Penduduk Surabaya baik yang lahir dan besar di kota ini, maupun para pendatang yang masih menghafal rute pakai Google Maps, hampir pasti pernah mendengar nama Jalan Mayjen Jonosewojo. Jalan ini bukan jalan sembarangan. Ia adalah gerbang menuju salah satu simbol gaya hidup urban Surabaya.
Yak benar, jalan ini adalah jalan menuju Pakuwon Mall Surabaya, pusat perbelanjaan yang kerap disebut sebagai yang terbesar di Indonesia. Lengkap dengan apartemen, ruko yang mahal, dan akses menuju Citraland, di mana kemiskinan adalah mitos.
Kalau dilihat sekilas, Jalan Mayjen Jonosewojo ini bisa jadi etalase kemewahan Surabaya. Aura elitenya begitu terasa, dan bikin orang yang kemampuan dompetnya begitu medioker merasa keder.
Tapi bagi ban motor kita, ceritanya beda. Kawasan elite ini hanya berlaku untuk visual, perkara jalan, beda cerita.
BACA JUGA: 4 Alasan Pakuwon Mall Surabaya Lebih Baik daripada Tunjungan Plaza
Jalan elite, kualitas sulit
Hampir tidak ada waktu bagi Jalan Mayjen Jonosewojo untuk benar-benar lengang. Seperti umumnya jalan utama di kota besar di Jawa Timur, kemacetan adalah menu harian, terutama di jam-jam krusial. Dan jalan yang tak pernah benar-benar istirahat, akan didera lelah juga dan ujungnya sudah bisa kita tebak: jalan rusak.
Jalan ini tidak seelit gedung-gedung yang ada. Jalannya bergelombang, ketinggian tidak rata, dan bekas tambal sulamnya jelas tidak mencerminkan aura elite yang ada. Benar-benar bumi langit.
Meski harusnya pengendara bisa menikmati pemandangan gedung pencakar langit dan kios-kios mewah, lucunya pengguna jalan justru dipaksa tetap waspada saat melintas di Jalan Mayjen Jonosewojo. Fokus tidak boleh pecah. Lengah sedikit saja, motor bisa menghantamtambalan aspal yang tidak rata. Terlalu asyik melihat kanan-kiri, masuk rumah sakit kemudian.
Dan bagaikan lelucon jelek, semua ini terjadi di jalan yang citranya setinggi langit. Jalan yang mengantar orang ke mal mahal, tapi memperlakukan pengendaranya seperti sedang uji nyali.
Jalan Mayjen Jonosewojo: daerah elite, kelakuan pengendara bikin sulit
Kau pikir hanya karena daerah ini elite, lalu orang-orang tiba-tiba beradab? Oh, tentu saja tidak. Status dan uang, kawan, tak pernah bikin orang terhindar dari perilaku macam beruk.
Jalan yang tidak rata tentu membutuhkan kewaspadaan tingkat tinggi. Masalahnya, kalau kau pelan-pelan di Jalan Mayjen Jonosewojo, pengendara lain akan memencet klaksonnya dengan bahagia. Kalau kau ngebut, tentu saja kau berakhir di ambulans dan postingan medsos. Keputusan apa pun yang kau ambil, pasti salah.
Coba misal kita bandingkan dengan jalanan di wilayah Surabaya Timur, seperti Pakuwon City. Lebar, relatif mulus, dan lebih bersahabat. Secara logika awam, orang akan mengira kawasan elit Surabaya Barat punya standar jalan yang setidaknya setara. Tapi kenyataannya, jalan menuju Pakuwon Mall dan Citraland justru bikin pengendara refleks mengelus dada. Seolah-olah kawasan ini terlalu sibuk membangun ke atas, sampai lupa merawat yang di bawahnya.
BACA JUGA: 5 Penyebab Surabaya Jadi Kota Termacet di Indonesia
Musim hujan bikin semuanya makin memuakkan
Jalan Mayjen Jonosewojo memang elite, tapi dia kalah sama satu hal: hujan. Lubang-lubang kecil berubah jadi kolam, dan bikin pengendara benar-benar berjudi pada nasib.
Ironisnya, semua ini terjadi di kawasan yang dikenal mahal, tempat apartemen dijual miliaran. Tempat di mana uang berputar jauh lebih kencang ketimbang mobil balap.
Jalan Mayjen Jonosewojo adalah contoh terbaik kontradiksi sebuah kota. Tampak megah di permukaan, tapi sering abai pada hal-hal dasar. Semua orang terlalu fokus dan sibuk membangun simbol kemajuan. Daerah ini memang elite, tapi tak punya kualitas jalan yang baik.
Ini bukan amarah yang saya luapkan. Lebih tepatnya, ini catatan kecil dari pengendara yang masih percaya bahwa kawasan elit Surabaya seharusnya tidak hanya terlihat mewah di luar, tapi juga terasa aman dan manusiawi. Jalan bukan sekadar akses, tapi pengalaman. Dan pengalaman melewati Jalan Mayjen Jonosewojo saat ini masih terasa seperti ironi yang dipoles gemerlap lampu kota.
Mungkin suatu hari, aspal di jalan tersebut ikut naik kelas. Menyusul gedung-gedung di sekitarnya. Sampai hari itu tiba, para pengendara motor akan terus belajar satu hal penting bahwa di Surabaya, status kawasan tidak selalu sejalan dengan kondisi jalan.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 6 Jalan Nggak Rata di Surabaya yang Sering Dikeluhkan Warga
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
