Menjadi koordinator kelas (korlas) kini menjadi momok yang sangat mengerikan bagi sebagian besar orang tua murid. Terlebih orang tua yang anaknya masih Sekolah Dasar (SD).
Sebenarnya alasan orang tua menghindari jabatan ini cukup bisa diterima. Tanggung jawab korlas cukup besar. Setiap saat mereka harus menjadi penghubung antara guru dan orang tua murid. Selain itu, korlas sering kali dianggap sebagai manusia serba bisa. Korlas mesti siap sedia ketika grup WhatsApp kelas mulai ramai dengan berbagai pembahasan soal uang kas atau kegiatan siswa.
Kerepotan menjadi korlas tidak berhenti di situ saja. Ada beban lain yang sering luput diperhitungkan, mulai dari harus membagi waktu bagi ibu pekerja hingga menghadapi wali murid lain yang belum tentu bisa diajak bekerja sama.
Beban ibu pekerja yang jadi korlas
Di sini letak masalahnya, orang tua yang menjadi korlas tak semuanya adalah ibu rumah tangga yang kebanyakan menghabiskan waktu di rumah. Tapi, bagaimana jika ibu pekerja yang sudah kerepotan dengan urusan rumah tangga dan kantor juga harus mengemban amanat menjadi korlas?
Tentu saja hal itu membuat para ibu pekerja semakin kerepotan karena ketambahan pekerjaan baru lagi. Mau menolak pun tak bisa. Berdasarkan pengalaman pribadi saya di sekolah anak, korlas kini dipilih berdasarkan hasil kocokan.
Cara tersebut dinilai lebih adil karena semuanya nanti akan kebagian menjadi korlas sesuai gilirannya, tak peduli apakah ia ibu rumah tangga atau ibu pekerja.
Akibatnya, ibu pekerja yang merangkap menjadi korlas harus pintar membagi waktu agar urusan sekolah anak juga tetap berjalan dengan baik. Jika ada keperluan kelas yang dibutuhkan, ia harus tetap menyempatkan diri untuk menyiapkan semuanya sepulang kerja maupun membelinya melalui e-commerce.
Tak cukup sampai di situ, korlas juga kerap diminta hadir jika ada rapat komite atau rapat kegiatan sekolah lainya. Masalahnya, tidak semua kantor bisa selalu fleksibel memberikan cuti kepada karyawannya. Lagipula mengambil cuti hanya untuk menghadiri rapat rasanya gak worth it.
Jika meminta tolong kepada wali murid lainnya juga ada rasa sungkan, apalagi kegiatan siswa selalu menjadi agenda rutin yang selalu diadakan.
Tak hanya itu, setiap ada kegiatan sekolah seperti market day, 17 agustusan, perpisahan, atau kegiatan lain yang membutuhkan partisipasi orang tua, korlas wajib hadir dan mendampingi. Jujur, ini benar-benar menguras tenaga dan waktu.
Mau izin tak datang merasa tak enak dengan wali murid lainnya, sementara itu mengajukan cuti di kantor juga belum tentu disetujui.
Tak semua wali murid bisa diajak kerja sama
Sudah mengemban tanggung jawab yang berat, lebih dongkol lagi kalau wali murid lainnya tak bisa diajak kerja sama. Berdasarkan pengalaman pribadi, kalau di sekolah ada kegiatan tertentu, rata-rata wali murid yang datang biasanya itu-itu saja, sementara yang lainnya punya alasan masing-masing, mulai dari ada acara, tidak bisa cuti, harus menjaga anak, sampai alasan lain yang sebenarnya bisa dimaklumi.
Yang bikin mengelus dada, jangankan dimintai tolong untuk hadir di kegiatan anak, membalas chat di grup kelas saja kadang malasnya bukan main. Padahal, yang diminta sering kali cuma pendapat sederhana atau mengisi polling soal kegiatan yang berkaitan langsung dengan anak mereka sendiri.
Akhirnya, grup WhatsApp kelas pun tak selalu bisa menjadi wadah untuk wali murid saling bertukar informasi. Ada beberapa wali murid yang rajin merespons, sementara sebagian lainnya memilih menjadi silent reader profesional yang baru muncul ketika ada informasi penting atau ketika sudah ditagih berkali-kali.
Kalau memang tidak bisa hadir, sebenarnya tidak masalah. Setidaknya beri respons agar korlas tidak merasa sedang berbicara dengan tembok. Sebab, kalau semua urusan akhirnya dikerjakan oleh orang yang sama, lama-lama yang muncul bukan lagi semangat kebersamaan, melainkan perasaan kesal tak ikhlas, “Ini kan buat anak-anak kita semua, kok yang repot saya terus?”
Peran sekolah
Saya tidak tahu apakah semua sekolah memang menyerahkan hampir seluruh urusan koordinasi orang tua kepada korlas. Namun, kalau memang sistemnya demikian, rasanya sekolah juga perlu mempertimbangkan kondisi para orang tua sebelum memberikan tanggung jawab tersebut.
Sebab, orang tua murid juga bisa memiliki kesibukan sendiri yang mungkin tak bisa ditinggalkan. Ada ibu rumah tangga, ada ibu pekerja, ada ayah yang bekerja dari pagi sampai malam. Bahkan, ada pula orang tua yang mungkin harus membagi waktu dengan usaha dan berbagai tanggung jawab lainnya.
Peran korlas seharusnya lebih banyak sebagai penghubung komunikasi, bukan sebagai panitia tunggal untuk segala macam urusan. Kalau ada kegiatan kelas, misalnya, pembagian tugas semestinya bisa dilakukan bersama-sama sehingga korlas tidak berubah menjadi semacam ketua panitia abadi.
Begitu juga dengan urusan membeli perlengkapan kelas atau menghadiri kegiatan tertentu. Kalau korlas sedang bekerja dan memang tidak bisa hadir, seharusnya ada mekanisme pengganti yang jelas. Mekanisme tanpa membuat korlas merasa bersalah karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan.
Toh, menjadi orang tua yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak bukan berarti harus selalu hadir secara fisik di setiap kegiatan sekolah. Ada orang tua yang menunjukkan kepeduliannya dengan cara lain. Misal, mendampingi anak belajar di rumah, ada yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak, dan ada pula yang terlibat ketika memang memiliki waktu luang.
Jangan sampai niat sekolah melibatkan orang tua dalam pendidikan anak justru membuat sebagian orang tua merasa terbebani yang berakhir tidak ikhlas.
Penulis: Rizka Utami Rahmi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
