Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jangan Beli Rumah di Jakarta Biar Hemat Energi

Maulinna Utaminingsih oleh Maulinna Utaminingsih
10 Agustus 2020
A A
Jangan Beli Rumah di Jakarta Biar Hemat Energi MOJOK.CO

Jangan Beli Rumah di Jakarta Biar Hemat Energi MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

“Di Jakarta, kamu berangkat kantor jam berapa?”

“Jam 5 pagi”

“Serius? Memangnya kamu butuh waktu berapa lama nyampe kantor?”

“Kalau lancar butuh  dua jam.”

Awalnya saya kaget mengetahui beberapa teman saya yang tinggal di pinggiran Jakarta menghabiskan waktunya minimal 4 jam untuk perjalanan. Rata-rata, mereka tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, dan Planet Bekasi. Memilih tinggal di pinggiran karena memang harga rumah di Jakarta sudah tidak terjangkau.

Yah, kita tahu, telat sedikit berangkat kantor pasti kena macet. Mending kepagian daripada kesiangan. Pukul 7 teng sudah di kantor, padahal jam masuk kantor itu pukul 8. Telat sedikit, bisa-bisa pukul 9 baru nyampe dan terlambat. Repot lagi kalau kantornya menggunakan finger print.

Ada teman saya tinggal di Depok, ke stasiun pakai angkot dan ditempuh selama 1 jam. Dari Stasiun Depok sampai Stasiun Manggarai butuh 1 jam naik KRL, masih lanjut menggunakan bus trans yang tidak sebentar juga, paling cepat 30 menit. Kemudian sambung naik angkot yang sebenarnya hanya butuh 10 menit tapi karena angkotnya jarang jadi harus nunggu, sehingga bisa memakan waktu 30 menit. Total perjalanan berangkat ke kantor 3 jam kalau lancar. Itu cara paling hemat untuk ke kantor di Jakarta.

Ongkos yang dibutuhkan untuk sekali jalan sekitar Rp20.000, pulang-pergi total Rp40.000, jadi sebulan untuk transpor saja butuh Rp800.000 (20 hari kerja). Itu ongkos minimal. Kalau ada urusan yang mengharuskan lebih cepat sampai kantor harus mengeluarkan ongkos ojek yang tidak murah.

Baca Juga:

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini

Warlok Jakarta Orang Paling Kasihan Saat Lebaran, Cuma Jadi Penonton Euforia Mudik, Tidak Pernah Merasakannya Langsung

Mereka juga harus mengeluarkan energi lebih banyak karena menggunakan transportasi umum tidak selalu bisa mendapatkan tempat duduk. Bayangkan jika mereka selama di KRL dan bus trans harus berdiri 4 jam untuk pulang pergi, ditambah ketika harus antri menunggu kedatangan transportasi umum tersebut. Tentunya mereka harus menyiapkan stamina lebih untuk melalui itu semua. Untuk memenuhi stamina tersebut salah satunya harus makan yang banyak supaya kuat berdiri berjam-jam.

Ketika bekerja di Jakarta, saya selalu mencari tempat tinggal yang dekat kantor. Sebisa mungkin ke kantor cukup jalan kaki saja, biar hemat tidak ada pengeluaran untuk transportasi dan tidak perlu menyalahkan kemacetan setiap hari. Begitu juga dengan beberapa teman saya, lebih memilih mencari kos atau kontrakan di Jakarta. Selain memudahkan akses juga menghemat waktu untuk ke kantor.

Tentunya hal ini hanya berlaku untuk orang-orang yang masih single dan memang belum berencana menetap bekerja di Jakarta dalam jangka waktu lama. Bagi yang sudah berkeluarga biasanya mau tidak mau harus membeli atau mengontrak rumah di daerah pinggiran Jakarta. Pertimbangan mereka, supaya biaya hidup bisa lebih terjangkau dan mendapatkan tempat tinggal yang layak dengan harga yang masih sesuai dengan kantongnya.

Bagi sebagian teman saya yang single dan memang berencana atau sudah lama bekerja di Jakarta, banyak juga yang akhirnya membeli rumah di daerah pinggiran. Mereka rela mengeluarkan banyak energi untuk menempuh perjalanan ke kota saat bekerja.

Memiliki rumah meski di pinggiran menjadi pilihan sebagian orang. Pertimbangannya adalah supaya uang tidak habis tanpa bekas untuk membayar kos atau kontrakan di Jakarta. Karena tinggal di kota, mereka hanya mampu sewa. Membeli apartemen di Jakarta juga bisa. Namun, tidak semua orang punya dana untuk itu.

Selama di Jakarta dan nebeng tinggal di beberapa perumahan daerah pinggiran, saya mengamati dan merenungkan. Ternyata kalau dipikir-pikir semakin banyaknya orang single yang memiliki rumah sendiri, makin banyak juga energi yang terbuang. Selain energi fisik dan waktu, orang tersebut jadi boros listrik dan bahan bakar.

Ketika penghuninya tidak berada di rumah, bukan berarti tidak ada energi yang dibutuhkan. Penerangan di malam hari harus menyala supaya tidak didatangi maling, minimal lampu teras. Kulkas juga tentunya tidak bisa dimatikan. Jadi selalu ada energi yang “terbuang”.

Kita coba hitung untuk penggunaan listrik minimalis dengan 3 lampu 30 watt yang dinyalakan 12 jam, 1 TV LED yang dinyalakan 5 jam sehari dan 1 kulkas saja orang membutuhkan sekitar 8.530 watt (8,5 kwh). Jika harga per Kwh Rp1.325, sebulan listrik yang dibutuhkan satu rumah bisa sampai Rp337.875.

Kalau ada 1000 orang, sudah adaRp 337.875.000 biaya yang terbuang untuk listrik dalam satu bulan. Belum kalau penggunaan listrik dihitung per tahun, bisa sampai 4 miliar lebih biaya energi listrik yang harus dibayarkan dan kebermanfaatnnya tidak maksimal dan cenderung mubazir.

Selain itu tentunya juga banyak lahan yang akhirnya beralihfungsi karena banyaknya kebutuhan rumah. Rumah itu tidak dihuni keluarga tapi hanya dihuni sendiri-sendiri jadi sayang juga kan lahan yang sudah dialihfungsikan jadi tidak maksimal  penggunaannya. Bahkan mengganggu penghuni lama, seperti ular-ular yang tadinya tinggal di sawah jadi berkeliaran ke rumah warga.

Belum lagi kalau kita hitung penggunaan bahan bakar kendaraan seperti bensin di Jakarta. Perumahan-perumahan yang harganya miring jauh dari akses kendaraan umum. Mau tidak mau tetap membutuhkan biaya untuk menuju stasiun KRL, MRT maupun shelther trans Jakarta.

Beberapa ada yang menggunakan jasa ojek tetapi banyak juga yang membawa motor sendiri. Hitung saja jika jarak dari rumah ke stasiun 10 km, PP berarti 20 km. Rata-rata bensin 1 liter bisa digunakan untuk 60 km, jadi 1 liter bensin bisa dipakai 3 hari. Kalau sebulan berarti butuh 10 liter bensin, satu tahun 120 liter bensin untuk satu motor. Kalau yang menggunakan 1000 orang, maka setahun ada 120.000 liter bensin yang dibutuhkan.

Jadi sepertinya tidak membeli rumah di Jakarta juga termasuk usaha menghemat energi. Secara tidak langsung kita berkontribusi mengurangi alih fungsi lahan menjadi hunian, mengurangi penggunaan listrik, mengurangi penggunaan bensin, dan mengurangi kemacetan.

Jadi, mari berjuang untuk menghemat energi dengan tidak membeli rumah di Jakarta yang dipakai sendirian. Ah, itu aslinya hanya alibi saya saja karena belum mampu membeli rumah.

BACA JUGA 4 Kelebihan yang Membuat Jakarta Timur Tidak Bisa Dipandang Sebelah Mata atau tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2020 oleh

Tags: beli rumahharga rumahJakartarumah di jakarta
Maulinna Utaminingsih

Maulinna Utaminingsih

Kerja sana-sini, pindah lokasi kerja di beberapa tempat.

ArtikelTerkait

Jika Drakor Reply 1988 Ber-setting Tempat di Jakarta terminal mojok.co

Jika Drakor ‘Reply 1988’ Ber-setting Tempat di Jakarta

2 Desember 2020
senjata biologis VOC jakarta mojok mumpung belum

Budaya Kita Bukan Tertib, tapi ‘Mumpung Belom…’

17 September 2020
Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung Mojok.co

Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung

11 Februari 2026
Konser Coldplay Cuma Sehari di Jakarta, Harusnya Pemerintah Sadar Diri dan Berbenah xyloband

Surat Terbuka untuk Fans Coldplay yang Nggak Balikin Xyloband: Nggak Apa-apa kok, Beneran, tapi Ingat, Lemah Teles!

25 November 2023
Cat Rumah Putih_ Faktanya Nggak Seindah Teori, Bund! terminal mojok

Cat Rumah Putih: Faktanya Nggak Seindah Teori, Bund!

26 Juni 2021
Konsep Kosan Industrial Bukan Sekadar Pengin Irit dan Paksakan Ruangan yang Belum Jadi! terminal mojok.co

Konsep Kosan Industrial Bukan Sekadar Pengin Irit dan Paksakan Ruangan yang Belum Jadi!

10 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah Para Pendatang

Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah para Pendatang

15 Maret 2026
Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026
Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026
Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.