Informasi
ADVERTISEMENT

Jogja Istimewa: Ketika Trotoar Lebih Penting dari Rumah Rakyat

3 Resep Rahasia yang Bikin Pariwisata Jogja Sukses trotoar

Wisata, wisata, wisata!

Inilah masalah yang lahir akibat doktrin pembangunan di Jogja: doktrin pariwisata. Yang jadi fokus utama hanyalah sektor pariwisata. Entah untuk menarik pengunjung, ataupun mendapat status Kota Warisan Budaya UNESCO.

Ketika sebuah daerah berfokus pada pariwisata, pembangunan estetika jadi keharusan. Bahkan pembangunan RTLH ini juga mengikuti doktrin yang sama. Nilai fungsional serta efisiensi serapan anggaran kalah dengan mimpi “rumah berarsitektur Jawa.” Padahal yang dibutuhkan warga Jogja adalah hidup yang layak. Bukan melulu estetika.

Masih ada 30 ribu rumah tidak layak huni. Minimal, ada 30 ribu keluarga yang tinggal di rumah tidak layak. Tapi mereka harus antre demi mengedepankan estetika daerah tujuan pariwisata. Mengalah pada kenyamanan turis dan pelancong yang katanya penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar. Padahal tidak semua orang terdampak secara positif oleh pariwisata. Dan saya yakin, mayoritas 30 ribu rumah itu tidak mendapat keuntungan langsung dari pariwisata.

Saya melihat sebuah ironi. Proyek estetika ini dibangun dengan Danais yang bersumber dari APBN. Lalu apa dampak dari sumbangan PAD terbesar ini? Kenapa selalu saja Danais yang dihibahkan untuk pembangunan fasilitas pariwisata? Bukankah lebih elok jika urusan pariwisata dibangun dengan APBD yang disumbang sektor tersebut? Yah, namanya juga istimewa.

Saya pikir Jogja bukan satu-satunya daerah yang menganut azas ini. Banyak daerah yang kini memakai doktrin pariwisata sebagai asas pembangunan. Misal di Bandung yang terobsesi menjadikan masjid megah sebagai ikon wisata religi. Pada akhirnya, semua jadi serba estetika. Dan rakyat dipaksa menyingkir demi keindahan destinasi wisata.

Kalau mau mendang-mending sih, setidaknya Danais mulai membangun rakyat. Dari total 1,2 triliun Danais, ada 7 miliar dana pembangunan rumah tidak layak huni. Tapi 1,2 triliun itu berarti 1200 miliar. Mau membuat perbandingan lagi. Tidak perlu, karena Jogja ora iso dibanding-bandingke. Istimewa og! Ra terimo? Majuo, aku meh turu!

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kok Bisa Ada Orang Bahagia di Jogja, padahal Hidup Mereka Susah?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2023 oleh .

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

Exit mobile version