Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Jogja Rasa Ubud Sampai Korea Adalah Marketing Wisata Paling Goblok

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
20 September 2021
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Sektor pariwisata Jogja memang sedang terpukul karena pandemi. Tapi bukan berarti urusan pariwisata ini diam di tempat. Toh, selama pembatasan mobilitas saat Jogja kacau balau karena peningkatan kasus positif Covid-19, promosi pariwisata tetap berjalan penuh romantisasi.

Saya pribadi sudah kebal dengan model romantisasi Jogja. Biasanya seputar angkringan dan sopan santun masyarakatnya. Paling banter membahas makanan murah dan spot foto yang ngangenin. Namun, kali ini ada model promosi yang cukup nggatheli. Mungkin karena putus asa dengan situasi selama pandemi, atau kreativitas yang terlewat kebablasan.

Akhir-akhir ini, promosi pariwisata Jogja tengah gencar memainkan narasi cocoklogi. Yang dicocok-cocokkan adalah spot wisata daerah lain. Baik dari Jogja rasa Ubud, Jogja rasa Bali, Jogja rasa Santorini, sampai Jogja rasa Korea. Pokoknya, yang ada di Jogja dibuat rasa-rasa daerah lain yang dipandang lebih menarik.

Mungkin bisa kita maklumi bersama. Lantaran kalau Jogja rasa monarki, Jogja rasa UMR rendah, atau Jogja rasa klitih sudah biasa. Tanpa dipromosikan saja semua orang juga tahu hal tersebut. Apalagi Jogja kan memang terbuat dari UMR rendah, hotel penghisap air tanah, dan klitih, toh? 

Namun, saya hanya mampu memaklumi sampai di situ saja. Soalnya, mau serasa-rasa apa pun, promosi model demikian itu memuakkan. Memasarkan spot wisata yang dimirip-miripkan daerah lain itu sudah menyedihkan. Apalagi dilakukan oleh daerah yang terkenal menyimpan potensi budaya dan wisata yang adiluhung.

Begini lho, Dab. Apakah Anda para pelaku usaha pariwisata mulai miskin ide? Atau memang tidak bisa kreatif di luar perkara mengepul uang wisatawan dan memperluas jurang ketimpangan? Memaksakan spot wisata dimirip-miripkan daerah lain itu seperti menunjukkan bahwa tidak ada potensi wisata di sana. Karena tanpa potensi, spot wisata tadi dipaksakan seperti spot wisata yang lebih populer. Ia jadi versi lite dari tempat yang lebih viral dan menarik.

Dari situ saja sudah kelihatan, industri pariwisata hanya peduli dengan uang pengunjung. Apa itu kearifan lokal dan budaya adiluhung. Kalau tidak laku dijual, ya akhirnya merombak potensi yang sudah ada demi minat pasar. Lalu akan dibawa ke mana potensi yang sudah turun temurun bertahan di daerah tadi? Ya, disingkirkan bersama masyarakat yang mengais-ngais remah-remah bisnis pariwisata demi menyambung hidup.

Dan yang kita bicarakan adalah Jogja. Jogja, kan, digadang-gadang sebagai daerah budaya dan penuh potensi keindahan alam. Jarang-jarang ada daerah yang bisa menyajikan wisata gunung dan pantai sekaligus. Belum lagi dengan eksotisme budaya Jawa yang sebenarnya makin tergusur. Jogja itu saingan berat Bali dan tidak pernah sepi dari wisatawan lokal maupun mancanegara.

Baca Juga:

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Ya, kalau sekarang sepi, jelas karena penanganan pandemi yang amburadul. Tapi biar saja, kan kata Pak Gubernur, “Aku ra kuat ngragati.”

Sudah jelas, Jogja sudah laku sebagai tempat wisata. Lalu untuk apa dipaksakan menjadi mirip daerah lain? Kenapa Jogja harus punya rasa Ubud? Kenapa harus terasa seperti Korea? Apa Jogja memang minim potensi? Atau Jogja sudah kering karena eksploitasi wisata yang sama parahnya dengan penambangan pasir liar?

Ketika lini pariwisata sibuk mengeksploitasi Jogja, kearifan lokal akan menjadi seperti kembang tebu sing kabur kanginan. Terlepas dari akarnya dan terganti oleh panen raya para pemodal. Berlebihan? Mari silakan nikmati Jogja hari ini. Harga barang makin meroket, masyarakat tergusur dari lokasi wisata, dan budaya Jogja tinggal jadi pengisi buku siswa IPS.

Saya pikir sudah waktunya masyarakat Jogja melek situasi. Lantaran situasi hari ini tidak lebih dari penindasan terselubung terhadap kearifan dan kehidupan masyarakat lokal. Bumi yang dulu penuh unggah-ungguh dirudapaksa oleh spot selfie yang 3 bulan lagi menjadi sampah di Piyungan. Masyarakat yang dulu bisa mengusahakan tanah dan air dengan penuh senyum, kini terdesak oleh pemaksaan budaya luar karena rasa-rasa tadi.

Untung saja Jogja punya pegangan narimo ing pandum. Kalau tidak, nyinyiran masyarakat seperti saya sudah menjadi batu besar yang menghalangi konglomerasi pariwisata. Tapi apa lacur, terlalu banyak masyarakat yang memuja Jogja rasa-rasa ini. Bahkan mereka ikut dalam antrean wisatawan yang mementingkan feed Instagram daripada nasib manusia dan budaya yang tergusur itu sendiri. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 September 2021 oleh

Tags: Jogjapilihan redaksiUbudwisata
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

5 Menu Red Flag dari Rumah Makan Padang. Jangan Pernah Beli Menu Ini, Mending Makan Nasi Pakai Garam!

5 Menu Red Flag dari Rumah Makan Padang. Jangan Pernah Beli Menu Ini, Mending Makan Nasi Pakai Garam!

3 Agustus 2023
Cimenyan, Kecamatan Paling Menyedihkan di Kabupaten Bandung Mojok.co

Cimenyan, Kecamatan Paling Menyedihkan di Kabupaten Bandung

8 November 2024
5 Perlintasan Kereta Api di Jogja yang Punya Kisah Unik hingga Mistik Terminal Mojok

5 Perlintasan Kereta Api di Jogja yang Menyimpan Kisah Unik hingga Mistis

8 September 2022
4 Rekomendasi Ayam Geprek Jogja dengan Rasa Sambal Paling "Nendang" Mojok.co

4 Rekomendasi Ayam Geprek Jogja dengan Rasa Sambal Paling “Nendang”

9 Mei 2025
Ilustrasi Legenda yang Hilang di Jogja Bernama Bus Baker dan Jatayu (Unsplash)

Mengingat Kembali Legenda yang Hilang di Kaliurang dan Parangtritis Jogja Bernama Bus Baker dan Bus Jatayu

23 April 2024
nasi goreng di jogja pakem wonosari tegal jawa timur ciri khas mojok.co

Mengidentifikasi 3 Jenis Nasi Goreng di Jogja: Pakem Wonosari, Tegal, dan Jawa Timuran

28 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Dipaksa Kuliah Jurusan Paling Dicari di PTN karena Ambisi PNS, Setelah Lulus Malah bikin Ortu Kecewa karena “Kerjaan Remeh”
  • Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”
  • 10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal
  • Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”
  • Saya Setuju Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup
  • Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.