Dua dekade lalu Jember memang merajai dan selalu menjadi jujugan destinasi wisata di wilayah Tapal Kuda. Di antara wilayah eks Keresidenan Besuki, Jember jadi yang paling unggul dari berbagai sektor kala itu, utamanya pariwisata. Sebab daerah ini memiliki segalanya. Mulai dari bentang pantai, pegunungan, air terjun yang indah, hingga beragam peninggalan kolonial Belanda yang bisa dikelola sebagai wisata edukasi.
Namun sejak satu dekade lalu dominasi Jember sudah mulai redup, kalah dengan wilayah lain di Tapal Kuda. Jangankan bersaing dengan Banyuwangi yang melesat jauh, dibandingkan dengan Bondowoso pun kini jauh tertinggal.
Bukan tanpa alasan Jember kini tertinggal dari sisi wisatawan dengan daerah lain di Tapal Kuda. Sebab selama tiga kali kepemimpinan bupati terakhir, kepala daerah di sana selalu berganti tanpa fokus pembangunan jangka panjang. Imbasnya, tiap lima tahun, Jember selalu mengubah arah visi kota sesuai pemimpin baru yang terpilih.
Alih-alih melanjutkan program bupati pendahulunya, mereka cenderung menggarap sektor baru yang disenangi dan lebih mengedepankan pencitraan diri. Bahkan saat saya pulang ke Banyuwangi dan melintas di Jember, daerah ini menjadi asing buat saya. Semua ornamen kotanya bernuansa pink. Mulai gerobak penjual di pinggir jalan hingga ambulance milik Pemda.
Jadi ya, jangan heran jika wisata di sana makin kalah dengan daerah lain. Sebab, arahnya jadi nggak jelas.
BACA JUGA: Jember Cocok untuk Slow Living asal Hal-hal Ini Diperbaiki Dulu
Wisata di Jember wajib diperhatikan
Saya akui Jember memiliki potensi wisata besar untuk kunjungan wisatawan. Bahkan Banyuwangi saja meniru apa yang Jember lakukan untuk menggaet wisatawan.
Sebut saja Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang lahir dari inisiasi Pemda Banyuwangi yang menggandeng Dynand Fariz yang merupakan pendiri Jember Fashion Carnaval (JFC) sejak 2003 hingga sukses menjadi karnaval fesyen jalanan terbesar di Indonesia. Selain JFC, Jember juga memiliki potensi lain yang bisa dikunjungi wisatawan.
Mulai destinasi wisata pantai di pesisir selatan, hingga destinasi wisata gunung yang ada di sisi utara. Bahkan wisatawan juga bisa menikmati beberapa destinasi peninggalan kolonial Belanda yang bisa dijadikan referensi wisata edukasi di Jember.
Ragam potensi itu tentu saja jika digarap serius akan menjadi potensi besar alasan wisatawan yang datang ke Jember. Sayangnya segala potensi itu kurang maksimal digarap imbas tidak ada pandangan jangka panjang pemangku kebijakan.
BACA JUGA: Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang
Fokus bandingin wisata, tapi lupa brandingnya
Di era Bupati Muhammad Fawait saat ini, Jember semakin kehilangan jati diri. Statemen yang beliau keluarkan di media selalu tentang perbandingan. Dan anehnya, selalu membandingkan dengan Banyuwangi, dan berkata bahwa Jember lebih digdaya ketimbang Banyuwangi.
Tapi semua orang tahu, Banyuwangi sudah jauh lebih unggul terkait wisata. Branding Kota Santet yang dulu menempel kini runtuh pelan-pelan, tergantikan Kota Sunrise. Pemerintahnya serius dalam perkara memperbaiki wisata. Masih ada bolong sana-sini, betul, tapi tak bisa dimungkiri, Banyuwangi kini jauh lebih ngeri.
Jember jika tidak mau berbenah, selamanya akan tertinggal dengan daerah lain. Apalagi jika Pemda tidak segera punya fokus jangka panjang untuk membuat target pengelolaan wisata di masa mendatang. Jangan sampai setiap ganti pimpinan, fokusnya selalu berubah. Jika itu tetap dibiarkan, saya yakin Jember akan makin disalip daerah lain di Tapal Kuda.
Tidak hanya itu saja Pemda Jember juga perlu membenahi berbagai masalah yang masih dikeluhkan wisatawan. Termasuk masalah tarif masuk destinasi wisata yang dianggap mahal oleh pengujung. Jika keluhan itu diabaikan, bukan tidak mungkin wisatawan akan kapok. Kalau nanti pariwisatanya berkawan sepi, siapa yang rugi?
Ya tentu saja bukan Banyuwangi.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jatuh Cinta Berkali-kali pada Jember, meski Sensasi Hidup di Kota Ini Begitu Nano-nano
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
