Rasa-rasanya, tak elok menyalahkan orang Jakarta atas mahalnya harga makanan di Jogja, sebab akar masalahnya jadi tak tersentuh
Beberapa hari lalu, saya turun dari kereta di Stasiun Tugu untuk urusan pekerjaan di Jogja. Sebagai orang yang sudah lama tidak berkunjung, bayangan saya tentang Jogja masih sama seperti narasi romantis di media sosial, kota syahdu dengan biaya hidup yang selalu ramah di kantong.
Oleh karena ada waktu senggang di sela-sela urusan kerja, saya memutuskan untuk keliling sekitaran Jogja kota demi berburu kuliner. Melihat harga di lembar menu, saya sempat tertegun. Begitu menyandingkannya dengan realitas upah minimum di sini, saya langsung membatin, ini sih bukan harga buat warga lokal alias warlok.
Fenomena ini sering kali membuat sebagian orang menuding wisatawan, terutama rombongan pelat B alias orang Jakarta, sebagai biang keladi naiknya harga-harga. Padahal, kalau mau jujur, menuduh orang Jakarta adalah sebuah salah sasaran yang fatal.
Standar ganda Jogja
Memang harus diakui, kuliner Jogja tidak semuanya mahal. Ketika saya sempat melipir agak jauh ke area pinggiran, saya masih bisa menemukan warung-warung kecil yang menjual makanan dengan harga murah merakyat.
Masalahnya, begitu kita bergerak masuk ke area Jogja kota, harganya langsung melonjak berkali-kali lipat. Di sebuah kedai kopi di pusat kota tempat saya meluruskan kaki, saya mendengar grenengan sekumpulan anak muda di meja sebelah yang tampaknya sedang menghitung sisa uang saku bulanan mereka.
“Uang segini kalau di Jakarta ya wajar, lha ini di Jogja kok regane wis ngalah-ngalahi Jakarta to, Jess?” keluh salah satu dari mereka sambil geleng-geleng kepala melihat nota pembayaran.
Ini bukan lagi sekadar candaan sarkas, melainkan keluhan yang nyata. Jogja kota hari ini menjelma menjadi wilayah dengan dua wajah ekonomi yang timpang.
BACA JUGA: Jogja Itu Indah asalkan Kamu Nggak Keluar Rumah
Ironi angka pengeluaran di lembar BPS
Selama berada di Jogja, saya iseng membuka data BPS untuk memvalidasi keresahan saya. Menariknya, data BPS justru konsisten menunjukkan bahwa angka rata-rata pengeluaran per kapita atau rumah tangga di Jogja tergolong rendah jika dibandingkan dengan provinsi lain di Jawa.
Awalnya terdengar kontradiktif dengan mahalnya harga makanan di tengah kota yang saya temui. Namun setelah saya perhatikan polanya, semua jadi masuk akal.
Angka pengeluaran yang rendah itu bukan bukti bahwa semua harga barang di Jogja itu murah. Angka itu justru menjadi cerminan dari daya beli warga lokal yang memang dipaksa mengerem konsumsi karena pendapatan yang terbatas.
Warlok bukannya menikmati makanan murah di tengah kota, melainkan mereka memilih untuk menyingkir ke pinggiran atau memilih untuk tidak jajan di tempat-tempat yang harganya sudah ugal-ugalan.
Jangan kambinghitamkan wisatawan
Kembali ke urusan pelat B tadi. Sangat tidak adil rasanya jika setiap kenaikan harga makanan di Jogja kota selalu memicu gerundelan yang menyudutkan orang Jakarta.
Wisatawan datang ke Jogja hanya membawa daya beli mereka, mereka tidak punya otoritas untuk menentukan regulasi harga pasar atau menetapkan kebijakan upah daerah.
Mereka hanyalah konsumen pasif yang kebetulan punya anggaran lebih untuk bersenang-senang selama beberapa hari liburan.
Menyalahkan pendatang atas mahalnya harga makanan sama saja dengan mengabaikan akar masalah yang sebenarnya, kegagalan dalam mengimbangi pertumbuhan industri wisata dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi warganya sendiri.
Selama jurang antara upah lokal dan standar harga wisata di pusat kota terus melebar, maka selamanya pula makanan-makanan di Jogja kota hanya akan ramah bagi para pendatang seperti saya yang sedang singgah. Sementara bagi pemilik rumah yang asli, menu-menu itu akan tetap menjadi kemewahan yang berjarak.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jogja Dijual (dan Sudah Laku), Warganya Cukup Jadi Penonton Sambil Ngontrak Saja
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
