Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

Supriyadi oleh Supriyadi
2 Februari 2026
A A
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja sering disebut kota santai. Kalimat itu biasanya keluar dari mulut orang yang datang sebentar, lalu pulang dengan kenangan angkringan, senja, dan harga makanan yang katanya murah. Mereka melihat Jogja seperti kartu pos: tenang, ramah, dan tidak tergesa-gesa. Tapi bagi orang yang tinggal lama, hidup di sini, dan menggantungkan penghidupan di sini, kata santai itu jelas bukan sesuatu yang akan mereka amini.

Jogja memang jauh dari kata ribut. Klakson jarang terdengar, orang bicara dengan nada santai, marah pun mereka memutar kata. Tapi itulah masalah sebenarnya: hal-hal tersebut disalahartikan sebagai ketenangan, padahal bisa jadi mereka tak tahu lagi cara mengekspresikan kelelahan yang ada.

Diam yang bergejolak

Di Jogja, santai sudah berubah menjadi semacam label sosial. Orang Jogja seolah diwajibkan tenang, kalem, tidak reaktif. Kalau terlihat stres, nanti dibilang kurang menikmati hidup. Kalau mengeluh, dianggap tidak bersyukur. Bila marah, dicap tidak njawani. Akhirnya, banyak orang memilih satu jalan aman: diam, meski dada rasanya ingin terbelah.

Kesantaian ala Jogja ini akhirnya berakhir jadi topeng. Terlihat adem dari luar, tapi tekanan hidup menggerogoti dari dalam. Dan cobaan hidup dari luar macam harga kos yang naik, gaji kecil, tapi terbebani tuntutan sosial tetap mendera. Akhirnya, predikat santai justru jadi masalah utama orang-orang yang hidup di Jogja.

Harusnya, kata santai ini jadi kualitas, tapi nyatanya, justru bikin hati makin mengeras.

BACA JUGA: Jogja Itu Aslinya Murah, tapi Jadi Mahal Gara-gara (Gaya Hidup) Pendatang

Menekan emosi karena ora penakan

Budaya ora penakan ikut memperparah keadaan. Tidak enakan membuat orang Jogja piawai menunda kepentingan sendiri. Menolak ajakan kumpul dianggap tidak sopan. Mengungkapkan keberatan terasa seperti dosa sosial. Akhirnya, banyak orang hadir di mana-mana secara fisik, tapi absen secara batin.

Yang menarik, kesantaian ini justru sering dipuji dari luar. Jogja dianggap dewasa secara emosional, padahal bisa jadi hanya terbiasa menekan emosi. Tenang bukan karena selesai dengan masalah, tapi karena sudah capek membicarakannya. Tidak ribut bukan karena tidak marah, tapi karena tidak tahu bagaimana caranya marah tanpa merusak citra diri.

Baca Juga:

Jogja Waktu Lebaran Tak Pernah Sepi, Ia Disesaki oleh Orang yang Pulang Kampung, Perantau yang Lari, dan Wisatawan Bermodal THR Tebal

Gudeg Adalah Makanan Khas Jogja Paling Mengecewakan, Mending Makan Mangut Lele atau Bakmi Jawa kalau Pertama Kali Kulineran di Jogja

Ironisnya, ruang aman untuk mengeluh di Jogja justru terasa sempit. Ketika seseorang mulai bercerita tentang lelahnya hidup, respons yang muncul sering klise: “dinikmati saja”, “Jogja kan santai”, atau “yang penting sehat”. Niatnya baik, tapi dampaknya mematikan percakapan. Seolah-olah capek tidak punya legitimasi di kota yang sudah telanjur diberi label nyaman.

Di kota besar lain, orang boleh terlihat stres tanpa banyak penjelasan. Di Jogja, stres harus dibungkus senyum. Marah harus diubah jadi candaan. Kecewa harus ditelan sendiri. Semua demi menjaga suasana tetap adem. Padahal, tidak semua orang butuh suasana adem. Kadang, yang dibutuhkan hanya didengarkan tanpa dihakimi.

Seolah-olah, yang boleh stres hanya orang di kota lain. Jogja, hah, jangan harap.

BACA JUGA: Orang Masih Bertahan di Jogja Tak Melulu karena Nyaman, tapi Bisa Jadi karena Nggak Punya Pilihan Lagi

Pengorbanan orang Jogja

Jogja memang santai dalam banyak hal. Tapi kesantaian itu sering menuntut pengorbanan emosional dari warganya. Ia meminta orang-orangnya untuk selalu terlihat baik-baik saja, meski kenyataannya tidak. Ia ramah pada wisatawan, tapi agak pelit pada warganya sendiri dalam urusan ruang emosional.

Ini yang saya lihat tentang jogja, tentu saja bukan ajakan untuk membenci. Justru sebaliknya. Jogja tetap kota yang penuh kelebihan. Tapi mungkin sudah waktunya kita berhenti mengglorifikasi kesantaian tanpa bertanya: Santai versi siapa? Untuk siapa? Dan dengan harga apa?

Karena di balik kota yang katanya tenang, ada banyak orang yang belajar bertahan hidup sambil tersenyum. Bukan karena bahagia, tapi karena tidak ada pilihan lain.

Jogja memang santai. Tapi jangan-jangan, ia hanya santai di permukaan. Di bawahnya, banyak yang sedang capek secara diam-diam.

Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kesialan Bertubi yang Bikin Saya Merenung dan Nyaris Menyesal Pindah ke Jogja yang Penuh dengan Kebohongan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Februari 2026 oleh

Tags: gaya hidup orang jogjaJogjajogja kota santaimasalah mental orang jogja
Supriyadi

Supriyadi

Seorang yang lahir di Bantul bagian selatan, berdomisili di Bantul bagian utara, dan ber-KTP Cirebon.

ArtikelTerkait

Ranking Masjid dan Musala Mal di Jogja dari yang Paling Nyaman hingga yang Seadanya Banget MOJOK.CO

Ranking Masjid dan Musala Mal di Jogja dari yang Paling Nyaman hingga yang Seadanya Banget

5 Oktober 2024
Lupakan Kursi Besi Indomaret, Orang Jogja Punya Ringroad untuk Meratapi Nasib Mojok.co

Lupakan Kursi Besi Indomaret, Orang Jogja Punya Ringroad untuk Meratapi Nasib

30 September 2025
Yang Fana Itu Waktu, Jalan Rusak di Klaten Abadi

Yang Fana Itu Waktu, Jalan Rusak di Klaten Abadi

1 Maret 2023
KFC Terban Jogja, Tempat Saya Sadar bahwa (Dulu) Saya Begitu Miskin Gara-gara Kaget Lihat Menunya

KFC Terban, Tempat Saya Sadar bahwa (Dulu) Saya Begitu Miskin Gara-gara Kaget Lihat Menunya

2 Mei 2025
Cari Kos Murah di Jogja Makin Susah, 600 Ribu Cuma Dapat Fasilitas Seadanya dan Terletak di Pinggiran Mojok.co

Cari Kos Murah di Jogja Makin Susah, 600 Ribu Cuma Dapat Fasilitas Seadanya. Ada sih yang Mewah, tapi di Pinggiran

19 Juni 2025
warung masakan babi di jogja

Warung Masakan Babi di Jogja yang Bikin Ngiler Part 2

8 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Menyiksa Suzuki Swift di Jalanan Pantura yang Tak Pernah Mulus dari Kudus ke Rembang

9 Maret 2026
Inspektor Mobil Bekas, Orang yang Menentukan Nasib Mobilmu, Berakhir Masuk Neraka Bernama Bengkel, atau Hidup Bahagia Tanpa Onderdil Rusak

Inspektor Mobil Bekas, Orang yang Menentukan Nasib Mobilmu, Berakhir Masuk Neraka Bernama Bengkel, atau Hidup Bahagia Tanpa Onderdil Rusak

12 Maret 2026
Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026
Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan

Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan Semarang

11 Maret 2026
7 Rekomendasi Drama China yang Bisa Ditonton Tanpa Perlu Mikir (Pexels) tiktok

5 Alur Cerita Drama China Pendek di TikTok yang Monoton, tapi Sering Bikin Jam Tidur Saya Berantakan

12 Maret 2026
Honda Stylo Motornya Orang Kaya Waras yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT dan Scoopy Mojok.co

Honda Stylo Motornya Orang Kaya yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT atau Scoopy

13 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK
  • Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa
  • Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna
  • Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas
  • Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih
  • Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.