Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jangan Gunakan Prestasi Disabilitas untuk Ajang Cari Motivasi

Ratu Delima Ahmad Ka'bah oleh Ratu Delima Ahmad Ka'bah
17 Februari 2021
A A
prestasi disabilitas etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas orang difabel mojok.co

etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas orang difabel mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

“Meski Tidak Punya Tangan, Jonny Berhasil Menjadi Atlet Makan Kerupuk Terbaik di Dunia”

“Jono Mampu Membangun Perusahaan Besar Level Internasional Walaupun Dibatasi Ketidakmampuan Melihat yang Dideritanya Sejak Kecil”

Kita tentu sering melihat headline serupa di berbagai media. Headline yang menggemborkan prestasi disabilitas disertai embel-embel ke-disabilitas-an yang mereka miliki. Kemudian, para manusia yang pandai bersyukur dan berempati akan mengomentari dengan kata-kata serupa “Kita harus bersyukur dan bekerja lebih giat, dia aja yang nggak punya (blablabla) bisa, masak kita nggak” atau “Kasian banget, jangan nyerah, ya” atau “Kamu pasti bisa. Tunjukin sama dunia kalo orang seperti kamu pun bisa”, dan lain sebagainya.

Begitulah postingan mengenai prestasi disabilitas menjadi landasan bersyukur dan motivasi orang lain atau asupan objek simpati yang kurang tepat. Seolah-olah para disabilitas adalah makhluk lain yang berbeda dari masyarakat dunia pada umumnya sehingga kehadirannya dan prestasinya adalah sebuah kelangkaan yang patut diapresiasi.

Dalam lingkungan sehari-hari misalnya, berapa banyak kita menemukan disabilitas berada di tengah-tengah masyarakat yang memandangnya seperti alien yang baru turun dari langit? Keheranan, kasihan, jijik, dan bersyukur karena tidak terlahir sepertinya. Jika kamu salah satu dari anggota masyarakat yang memandang begitu, tolong hentikan sekarang juga. Tolong pandanglah mereka selayaknya kamu memandang temanmu atau manusia pada umumnya.

Ya, masyarakat kita pada umumnya belum ramah dan sadar akan eksistensi disabilitas di tengah-tengah mereka. Ketidaksadaran ini menimbulkan pandangan yang membuat risi para penyandang disabilitas. Sehingga sulit bagi mereka untuk berbaur dengan masyarakat. Coba hitung berapa banyak serial TV atau film yang menyajikan contoh disabilitas? Coba hitung berapa kartun anak yang mengekspos disabilitas agar anak-anak mulai menyadari kehadiran mereka sejak dini? Kalaupun ada, kebanyakan menggambarkan tokoh disabilitas sebagai objek yang tidak mampu berdaya, jahat, atau alienisasi lainnya. Namun, mari kita apresiasi sejenak tokoh Nussa dalam serial animasi Nussa yang menyajikan tokoh disabilitas dengan cara yang berterima bagi para disabilitas.

Kembali lagi ke headline berita-berita yang bombastis itu. Mari kita telaah lebih jauh kemanusiaan yang selama ini kita abaikan. Apakah pantas menjadikan prestasi penyandang disabilitas itu topik inspirasional yang terkesan malah menjatuhkan? Malah menjadikannya objek bagi masyarakat kita yang haus memberi simpati verbal tanpa melihat kedalaman perasaan. Apakah memang mereka perlu rasa kasihan semacam itu bagi mereka? Apa kita tidak bisa membantu secara langsung ketimbang hanya bergelut dengan kolom komentar untuk menunjukkan bahwa kita sudah jadi orang baik dengan komentar motivasi ala Mario Teguh kita?

Menjadi disabilitas bukanlah pilihan, sama halnya menjadi manusia bukanlah hal yang bisa kita tentukan dari awal. Disabilitas adalah manusia yang punya kekurangan, sama sepertimu, sama seperti semua manusia tanpa terkecuali. Tidak ada yang beda dari mereka. Tidak pula ada yang spesial. Mereka memang butuh bantuan, tapi bukan berarti menjadikan mereka objek. Bantulah seperlunya mereka, komunikasikan apa yang mereka inginkan dan apa yang bisa kita beri. Bentuklah komunikasi yang efektif antarsesama. Berikan ruang privasi bagi mereka. Jangan asal memotret tanpa izin, lalu mempostingnya dengan kata-kata inspirasional yang malah menjatuhkan. Sekali lagi, apa betul hal semacam itu yang mereka mau?

Baca Juga:

Alfability Alfamart Jadi Jembatan Meraih Mimpi bagi Karyawan Disabilitas untuk Berkarya

Bukan itu mau disabilitas. Para disabilitas hanya ingin mendapat hak hidup dan kehidupan yang sama dengan sesama manusia, menikmati fasilitas negara seperti masyarakat umumnya, serta berada di tengah-tengah masyarakat tanpa ada pandangan aneh yang menjatuhkan harga diri dan karakter. Mereka (mungkin) ingin dibantu, tapi bukan dikasihani. Mereka juga ingin berdaya dan berkontribusi bagi kehidupan ini.

Meski begitu, perlahan-lahan masyarakat kita mulai tumbuh dan menerima kehadiran disabilitas. Terbukti dengan beragam gerakan dan organisasi yang lantang menyuarakan kesetaraan disabilitas. Contohnya saja lembaga Thisable Enterprise yang telah berdiri selama hampir sepuluh tahun sebagai wadah untuk mengatasi masalah sosial melalui pemberdayaan masyarakat dan menjadi support system bagi penyandang disabilitas di Indonesia.

Mari bersikap toleran dan empatis. Buatlah dirimu dan lingkungan kita menjadi tempat yang baik untuk semua manusia, termasuk para disabilitas.

BACA JUGA Etika Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas: Menghargai, Bukan Mengasihani

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2021 oleh

Tags: prestasi disabilitas
Ratu Delima Ahmad Ka'bah

Ratu Delima Ahmad Ka'bah

Biasa dipanggil Radel. Sering dibercandai kehidupan dan malas menanggapinya.

ArtikelTerkait

Alfability Alfamart Jadi Jembatan Meraih Mimpi bagi Karyawan Disabilitas untuk Berkarya

Alfability Alfamart Jadi Jembatan Meraih Mimpi bagi Karyawan Disabilitas untuk Berkarya

30 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Ciri Khas 3 Sate Ayam Ponorogo Dilihat dari Daerah Produksinya sate ayam madura

Sate Ponorogo, Sate Terbaik yang Pernah Ada. Sate Madura dan Sate Padang Minggir Dulu Sana ke Pojokan

9 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-Puja Orang

8 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas
  • Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata
  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.