Pembahasan mengenai perbedaan UMR itu memang nggak ada habisnya. Apalagi jika menyeret Pulau Jawa sebagai objek bahasan. Makin panjang, makin nggak ada habisnya. Pembahasannya biasanya berkutat soal perbandingan UMR antar kota, soal mengapa perbedaan UMR kota A dan kota B bisa jomplang banget.
Sebagai contoh, UMR Kota Batu dan Jogja itu beda banget. UMR Kota Batu itu sekitar 3,5 juta, sedangkan UMR Jogja kota masih di angka 2,8 juta (tertinggi di DIY). Padahal, kedua daerah ini sama-sama daerah wisata, dan nggak punya pusat industri besar. Jogja juga bisa dibilang lebih tenar dan lebih “maju” ketimbang Kota Batu. Mengapa UMR Jogja jauh di bawah Batu? Tentu banyak faktor yang memengaruhinya.
Namun pernah, nggak, kita menarik perdebatan/pertanyaan ini keluar dari batas kota. Kita ambil konteks wilayah yang lebih luas. Misalnya, mengapa UMR kota/kabupaten di daerah Jawa bagian Selatan itu rendah. Apalagi kalau dibandingkan dengan kota/kabupaten di Jawa bagian Utara. Memangnya kalian nggak penasaran?
Itulah mengapa tulisan ini ada (anjaaayyy). Tulisan ini hadir untuk menjawab secuil rasa penasaran saya, atau mungkin juga rasa penasaran kalian, tentang perbedaan besaran UMR Jawa bagian Utara dan Jawa bagian Selatan, serta apa-apa saja faktor yang membuat perbedaan besaran UMR-nya bisa sejauh itu.
Perbedaan topografi antara Jawa Utara dan Jawa Selatan
Kalau kita menengok peta Pulau Jawa, kita akan tahu gimana bedanya topografi antara Jawa Utara dan Selatan. Jawa bagian Utara didominasi oleh dataran rendah, dataran-dataran yang landai, sehingga akses dan mobilitas di Jawa Utara lebih enak. Daerah pesisirnya pun berbatasan dengan Laut Jawa yang dangkal dan cenderung tenang. Aktivitas perairan di Jawa Utara jelas lebih enak.
Sedangkan Jawa Selatan didominasi oleh perbukitan dan pegunungan, khususnya pegunungan karst. Jalanannya jadi naik turun, aksesnya cenderung lebih susah, lah. Belum lagi bagian pesisir laut, yang langsung berbatasan dengan Samudera Hindia yang ganas, ombaknya besar. Aktivitas perairan jadi terbatas, nggak seleluasa Jawa bagian Utara.
Dengan kondisi seperti ini, Jawa bagian utara punya jalan dan akses yang lebih terjangkau. Ini berbeda dengan Jawa bagian Selatan yang aksesnya harus naik-turun gunung, lebih susah, lebih menantang. Makanya, Jawa bagian Utara ini lebih padat penduduk, lebih pas untuk dibangun, dan nyaris nggak ada kendala dalam urusan infrastruktur logistik.
Lalu apa kaitannya dengan besar-kecilnya UMR? Nyambung ke poin selanjutnya.
Pusat industri besar ada di Jawa Utara. Kota metropolitan dan (hampir) semua ibu kota provinsi ada di Utara
Kondisi Jawa Utara yang lebih landai dan datar ketimbang Jawa Selatan jadi salah satu faktor mengapa industri-industri besar terfokus ada di Utara. Alur logistik jadi lebih enak, jalur dagang pula, serta ada pelabuhan-pelabuhan besar. Ini menjadikan kawasan Jawa Utara, mulai dari Cilegon hingga Surabaya cocok banget sebagai pusat industri. Kita tahu sendiri, kota/kabupaten yang jadi pusat industri punya UMR yang lebih tinggi.
Mari kita lihat kota/kabupaten di Jawa Utara, terutama yang jadi pusat industri, pasti UMR-nya tinggi-tinggi. UMR Cilegon ada di angka 5,4 juta. UMR Cikarang ada di angka 5,9 juta. Lalu UMR Karawang ada di angka 5,8 juta. Kota-kota industri di Jawa Timur seperti Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo pun UMR-nya di atas 5 juta. Mungkin hanya kota-kota industri di Jawa Tengah saja yang UMR-nya masih di kisaran 2,7-2,9 juta.
Sedangkan di Jawa Selatan, yang topografinya naik turun, nyaris nggak punya pelabuhan, tentu nggak ada kota/kabupaten yang jadi pusat industri. Kebanyakan kota/kabupaten di Jawa Selatan andalannya hanya pariwisata. Kalaupun industri, kebanyakan ya UMKM. Mungkin hanya Cilacap saja yang bisa dibilang sebagai kota industri dengan kilang minyak Pertamina dan pabrik semen. Itupun UMR Cilacap hanya di angka 2,7 juta. Rendah banget untuk hitungan kota industri.
Selain itu, kota-kota metropolitan, kota-kota besar, termasuk (hampir) semua ibu kota provinsi ada di Utara. Mungkin hanya Bandung saja sebagai kota metropolitan sekaligus ibu kota provinsi yang nggak terletak di wilayah Utara. Sisanya ada di Utara semua. Mulai dari Serang, Tangerang, Jakarta, Semarang, Gresik, hingga Surabaya ada di wilayah Utara.
Dari faktor ini saja sebenarnya sudah terjawab mengapa UMR kota/kabupaten di Jawa Selatan itu susah, nggak bisa setinggi, atau bahkan melampaui UMR kota/kabupaten di Jawa Utara. Ya karena pusat industri, kota-kota metropolitan dan hampir semua ibu kota provinsi ada di wilayah Utara. UMR kota/kabupaten di wilayah Jawa Selatan kalau mau naik juga susah.
Biaya hidup lebih murah
Entah kita sadar atau nggak, tapi biaya hidup di wilayah Jawa bagian Selatan itu cenderung lebih murah ketimbang Jawa bagian Utara. Minimnya keberadaan pusat industri, kota metropolitan, dan ibu kota provinsi sedikit-banyak menjadi faktor mengapa biaya hidup di Jawa bagian Selatan ini cenderung murah.
Nah, kalau biaya hidup di suatu daerah ini murah, maka UMR-nya juga nggak bisa tinggi. Penentuan UMR kan selain dilihat dari regulasi pemerintah terkait upah dan pertumbuhan ekonomi, juga dilihat salah satunya dari standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Kalau standar KHL-nya nggak tinggi, pertumbuhan ekonominya cenderung lamban (yang juga dipengaruhi oleh kawasan industri), plus nggak ada kemauan dari pemerintah untuk menaikkan UMR, maka UMR-nya juga nggak bisa tinggi. Sederhananya seperti itu.
Kira-kira begitu, lah, terkait mengapa UMR wilayah Jawa Selatan ini nggak setinggi UMR wilayah Jawa Utara. Ya karena memang ada perbedaan yang cukup mencolok antara keduanya. Dan kalau ditanya apakah benar bahwa Jawa bagian Selatan ini susah punya UMR tinggi? Jawabannya iya, memang susah.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Suka Duka Tinggal di Daerah Pesisir yang Masuk Kawasan Rawan Tsunami
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
