Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Ironi Kos Eksklusif di Jogja, Tembok Tinggi Penanda Status Sosial di Kota yang Katanya Murah Meriah  

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
10 Februari 2026
A A
Kampus Jualan Kos Eksklusif: Cari Duit Boleh, tapi ya Nggak Begini Juga jogja

Kampus Jualan Kos Eksklusif: Cari Duit Boleh, tapi ya Nggak Begini Juga

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu kebohongan publik yang terus dipelihara di Jogja. Apalagi kalau bukan narasi bahwa kota ini adalah tanah suci bagi kaum berkantong cekak. Padahal, coba sesekali main ke daerah Seturan, Pogung, atau sepanjang Kaliurang bawah. Jangan harap ketemu keramahan harga. Yang ada justru deretan bangunan angkuh dengan barisan mobil necis yang berjejer rapi di halamannya. Itulah dia, monumen kapitalisme modern bernama kos eksklusif.

Di sinilah ironi itu dimulai. Jogja yang dulu dipuja karena kesederhanaannya, diam-diam bermutasi menjadi laboratorium properti yang keji. Tembok-tembok tinggi dan pagar menjulang tadi bukan cuma soal keamanan, tapi simbol validasi kalau kearifan lokal sudah kalah telak oleh kekuatan modal. Akhirnya, branding murah cuma jadi dongeng pengantar tidur yang kontras dengan realitas.

Ketika gerbang besi menjulang, saat itu pula budaya srawung Jogja menghilang

Dulu, kos-kosan di Jogja adalah tempat paling brutal sekaligus paling dirindukan buat belajar bersosialisasi. Mahasiswa rantau dipaksa kenal dan akrab dengan anak sebelah kamar. Alasannya sepele, antara harus antre mandi atau sekadar pinjam korek api.

Sekarang, kos eksklusif hadir memutus rantai silaturahmi itu lewat fasilitas kamar mandi dalam dan jasa layanan antar yang mengirim makanan sampai ke depan daun pintu. Hasilnya, seseorang bisa mendekam bertahun-tahun di satu gedung tanpa tahu siapa nama manusia di balik tembok sebelahnya. Budaya srawung yang merupakan fondasi Jogja pun tumbang, digantikan oleh individualisme yang dingin.

BACA JUGA: Fenomena Kos LV di Jogja, Dicari karena Bebas Bawa Pacar

Lahirnya kasta sosial baru di tengah kampung Jogja

Kos eksklusif bukan sekadar tempat menaruh raga, melainkan representasi status sosial. Bangunan-bangunan ini sering kali berdiri mencolok dengan karakter modern minimalis di tengah pemukiman warga yang bersahaja. Gayanya tentu berbeda dari kebanyakan rumah di sekitarnya.

Seolah, arsitektur kos tersebut ingin mendeklarasikan jurang strata penghuninya di tengah masyarakat. Jelas, situasi ini menciptakan jarak psikologis yang lebar antara mahasiswa pendatang dan penduduk asli. Mahasiswa nggak lagi merasa sebagai bagian dari denyut nadi kampung, melainkan hanya sebagai tamu premium yang menyewa ruang privat tak tersentuh oleh sapaan warga.

Keramahan punya label harga yang harus dibayar per bulan

Ada pergeseran makna dalam kata ramah di ekosistem kos eksklusif. Di kos-kosan model lama, ibu kos adalah orang tua ke dua. Sosok yang kadang galak dan hobi mengomel, tapi peduli kalau ada anak kos yang sakit atau pulang lewat tengah malam.

Baca Juga:

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

Di kos eksklusif, keramahan dikelola secara korporat oleh manajemen profesional atau penjaga yang tugasnya cuma memastikan penyewa bayar tepat waktu. Hubungan emosional yang tulus digantikan oleh relasi transaksional yang kaku. Jogja yang katanya istimewa karena manusianya, kini mulai terasa biasa saja karena semuanya sudah dikemas dengan paket harga.

BACA JUGA: Mendalami Fakta di Balik Bisnis Kos di Jogja, Bisnis yang Katanya Bikin Kaya, padahal Nunggu Balik Modalnya Bisa Satu Generasi Lewat

Tuan rumah yang terasing di tanah sendiri

Inilah puncak komedi getir yang terbentuk dari eksistensi kos eksklusif di Kota Gudeg. Pembangunan kos eksklusif sangat masif satu dasawarsa ini. Hampir di setiap sudut Jalan Kaliurang, Seturan, hingga Palagan, hunian mentereng tersebut ada. Sedihnya, kehadiran kos eksklusif ini turut memicu kenaikan harga tanah dan kebutuhan pokok di sekitarnya.

Warung kelontong warga yang dulu murah, pelan-pelan berubah jadi minimarket atau kafe estetik. Dalihnya, untuk menyesuaikan daya beli penghuni kos mewah tersebut. Warga lokal akhirnya terhimpit. Mereka tinggal di Jogja, tapi nggak lagi mampu membeli barang-barang di lingkungan mereka sendiri karena harganya sudah dipatok untuk standar anak kos sultan.

Mari jujur, Jogja memang sedang nggak baik-baik saja di bawah kepungan beton kos eksklusif. Silakan saja terus jualan rindu dan romantisasi. Tapi jangan lupakan, tembok-tembok tinggi tadi adalah bukti bahwa kehangatan yang dulu dibanggakan sebagai identitas Kota Pelajar, pelan-pelan sedang digeser oleh transaksi dingin yang kurang ajar.

Memilih kos mewah memang hak asasi setiap orang yang punya saldo rekening nggak berseri. Namun ketika sebuah kota mulai kehilangan ruang untuk mereka yang sederhana, di situlah keistimewaannya patut dipertanyakan. Jogja mungkin masih tetap istimewa. Akan tetapi, sayangnya, hari ini keistimewaan itu hanya bisa dinikmati oleh mereka yang sanggup membayar tagihan bulanan dengan angka nol super panjang.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bebas dan Nyaman, Kos Eksklusif Menjamur di Jogja, Kaum Mendang-mending Minggir Dulu

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2026 oleh

Tags: harga kos eksklusif di jogjaJogjakos eksklusif di jogjakos lv di jogja
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

Mahasiswa doktoral UNDIP jurusan Manajemen Pemasaran asal Semarang.

ArtikelTerkait

Mencari Toko Buku di Banyuwangi seperti Jarum di Tumpukan Jerami, Sulit! Mojok.co

Mencari Toko Buku di Banyuwangi seperti Jarum di Tumpukan Jerami, Sulit!

5 November 2023
Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo! UMP Jogja, gaji Jogja, frugal living ump jogja yogyakarta, bandung

Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo!

22 November 2023
Jalan Wonosari-Pakis, Jalan Alternatif bagi Kalian yang Muak dengan Kemacetan Jalan Solo-Jogja

Jalan Wonosari-Pakis, Jalan Alternatif bagi Kalian yang Muak dengan Kemacetan Jalan Solo-Jogja

20 Oktober 2023
Apakah Ternyata Pemkot Jogja Membenci Malioboro? (Pexels)

Apakah Pemkot Jogja Ternyata Membenci Malioboro Setelah Menetapkan Denda 7,5 Juta untuk Perokok, tapi Fasilitas Publik Lainnya Bebas Denda?

15 Januari 2025
Warung Makan Legendaris di Jogja yang Sudah Ada Sejak Sebelum Indonesia Merdeka

Warung Makan Legendaris di Jogja yang Sudah Ada Sejak Sebelum Indonesia Merdeka

23 Oktober 2022
UNY yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Tidak Lagi Jadi Kampus Merakyat seperti yang Selama Ini Diromantisasi Mojok.co

UNY yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Tidak Lagi Kampus Merakyat seperti yang Selama Ini Diromantisasi

20 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
13 Kosakata Bahasa Madura yang "Menjebak” dan Perlu Diperhatikan Pendatang yang Baru Belajar Mojok.co

13 Kosakata Bahasa Madura Paling “Menjebak” dan Perlu Diperhatikan Pendatang yang Baru Belajar

9 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Dicap Hobi Kuno, Bikin Kue Jadi Jalan Gen Z Jakarta Tetap Waras dari Beban Kerja Usai Ibu Tiada
  • Usia 30 Belum Punya Rp100 Juta Pertama: Nasib Sandwich Generation, Gaji Ludes di Tengah Bulan Tanpa Sempat Dinikmati, dan Tetap Dinyinyiri
  • Sesal Kerja Jadi Wartawan, Label Profesi Keren tapi Realitasnya Jadi Gembel dan Simbol Anak Gagal di Keluarga
  • Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa
  • Lulusan S2 di Jogja Memilih Jadi “Kicau Mania” karena Susah Dapat Kerja, Memelihara Burung Obat Stres Terbaik Saat Nganggur
  • Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.