya Akan Jadi Pencetak Orang Miskin Baru

Selama Gaji Guru Tidak Naik, Universitas Pendidikan macam UNY Hanya Akan Jadi Pencetak Orang Miskin Baru

1 Januari 2024
Kalau Bikin Kajian Strategis BEM, Tolong Referensinya Jangan Makalah Anak SD kastrat BEM kampus makalah APA style mojok.co

Pengalaman Saya Ngejokiin Tugas Mahasiswa Sastra Indonesia

14 April 2020
Saya Berani Bertaruh, kalau Tahun Depan Menteri Pendidikan Diganti, Kurikulumnya Bakal Ganti Lagi

Saya Berani Bertaruh, kalau Tahun Depan Menteri Pendidikan Diganti, Kurikulumnya Bakal Ganti Lagi

5 November 2023
Tiap Tahun, Selalu Ada Orang Kaya Dapat KIP Kuliah, Ini yang Ngurus Nggak Becus atau Emang Orang Miskin Nggak Boleh Kuliah? beasiswa KIP

Tiap Tahun, Selalu Ada Orang Kaya Dapat KIP Kuliah, Ini yang Ngurus Nggak Becus atau Emang Orang Miskin Nggak Boleh Kuliah?

23 November 2023
Selama Gaji Guru Tidak Naik, Universitas Pendidikan macam UNY Hanya Akan Jadi Pencetak Orang Miskin Baru

Kenapa (Bisa) Orang-orang Menolak Kenaikan Gaji Guru?

3 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Anggapan Solo Serba Murah Mulai Terasa Seperti Dongeng, Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti

11 Januari 2026
Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Bisa Diharapkan (Unsplash)

Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Jadi Harapan, Bikin Saya Juga Ingin Bilang kalau Kuliah Itu Scam

9 Januari 2026
Cerita Kawan Saya Seorang OB selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

Cerita Kawan Saya Seorang OB Selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

10 Januari 2026
Alasan Orang Lebih Memilih Menu Kopi Susu Gula Aren daripada Menu Kopi Lain di Kafe Mojok.co

4 Alasan Orang Lebih Memilih Kopi Susu Gula Aren daripada Menu Kopi Lain di Kafe

12 Januari 2026
Banyu Urip, Kelurahan Paling Menderita di Surabaya (Unsplash)

Banyu Urip Surabaya Kelurahan Paling Menderita, Dibiarkan Kebanjiran Tanpa Menerima Solusi Sejak Dulu

10 Januari 2026
Stasiun Magetan: Nama Baru, Lokasi Antah Berantah, Mencoba Membendung Popularitas Stasiun Madiun yang Duluan Terkenal

Stasiun Magetan: Nama Baru, Lokasi Antah Berantah, Mencoba Membendung Popularitas Stasiun Madiun yang Duluan Terkenal

10 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme
  • Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup
  • “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 
  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.