Ada sebuah suara yang jauh lebih jujur daripada pidato politisi mana saja soal angka pertumbuhan ekonomi. Yang saya maksud adalah suara “tet-tet” dari remote motor kredit di parkiran minimarket
Suara itu adalah lonceng penanda bahwa seorang warga kelas menengah baru saja selesai menunaikan hajat konsumsinya. Entah itu membeli dua botol kopi susu gula aren atau sebungkus rokok. Lalu, dia bersiap memacu kendaraan yang, secara hukum perdata, sebenarnya belum sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Kalau Anda sedang senggang dan punya hobi agak aneh seperti saya, cobalah berdiri sepuluh menit saja di depan minimarket saat sore hari. Di sana, Anda akan melihat parade motor kredit yang mengilat, ban yang masih berambut, dan plat nomor yang usianya mungkin belum genap setahun.
Dari kejauhan, pemandangan ini tampak seperti tanda kemakmuran yang merata. Ekonomi bergerak, kasir sibuk, dan rakyat tampak punya daya beli yang perkasa.
Namun, jika kita mau sedikit lebih “kurang ajar” dalam membedah realita, parkiran minimarket itu sebenarnya adalah laboratorium ketimpangan yang paling jujur. Sebab, sebagian besar motor yang terparkir rapi di sana adalah aset yang berdiri di atas fondasi yang sangat goyah bernama motor kredit dan Tenor 35 Bulan. Saya meyakini itu.
BACA JUGA: Ditolak Kredit Motor 3 Kali Bikin Saya Bersyukur dan Tidak Lagi Malu Mengendarai Motor Bebek Jadul
Ilusi kepemilikan motor kredit dan BPKB yang “disekolahkan”
Motor kredit adalah budaya paling ikonik di Indonesia modern sekarang ini. Skemanya disusun dengan sangat humanis di permukaan.
Uang muka seharga sepasang sepatu lari merek lokal, cicilan yang hanya seharga jajan kopi kekinian sehari-hari, dan kamu bisa langsung membawa pulang kendaraan. Bagi banyak orang, motor bukan cuma alat transportasi, melainkan pintu masuk menuju kelas sosial yang lebih “manusiawi”.
Dengan motor, seseorang bisa menembus jarak kantor yang jauh, mengantar anak sekolah tanpa perlu kehujanan di angkot yang pengap, atau sekadar punya alasan untuk nongkrong di kafe estetik tanpa merasa minder.
Motor memberi akses pada peluang. Masalahnya, motor-motor ini sebenarnya adalah milik bersama antara si pengendara dan lembaga pembiayaan. Sebelum angsuran bulan ke-35 lunas, BPKB motor kredit itu masih setia mendekam di brankas perusahaan leasing yang dingin. Ia sedang menjalani masa “sekolah” yang panjang dan melelahkan.
Inilah wajah ekonomi kita hari ini. Di atas kertas, jumlah kepemilikan kendaraan pribadi meroket tajam, mengalahkan rasio kepemilikan rumah.
Tapi, secara finansial, kita sebenarnya sedang meminjam masa depan untuk kita habiskan hari ini. Kita merasa memiliki, padahal kita hanya sedang menyewa hak untuk memamerkannya di depan tetangga.
Transportasi publik yang mati dan motor sebagai “napas buatan”
Jangan salah sangka, saya tidak sedang menghakimi mereka yang mengambil motor kredit. Di sebuah negeri di mana transportasi publik seringnya menjadi “hukuman” bagi mereka yang kurang beruntung, motor adalah kebutuhan primer. Ketika bus kota makin langka, angkot makin tak menentu jadwalnya, dan trotoar justru berubah jadi lapak jualan, motor jadi masuk akal.
Negara seolah-olah sengaja absen menyediakan transportasi yang layak. Mereka memaksa rakyat untuk berutang hanya untuk bisa berangkat kerja. Akhirnya, motor kredit menjadi napas buatan bagi mobilitas warga. Negara memaksa kita mandiri secara ekonomi dengan cara mengikatkan leher pada kontrak angsuran yang panjang.
Inilah paradoksnya. Kita rajin sedekah dan bayar pajak, tapi untuk sekadar pergi ke pasar saja, kita harus membayar upeti bulanan kepada perusahaan finance. Parkiran minimarket itu adalah saksi bisu bagaimana kemandirian transportasi warga dibiayai oleh utang yang bunganya kadang lebih besar dari rasa syukur kita di pagi hari.
Aspiring middle class: Mapan dari luar, megap-megap hadapi cicilan motor kredit di dalam
Fenomena ini menggambarkan sesuatu yang jauh lebih besar tentang struktur ekonomi kita. Yang saya maksud adalah kelahiran massal aspiring middle class.
Ini adalah kasta di mana orang-orang terlihat mapan dari luar tapi sebenarnya sangat rapuh di dalam. Mereka adalah kelompok yang secara statistik sudah keluar dari garis kemiskinan, tapi belum benar-benar sampai ke pulau kemakmuran.
Secara administrasi, mereka adalah tulang punggung pajak. Tapi, stabilitas mereka setipis tisu dibagi dua.
Sedikit saja ada guncangan ekonomi, misalnya anak sakit tiba-tiba, harga beras naik seribu perak akibat gagal panen, atau jam lemburan dipotong perusahaan, logika cicilan mereka langsung berantakan. Motor kredit yang tadinya adalah kaki untuk mencari nafkah, mendadak berubah jadi beban yang mencekik leher setiap tanggal jatuh tempo.
Di parkiran minimarket itulah, kita melihat orang-orang yang sedang berjuang keras untuk terlihat stabil. Mereka membeli barang bukan karena tabungan sudah cukup, melainkan karena sistem kredit memungkinkan untuk berpura-pura cukup.
Mereka sedang terjebak dalam ekonomi yang mendewakan konsumsi, tapi abai pada proteksi finansial. Kita takut leasing akan menarik motor kredit, ketimbang tidak punya dana darurat di tabungan.
Plat nomor baru yang menyembunyikan kemiskinan
Hal yang sama juga bisa kita lihat pada aspek kehidupan lain yang lebih ngeri. Kita membeli rumah dengan sistem KPR selama puluhan tahun. Saking lamanya, mungkin rumahnya sudah roboh tapi cicilannya belum lunas.
Lalu, kita membiayai gawai canggih lewat paylater. Bunganya pelan-pelan menggerogoti gaji pokok. Bahkan, sebagian orang berani berlibur ke luar kota dengan pembayaran bertahap demi gengsi dan pelarian sesaat.
Motor kredit memang alat penting dalam ekonomi modern. Tanpanya, mungkin banyak dari kita yang masih jalan kaki.
Namun, kredit juga menciptakan kabut tebal yang menyembunyikan wajah asli kemiskinan. Hari ini, sulit membedakan mana orang yang benar-benar kaya dan mana orang yang cuma jago mengatur tanggal jatuh tempo utang.
Parkiran minimarket adalah museum dari kenyataan ini. Motor kredit yang terparkir rapi itu terasa seperti milik pribadi, padahal secara de jure, ia masih dalam pengawasan Mas-Mas debt collector yang mungkin sedang memantau dari kejauhan sambil menyeruput kopi sasetan.
Stabilitas kita adalah stabilitas semu. Kita adalah generasi yang merayakan kepemilikan atas barang-barang yang separuh jiwanya masih milik bank.
BACA JUGA: Nasib Tukang Ojek Pangkalan di Pedesaan Kian Merana Gara-gara Kredit Motor yang Makin Mudah
Kesejahteraan yang dicicil sampai mati
Parkiran minimarket, dengan segala hiruk-pikuknya, adalah guru ekonomi yang jauh lebih jujur. Ia menunjukkan bahwa di Indonesia, kemakmuran tidak datang sekaligus dalam satu paket besar. Kemakmuran datang dalam bentuk potongan angsuran tiap bulan yang semuanya serba semu.
Motor-motor itu akan terus datang dan pergi. Sebagian kecil mungkin sudah lunas dan benar-benar menjadi aset sejati bagi pemiliknya.
Namun, sebagian besar lainnya adalah “janji”. Kita harus menebusnya dengan keringat selama tiga tahun ke depan.
Penulis: Faiz Al Ghiffary
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Alasan Saya Menolak Kredit Motor: Skema yang Merugikan Pembeli, tapi Nggak Banyak yang Menyadari
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
