Informasi

Jakarta adalah kota yang sempurna bagi introvert untuk tinggal 

Jakarta adalah kota yang sempurna bagi introvert untuk tinggal Mojok.co

Ada satu narasi keliru yang telanjur dipercaya oleh banyak orang. Kalau kamu seorang introvert, jangan pernah berani-berani menginjakkan kaki di Jakarta.

Katanya, Jakarta itu terlampau berisik, terlalu padat, dan penuh dengan kepalsuan interaksi sosial yang bakal menguras baterai jiwamu sampai minus. Katanya, tempat paling ideal untuk orang-orang introvert adalah kota-kota kecil yang adem, yang ritme hidupnya pelan seperti Malang, Wonosobo, atau Salatiga.

Sebagai orang yang tidak terlalu suka basa-basi sosial dan lebih memilih mengurung diri di kamar sambil memandangi tembok saat weekend, saya ingin bilang kalau anggapan di atas itu salah besar. 

Iya, sejauh pengalaman saya mengunjungi Jakarta, saya justru merasa sebaliknya. Bagi seorang introvert, kota ini tempat paling sempurna untuk tiga hal dalam hidup: tinggal di masa muda, jatuh cinta, dan meninggalkannya secara perlahan ketika kita mulai tua.

Meredam diri di tengah hiruk-pikuk anonymity

Alasan pertama kenapa Jakarta itu ramah untuk introvert sebetulnya agak ironis. Semua orang di kota ini terlalu sibuk dengan urusan perutnya masing-masing. Sudah tidak ada lagi tenaga untuk sekadar peduli pada keberadaanmu.

Inilah yang dinamakan keindahan menjadi orang yang tak dikenal atau dalam bahasa kerennya the beauty of anonymity

Coba bandingkan kalau kamu tinggal di desa atau kota kecil. Baru keluar rumah mau beli beras saja, kamu harus bersiap melewati kurasi tatapan tetangga. Disapa bapak-bapak pos ronda serta berderet pertanyaan. Mulai dari “Lho, Mas, kok tumben jam segini belum berangkat kerja?”, “Pacarnya mana?”, hingga “Kapan nikah?“.

Bagi introvert, interaksi sosial yang tak diinginkan semacam itu adalah mimpi buruk. Dan, di Jakarta hal itu jarang terjadi. Jangan harap ada yang peduli. Kamu mau naik MRT sambil pasang headphone ukuran raksasa, mau diem di pinggir jalan berjam-jam, tidak akan ada satu orang pun yang peduli atau menganggapmu aneh. 

Jatuh cinta di antara beton dan remang lampu kota Jakarta

Lalu, bagaimana dengan urusan asmara? Bukankah introvert kesulitan mencari pasangan di kota besar?

Justru di sanalah letak magisnya. Jatuh cinta di Jakarta bagi seorang introvert itu punya cita rasa yang sangat spesifik dan romantis dengan caranya sendiri.

Di kota yang serba cepat dan bising ini, menemukan satu orang yang bisa menemani diam bersama tanpa merasa canggung adalah pencapaian tertinggi. Kamu tidak perlu kencan heboh keliling tempat wisata yang sesak.

Cukup duduk berdua di rooftop gedung parkiran, memandangi kerlip lampu gedung bertingkat di tengah kepulan polusi malam hari, sambil minum es teh manis. Atau sekadar menyusuri trotoar Sudirman malam-malam tanpa perlu banyak bicara, cukup saling menggenggam tangan di antara lalu lalang kendaraan.

Jakarta menyediakan latar belakang yang begitu dramatis untuk sebuah romansa yang tenang. Di antara jutaan orang yang berlari mengejar karier dan materi, kamu dan pasanganmu menemukan ruang hampa yang kedap suara di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan.

Meninggalkan Jakarta ketika tua, mengakhiri kontrak-kontrak kehidupan metropolitan

Akan tetapi, sedalam apapun seorang introvert jatuh cinta pada keanoniman Jakarta, kota ini punya batas kedaluwarsa.

Jakarta adalah mesin raksasa yang menyedot energi pemuda sampai tandas. Selagi kamu masih punya ambisi, butuh uang, dan ingin bersembunyi dari interaksi sosial keluarga besar, Jakarta adalah pelindung terbaik. 

Akan tetapi, ketika usia mulai bergeser ke angka empat puluhan ketika rambut mulai memutih dan tulang punggung mulai menagih haknya, bertengger di Jakarta hanya akan membuatmu remuk.

Iya, tujuan hidup di Jakarta adalah punya tabungan yang cukup, pamit baik-baik pada gedung-gedung tinggi yang pernah menampung air mata kita. Lalu, mengasingkan diri ke sebuah rumah kecil di kaki gunung atau tepi pantai yang sepi. Tempat di mana kita bisa menikmati masa tua dengan tenang, menyeduh teh hangat di pagi hari, tanpa perlu lagi mendengar raungan klakson di jalanan tol.

Jadi, untuk kamu para introvert yang saat ini sedang menatap layar HP di dalam gerbong KRL yang padat, jangan berkecil hati. Kamu tidak salah tempat.

Jakarta adalah tempat bagi mereka yang ingin merantau tanpa harus jadi orang yang capek basa-basi di pinggir jalan. Nikmati saja tiap detiknya. Tinggal dengan tenang di sini, jatuh cinta dengan sembunyi-sembunyi, dan suatu hari nanti. Marilah kita tinggalkan kota ini dengan senyuman puas bahwa kita pernah bertahan hidup di tengah kerasnya rimba beton.

BACA JUGA Pengalaman Pertama Merantau Kerja di Jakarta: Empat Hari Bolak-balik Tangsel-Jaktim Sudah Trauma.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya

Terakhir diperbarui pada 1 September 2026 oleh .

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

Exit mobile version